Minggu, 10 April 2011

Rumah Maya

Berawal dari facebook baruku
Kau datang dengan cara tiba-tiba
Bekas kekasih yang lama hilang
Satu dari kekasih yang terbaik

Mungkin waktu yang ku persalahkan
Mungkin saja keadaan yang salah

( G I G I )

Dunia maya memang selalu menyajikan "petualangan' fantastis nan eksotis.  Fantastis lantaran saya menemukan “dunia lain” yang serba misterius dan selalu di luar dugaan. Eksotis lantaran kenyataan-kenyataan yang saya temukan di “dunia lain” itu tampak unik dan sangat jauh berbeda dengan dunia realitas yang saya hadapi dalam kehidupan sehari-hari. Tentu saja kadar kefantastisan dan keeksotisannya jauh berbeda dengan Luna Maya yang secara kebetulan pernah tenar juga di dunia maya lewat video 'iseng' yang mirip dirinya sodara-sodara sekalian..


Rumah maya dalam pandangan awam saya, sejatinya merupakan sebuah media virtual yang bisa dimanfaatkan sejauh mungkin untuk menemukan “branding identitas” di tengah belantara media virtual lain yang makin beragam dan variatif. Di ruang maya ini saya bebas mengekspresikan pemikiran-pemikiran kreatif yang menyesak di kepala dalam upaya mematenkan "branding identitas" tersebut di sebuah perkampungan global bernama jejaring sosial.

Dengan kedinamisannya ranah maya menawarkan sejuta pesona informasi, panorama ilmu, ataupun keelokan daya nalar dan intelektualitas para penghuninya. Tak heran melihat saya, kamu, dia dan mereka rela menggadaikan waktu berjam-jam hanya untuk menelusuri tiap lekuk keindahan penjelajahan di dunia maya ini dengan berbagai alasan persepsi subyektif masing-masing dari kita. Di sini kita bebas berkespresi menguji sampai dimana batas daya kreatifitas dan keluasan teras imaji masing-masing, tak ada aturan tertulis yang bersifat mengikat dan memaksa layaknya hukum di "dunia nyata" terkecuali mungkin hukum di Indonesia yang terkenal longgar serta fleksibel dengan syarat dan ketentuan berlaku layaknya iklan operator seluler. Hanya mungkin ada norma-norma atau etika tidak tertulis tentang sopan santun dalam bersosialisasi di dunia maya ini yang baik buruknya menjadi konsekuensi terhadap "branding identitas" kita sendiri di media virtual tersebut.

Tak ada yang meragukan peran keterlibatan jejaring sosial dalam kemengan Barrack Obama presiden kulit hitam pertama di negara adi kuasa Amerika Serikat, lihat bagaimana You Tube mengorbitkan seorang anak ingusan bernama Justin Bieber yang kemudian menghentak dunia musik internasional dan sekarang sedang membuat masyarakat Indonesia saling sikut dan gontok-gontokkan hanya untuk selembar tiket konsernya, di negara kita sendiri tak ketinggalan belum habis euforia keong racun ala Sinta dan Jojo muncul Sualudin dengan lagu Udin Sedunianya yang lumayan lucu sedikit aneh dan lebih banyak noraknya. Belum juga usai keterkejutan publik dengan aksi panggung Sualudin yang narsis abis dunia maya kembali diguncang oleh seorang anggota kesatuan Brimob Gorontalo bernama Briptu Norman 'Khan' dengan aksi lipsing Caiya Caiya-nya yang gokil dan menggila menghentak persepsi agitatif publik di seluruh lapisan masyarakat dari kelas tukang ojek sampai Kapolri dari Tukul Arwana sampai Vino G Bastian. Tampang boleh sangar tapi hati ternyata bak burung camar brader. Seperti itulah bukti bahwa betapa gelegar people power dapat dengan mudahnya dibangkitkan oleh magnet media virtual di era kekinian.

Fenomenal...itulah kata yang layak buat mereka hasil dari akumulasi sebuah kreatifitas, sedikit keberuntungan,  kemajuan Iptek, hingar-bingar media yang semakin hiperbolis dalam pemberitaan, dan kelabilan psikologis bangsa kesemuanya adalah faktor kunci yang bersinergi menghasilkan sebuah popularitas ketika fanatisme publik berhasil mereka kantungi dengan sempurna. Semuanya sah-sah saja asal jangan seperti seorang oknum anggota wakil rakyat di senayan yang kedapatan membuka konten video porno ketika sidang berlangsung yang ironisnya masih lekang ingatan publik ketika beberapa bulan lalu Menkominfo yang notabene berbasiskan bendera partai yang sama dengannya begitu gahar berteriak-teriak untuk memerangi akses situs porno di negeri ini. Alangkah lucunya negeri ini kawan...

Sungguh dunia maya semakin menampakkan cengkeramannya pada seluruh sendi pranata kehidupan bangsa khususnya dimensi humanis dan sosialis kemasyarakatan, tinggal bagaimana kita mengemudikan kenderaan media virtual ini dengan baik agar kita tidak tersesat dan salah arah kawan...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar