Perkara hidup adalah semacam rangkaian tali, berpaut satu sama lain yang terus sambung menyambung hingga membuat sebuah ikatan kuat. Bak besi yang tak bisa dipatahkan dan luwes laksana air yang mengalir tanpa mampu dicegah. Kerangkeng waktu menempa setiap insan manusia dengan tangis dan tawa, miskin dan kaya,sakit dan susah. Semua silih berganti. Setiap masa ada orangnya dan setiap orang ada masanya.
Pengalaman membuat kita mampu memilih dan memilah, mengambil dan memberi serta tahu awal dan akhir. Semua melalu proses mulai dari kecil ke besar, bodoh ke pandai dan seterusnya. Seperti itulah tirani kehidupan manusia...menurut saya ndak ada di dunia ini yang instan selain indomie instan, semuanya harus berproses.
Namun dalam alam ini, ada pula beberapa hal yang tidak dapat dicerna oleh akal dari otak manusia. Tidak bisa dilogikakan dan difilosofikan oleh ahli-ahli sekaliber Socrates atau Mario Teguh sekalipun. Bahwa keajaiban itu memang ada. Kalau dialami oleh Nabi namanya Mukjizat, orang alim bernama Kharamah dan orang awam bernama ma'unah. Maka berbekal keajaiban bernama ma'unah tersebut lahirlah selebritis-selebritis dadakan di jagad hiburan tanah air mulai dari Shinta n Jojo, Norman Kamaru hingga Ayu Ting-Ting yang entah berasal dari negeri antah berantah mana hingga nyaris tak pernah terdeteksi oleh radar infotainment sebelumnya. Ibarat bayi mereka tidak melalui proses tengkurap, merangkak, duduk dan berjalan tapi langsung berlari.
Bila mereka adalah selebritis di dunia realitas maka ada pula salah seorang figur yang sedang menjadi selebritas di dunia maya. Hanya bedanya bila trio nama di atas merasakan nikmat atas ke-selebritisan-nya maka figur yang satu ini lebih merasakan kiamat merongrong hidupnya.
Dialah Laode Bahiruddin yang entah kenapa merubah namanya secara semena-mena menjadi Bahic biar lebih bernuansa Eropa Timur katanya. Selanjutnya... Siapkan combantrin di saku anda untuk meneruskan membaca tulisan ini
Siapa sebenarnya Bahi ini? Ada apa dengan Bahi ??
Mengapa dia bisa menjadi begitu tenar di dunia maya? Mengapa banyak kaum hawa yang begitu mengidolakannya di fb?mengapa fotonya yang diunggah untuk pertama kalinya di fb bisa menghadirkan 178 komentar??
Atas desakan dari fansnya dan beberapa pihak terpaksa dengan tanpa keikhlasan saya mencoba memprofilkannya.
Bahi...
Nama yang unik dan renyah untuk dijadikan cemilan hewan ternak.
Wajah dan nasibnya sama-sama kurang beruntung. Wajah yang sekali pandang maka setiap orang pasti keluar dengan kesimpulan yang sama bahwa "Bila ingin menanyakan alamat jangan tanyakan padanya, karena dia pasti tidak tahu"
Dandanannya selalu necis meski dipandang dari sudut pandang/angle manapun lebih terlihat sebagai sebuah ironi biologis atau lebih ilmiahnya lagi dapat dikatakan sebagai persekongkolan kolektif gen-gen jahat untuk lebih mendominasi.
Dalam posisi diam ia seperti patung yang diukir pemahat pemula yang kecewa dengan hasil pahatannya yang tidak berbentuk. Terlalu memalukan untuk dibawa ke galeri.
Posturnya sempit, sesempit pikirannya tentang hidup, menurutnya ia tidak punya cita-cita, hanya ingin menjadi air yang mengalir menuju hulu, di mana terhentinya maka di sanalah ia berusaha untuk hidup menantang dunia dengan otak, otot dan hati yang sialnya ketiga properti miliknya tersebut berukuran lebih minimalis dibanding spesies manusia normal lainnya.
Saya sempat terpikr bahwa mungkin saja sewaktu spesifikasi anak ini didesain di langit terjadi kesalahan sehingga tanpa sengaja otaknya tertukar dengan batu kali berlumut yang licin itulah sebabnya tak bisa dijadikan tempat berpijak oleh hal seremeh temeh apapun juga. Sudah terlalu banyak nasehat untuknya bahwa walaupun ekspresi wajahnya sering tidak manusiawi setidaknya ia dapat lebih manusiawi dalam berbicara dan bertindak. Sayangnya ia adalah tipikal manusia beo yang bisa bicara tapi ndak pernah tau apa yang ia bicarakan. Sehingga cenderung sulit untuk membedakan antara basa basi, sopan santun dan tak tau malu.
Konsekuensi moralnya dengan sangat terpaksa ia pun sering dijadikan objek penderita dalam setiap komunitas yang ia masuki. Apalagi ditambah dengan hobi anehnya untuk selalu beradu argumen, dia adalah maestronya dalam berlogika dan perang nalar tapi sayangnya itu hanya menurut versinya sendiri. Bila sedang memuntahkan pendapatnya tak ada yang dapat menghentikannya bahkan Amerika Serikat pun dapat ia cuekkan. Sepintas gaya bicaranya begitu menunjukkan kepongahan intelektual namun hanya sepintas karena semakin lama berargumen maka semakin nampak pula bahwa ia bukanlah seorang yang tepat untuk dijadikan sebagai pemisah antara kebenaran dan kekeliruan dalam berlogika, singkatnya ia lebih layak dikategorikan sebagai hama wereng dalam ilmu.
Dalam bertindak, moralnya hanya satu digit di bawah Hitler, saya sempat curiga mungkin saja anak ini adalah iblis penghuni neraka yang tersesat di bumi ketika sedang melakukan studi banding. Dalam menyelesaikan masalah dia sering menggunakan metode-metode purba yang jelas-jelas ia tidak bisa dikatakan mahir melakukannya. Rumus-rumus norma dan adab yang dipelajarinya selama 12 tahun pendidikan dasar entah beterbangan kemana, yang ia tahu cuman 2 hal bahwa pancasila itu ada 5 sila dan UUD 1945 itu memiliki PEMBUKAAN seperti ibu hamil. Aww aww, syahwat anak ini ternyata lebih laju daripada umurnya kawan.
Membahas tentang wanita di hadapannya memiliki resiko moral yang lumayan tinggi. Benar, bahwa tak ada seorang lelaki pun yang kuat bila sudah bicara tentang wanita bahkan Nabi yang merupakan insan mulia ciptaan Tuhan sekalipun apalagi manusia sekaliber La Bahi. Bicara tentang wanita di hadapannya akan mengubah situasi hikmat menjadi kiamat.
Perkara cinta adalah problem tertua dalam sejarah peradaban manusia, telah berlalu beberapa zaman, telah lewat masa beberapa umat, telah turun beberapa kitab suci, telah diutus beberapa nabi namun bahkan sekedar definisi cinta pun masih merupakan tanda tanya besar. Upaya La Bahi mengejar cinta ibaratnya seperti Rangga yang berusaha mengejar Cinta ke bandara dalam film AADC,
Ah perumpamaan ini terlalu romantis kawan... mungkin lebih tepatnya seperti Lutung Kasarung yang berusaha menculik putri kerajaan Padjajaran atau Kera Sakti dari Tiongkok yang berusaha mengawal biksu suci ke Timur atau dalam era kekinian seperti simpanse yang berusaha mengambil hati para turis bule di kebun Ragunanan.
Masalah wanita dan cinta adalah hal yang paling membuat La Bahi galauww maksimal, merasuk hingga ke sum-sum dihimpit oleh masa dan musim yang terus berganti. Sejak zaman La Bolontio ditikiam matanya oleh Sultan Murhum sampai dengan kasus penikaman di kantor Kejaksaan baru-baru ini belum pernah ada seorang pun wanita yang dapat ia taklukan.
Sebenarnya pernah ada seorang wanita di kampusnya yang sempat ia taksir, tinggi semampai 173 cm, berat badan 54 kg no sepatu 39, parasnya pantas untuk dirindukan rembulan karena di keningnya jelas terpancar mentari, senyum dan caranya memandang seolah dapat mampu membongkar segala isi hati, ibarat ganja dari Cina, wajahnya bikin angan ketagihan, senyumnya memiringkan otak 60 derajat ke kiri, tawanya menyayat-nyayat mimpi. Wanita ini adalah teman seangkatan La Bahi di fakultas yang sama. Cerdas bukan kepalang, tajam logikanya bak samurai, kecepatan daya tangkapnya sudah secepat pesawat antariksa yang tergesa-gesa ke bulan. Primadona kampus sekaligus kapten tim Cheerleader yang dapat membangkitkan semangat sekaligus syahwat. Dialah bunga Edelweis yang tumbuh dalam semak pengunungan dingin yang abadi dalam keindahan. Hanya dapat membuat La Bahi menghela nafas panjang yang hampir lupa ia hirup setiap kali menatap wanita tersebut.
Bandingkan dengan La Bahi tinggi 170 cm, berat badan dan no sepatu sama-sama 40, parasnya pantas untuk dirindukan api neraka karena di keningnya jelas terpancar mata Dajjal, senyum dan caranya memandang seolah dapat memualkan seisi perut, ibarat daun Sambiroto yang pahitnya bikin lidah, tenggorokan dan isi perut berteriak-teriak minta keluar. Dialah bunga bangkai yang tumbuh dekat selokan mampet di musim hujan. Inilah yang dikatakan pepatah punuk terkutuk merindukan bulan purnama di langit ke tujuh.
"Akan kudaki langit biru ini, akan kugali bumi ini andai ia pinta" sesumbar La Bahi pada teman-temannya. Sudah berbagai daya, upaya dan sumber daya dikeluarkan La Bahi untuk memikat hati bunga Edelweisnya ini namun semakin ia berusaha semakin ia kecewa dalam hatinya, lelah dalam dukanya dan letih dalam jiwanya. Mulai dari menulis surat cinta dari hati yang tulus puitis nan romantis namun kesalahannya hanya satu, yaitu ketika menulis tak ada intervensi sama sekali dari otaknya. Sampai pada menyanyikan lagu-lagu favorit sang pujaan hati di depan jendela kamarnya yang pada akhirnya lebih terdengar sebagai orkestra simfoni Erwin Gutawa namun dilantunkan serampangan oleh sekelompok nenek-nenek nyaris ompong yang memakai behel (kawat gigi). Siang dan malam ia tafakur dalam sujud dan do'anya memohon uluran tangan keajaiban dari Tuhan untuk membuka pintu hati gadis itu namun do'a tersebut tak kunjung menembus langit hanya berputar-putar di sekeliling plafon kamarnya.
Pada akhirnya La Bahi berdamai dengan cermin dan takdir. Sekarang dia lebih realistis dalam memandang kehidupan ia yakin bahwa masa depan tidak harus ada keajaiban yang dibutuhkan adalah tentang kesempatan, logika sosial, nasib dan sedikit keberuntungan. Kali ini memang dia sedang tidak beruntung, menurut dia kampus memang tempat tersuci untuk mengejar cita-cita namun sekaligus tempat terjorok untuk mengejar cinta. Alibi irasional dari orang patah hati pada umumnya.
Ke-realistis-annya dalam memandang hidup ditunjukkan dengan setiap hari mencegat setiap pegawai kantor pos yang ditemuinya. Ketika saya tanya alasannya, ia menjawab bahwa sedang menunggu surat penting. Surat penting dari Gubernur yang isinya memintanya jadi PNS menduduki jabatan struktural penting dan akan dijodohkan dengan anak semata wayangnya.#gubrakkk...
Tak ayal Bahi pun menjadi sebuah fenomena alam di dunia maya, liat saja fotonya di atas apa yang anda pikirkan jika tiba-tiba angin kencang lewat di daerah itu, bila anda membayangkan bahwa ia akan jatuh bedentum ke bawah maka anda salah besar karena hukum gravitasi tidak berlaku padanya, hukum fisikanya ia akan mengalami gerak potensial mekanik jatuh tegak lurus ke bawah namun kenyataannya ia akan melayang-layang bebas di udara, bisa saja dia akhirnya mendarat di Pulau Makassar. Bila komodo sampai dinobatkan menjadi keajaiban dunia nyata maka Bahi sangat pantas untuk dijadikan pula keajaiban di dunia maya. Soal apakah ada hubungan kedua spesies ini dalam taksonomi Bloom biarkan logika biologi yang menjawabnya. Yang jelas Bahi adalah simbol keajaiban dunia Maya yang tak terbantahkan..
Hukum kausalitas memang berhipotesa tentang sebab akibat, sunatullah.. Namun selalu ada bias dan deviasi dari hukum-hukum alam dan sosial tersebut. Hal tersebutlah yang disebut sebagai sebuah keajaiban, bukti shahih tak terbantahkan dan tak terbuktikan secara logika dan keilmuan oleh para ilmuwan serta filsuf bahwa Sang Maha itu memang ada. Mempertebal keimanan, mengukuhkan keyakinan. dan mengikis ego manusiawi bahwa ada kekuatan megakosmik yang mengatur segala peristiwa dari tingkat atom di dasar kerak bumi hingga lapisan terluar atmosfer bumi. Hidup ini sudah ada patronnya kita manusia tinggal mengikutinya...
Pesan moralnya :
Jangan terlalu sering menatap bidadari bila tak ingin kecewa kawan...
Pantaskanlah dirimu terlebih dahulu baru kemudian berharap untuk mendapat cinta yang pantas dari orang yang pantas...cinta memang kejam kawan tapi tak pula harus sedramatisir sinetron " Putri yang Ditukar"
Jangan terlalu sering menonton drama Korea, karena kisah cinta tak selamanya berakhir dengan duka...
Wassalam
Sabtu, 07 April 2012
Bang Rhoma dan Ayu Ting Ting tentang Sumpah Pemuda
Kalau tidak salah ingat baru seminggu yang lalu kita memperingati hari lahirnya Sumpah Pemuda.
Hari yang sangat bersejarah dalam hikayat tercetusnya NKRI sebagai satu kesatuan, lahir dari sebuah keseragaman visi bahwa sudah saatnya perjuangan tidak melulu menggunakan otot tapi juga harus dengan otak sejalan dengan upaya penolakan terhadap segala bentuk penjajahan, rasa senasib, sepenanggungan dan sependeritaan yang kemudian menjadi embrio lahirnya para cendekiawan muda kaum cerdik pandai untuk nantinya menetaskan para generasi muda yang berada di garda terdepan dalam peristiwa monumental bernama proklamasi kemerdekaan RI.
Ironis dan miris dengan hati yang teriris melihat para kawula muda dewasa ini justru mencabik-cabik semangat persatuan dan perjuangan intelektualitas yang 83 tahun lalu digaungkan oleh pendahulu mereka.
Mereka generasi yang menjadi penerus tongkat estafet kemerdekaan hari ini begitu mudahnya mendiversifikasikan diri hanya karena perbedaan-perbedaan berbau SARA, perbedaan almamater, perbedaan pandangan berpolitik praktis, hingga perbedaan lorong/gang atau perbedaan tim sepakbola favorit dan segala bentuk perbedaan-perbedaan sepele remeh temeh lainnya yang tak jarang berujung adu fisik atau tawuran massal. Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa ibu pertiwi pun mulai sepi peminat di kalangan remaja kalah pamor oleh bahasa alay bin geoul ala ABG. Sebuah bahasa yang entah lahir dari negeri antah berantah mana yang jelas bahasa tersebut hanya mampu dimengerti oleh kalangan mereka sendiri dan Tuhannya. Di luar konteks di atas fenomena kenakalan remaja tersebut masih diperparah lagi dengan melegendanya penyalahgunaan narkoba serta seks bebas dalam hingar bingar dunia mereka yang gegap gempita dalam beberapa tahun terakhir. Naudzubillah...
Upacara peringatan yang dilakukan tahun ini mungkin saja masih sama dengan apa yang dilakukan para pemuda di tahun-tahun sebelumnya namun kenyataannya semakin jauh kita dari era kemerdekaan maka semakin tergerus saja spirit ke-Bhinneka Tunggal Ika-an kita sebagai sebuah bangsa.
Spirit itu seolah memfosil bersama tulang belulang para pemuda pemudi pejuang kemerdekaan.
Sebagai pemuda yang juga menjadi bagian dari negara ini, negara yang sangat begitu teramat banget mencintai dan menghargai sejarah masa silamnya saya ingin mengajak kita semua mari untuk tidak amnesia sejarah secara berjama'ah,
Namun ada baiknya pula mari kita tidak menjadi pendekar mata satu yang hanya melhat sebuah fenomena dari satu sudut pandang saja. Tidak serta merta menylematkan stempel tersangka sepenuhnya pada mereka para kawula muda. Sebab jauh-jauh hari sebelumnya bang H. Rhoma Irama telah mewanti-wanti khalayak ramai akan hal ini bahwa "masa muda adalah masa yang berapi-api, maunya menang sendiri, selalu merasa gagah, Walau salah tak perduli Biasanya para remaja Berpikirnya sekali saja Tanpa menghiraukan akibatnya Wahai kawan para remaja Waspadalah dalam melangkah !!! '" dan seterusnya..tarik maaanggg....Tak bisa dipungkiri bahwa masa remaja adalah salah satu masa paling labil dalam fase kehidupan setiap manusia sehingga sangat dibutuhkan perhatian dan pengawasan ekstra dari para keluarga dan orang tua untuk memastikan mereka berada di jalur yang tepat. Harus pula diakui banyak faktor yang mempengaruhi fenomena degradasi moral dan akhlak para remaja pemuda pemudi saat ini dan yang sering kita tidak sadari bahwa selain faktor gagalnya kontrol keluarga dalam hal ini orang tua juga ada andil dari pemerintah sendiri. Yah tepat sekali..PEMERINTAH...
Pemerintah yang semakin tidak kreatif menjalankan fungsinya sebagai pengayom sekaligus stabilisator, mediator ataupun katalisator dari harapan-harapan rakyatnya. Mereka terlalu disibukkan segala tetek bengek urusan politik yang sikut kiri sikut kanan tanduk atas injak bawah, masalah korupsi dan diskusi-diskusi panas tentang kebijakan-kebijakan kontroversial yang dalam bahasa halusnya sebenarnya hanyalah jalan pintas atau alternatif untuk menghabiskan pos-pos anggaran yang ada atau juga sebuah upaya memetakan dan memperkuat basis kekuatan politik mereka dalam parlemen / pemerintahan. Sehingga segala bentuk anomali dari kekisruhan dunia muda mudi sejatinya merupakan aksi protes kelompok minor sosial atas kekejian struktur elit sosial di atasnya. Mereka merasa dicuekkan, tidak diberi peran apa-apa, tidak difasilitasi untuk ikut serta dalam membangun negara ini, tidak merasakan sedikitpun janji-janji kesejahteraan yang diobralkan setiap 5 tahun itu. Singkatnya darah muda dan lecutan setiap desiran aliran adrenalin mereka yang berapi-api tidak memperoleh ruang selayaknya yang harusnya menjadi hak mereka. Maka tak usah heran sejumlah perilaku negatif menjadi katarsis dari rasa frustasi mereka sendiri. Sprit jiwa muda mereka yang enerjik seringkali salah alamat bukan karena alamat palsu tapi salah alamat ke perilaku negatif yang menyimpang akibat malfungsinya pemerintah sebagai mediator, fasilisator, dan katalisator. Sudah menjadi titah dari arus adrenalin darah muda yang memompa dengan kuatnya untuk mencari dimana..dimana..dimana jatidiri mereka yang sebenarnya.
Lihat karang taruna tak lebih hanyalah sebuah emblem pelengkap sturktur organisasi di kelurahan, remaja mesjid tak mendapat apresiasi apa-apa selain stigma sebagai penjaga mesjid, program pendidikan gratis tak pernah menjadi benar-benar gratis pada prakteknya, lapangan pekerjaan yang minim sehingga mencari pekerjaan saat ini selayaknya mencari sehelai jerami dalam tumpukan jerami, di sektor olahraga para insan muda praktis mulai tidak punya lagi sosok yang diidolakan melihat mandeknya prestasi kita bahkan untuk cabang-cabang olahraga yang banyak diminati seperti sepakbola dan bulutangkis, Lemari PSSI dan PBSI seperti sudah terlalu lama terkunci rapat nir gelar tanpa adanya tambahan piala atau medali. Proses regenerasi yang payah dan iklim kompetisi yang inkonsisten, tidak merata serta berkesinambungan tak pelak menjadi sebab klasik prestasi olahraga kita tidak hanya berjalan di tempat tapi kini mulai berjalan mundur dengan tertatih-tatih.
Oleh karena itu ke depannya kita butuh pemimpin berjiwa muda yang mampu mengerti dan mengayomi generasi muda bangsa ini yang merupakan wajah masa depan Indonesia. Pemimpin yang berkarakter, energik dalam melangkah serta tegas mengambil kebijakan, pemimpin yang isi kepalanya selalu tentang bagaimana membangun negeri ini, dengan resiko-resiko benturan politik sekalipun.
Sungguh kita tidak butuh pemimpin yang hobi membuat pidato kenegaraan dengan kalimat-kalimat bersayap tebal, kita tidak butuh pemimpin yang plin plan selalu bermain aman dengan berbagai pertimbangan pribadi, pencitraan diri dan kepentingan basis partainya. Pendeknya, kita tidak butuh pemimpin dengan sosok pesolek, mirip Ayu Ting Ting, yang begitu sibuk dengan urusan jerawat di dahinya, sehingga lupa bahwa di sekitarnya terdapat jutaan mulut yang lapar akibat ulahnya. Wallahu'alam...
"Dalam perjalanan mendaki, di lereng bimbang para pengeluh dan yang cuma ikut-ikutanan memilih jalan lain, yang menurun. Dan yang ingin membuktikan bahwa di puncak sesungguhnya adalah juga terasa datar, terus mendaki. Itulah seleksi alam. Burung-burung tak ada yang terus menerus terbang. Bumi terus berputar, matahari tak henti membakar dirinya sendiri. Lalu ke manakah manusia berjalan mencari dirinya sendiri? "
Hari yang sangat bersejarah dalam hikayat tercetusnya NKRI sebagai satu kesatuan, lahir dari sebuah keseragaman visi bahwa sudah saatnya perjuangan tidak melulu menggunakan otot tapi juga harus dengan otak sejalan dengan upaya penolakan terhadap segala bentuk penjajahan, rasa senasib, sepenanggungan dan sependeritaan yang kemudian menjadi embrio lahirnya para cendekiawan muda kaum cerdik pandai untuk nantinya menetaskan para generasi muda yang berada di garda terdepan dalam peristiwa monumental bernama proklamasi kemerdekaan RI.
Ironis dan miris dengan hati yang teriris melihat para kawula muda dewasa ini justru mencabik-cabik semangat persatuan dan perjuangan intelektualitas yang 83 tahun lalu digaungkan oleh pendahulu mereka.
Mereka generasi yang menjadi penerus tongkat estafet kemerdekaan hari ini begitu mudahnya mendiversifikasikan diri hanya karena perbedaan-perbedaan berbau SARA, perbedaan almamater, perbedaan pandangan berpolitik praktis, hingga perbedaan lorong/gang atau perbedaan tim sepakbola favorit dan segala bentuk perbedaan-perbedaan sepele remeh temeh lainnya yang tak jarang berujung adu fisik atau tawuran massal. Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa ibu pertiwi pun mulai sepi peminat di kalangan remaja kalah pamor oleh bahasa alay bin geoul ala ABG. Sebuah bahasa yang entah lahir dari negeri antah berantah mana yang jelas bahasa tersebut hanya mampu dimengerti oleh kalangan mereka sendiri dan Tuhannya. Di luar konteks di atas fenomena kenakalan remaja tersebut masih diperparah lagi dengan melegendanya penyalahgunaan narkoba serta seks bebas dalam hingar bingar dunia mereka yang gegap gempita dalam beberapa tahun terakhir. Naudzubillah...
Upacara peringatan yang dilakukan tahun ini mungkin saja masih sama dengan apa yang dilakukan para pemuda di tahun-tahun sebelumnya namun kenyataannya semakin jauh kita dari era kemerdekaan maka semakin tergerus saja spirit ke-Bhinneka Tunggal Ika-an kita sebagai sebuah bangsa.
Spirit itu seolah memfosil bersama tulang belulang para pemuda pemudi pejuang kemerdekaan.
Sebagai pemuda yang juga menjadi bagian dari negara ini, negara yang sangat begitu teramat banget mencintai dan menghargai sejarah masa silamnya saya ingin mengajak kita semua mari untuk tidak amnesia sejarah secara berjama'ah,
Namun ada baiknya pula mari kita tidak menjadi pendekar mata satu yang hanya melhat sebuah fenomena dari satu sudut pandang saja. Tidak serta merta menylematkan stempel tersangka sepenuhnya pada mereka para kawula muda. Sebab jauh-jauh hari sebelumnya bang H. Rhoma Irama telah mewanti-wanti khalayak ramai akan hal ini bahwa "masa muda adalah masa yang berapi-api, maunya menang sendiri, selalu merasa gagah, Walau salah tak perduli Biasanya para remaja Berpikirnya sekali saja Tanpa menghiraukan akibatnya Wahai kawan para remaja Waspadalah dalam melangkah !!! '" dan seterusnya..tarik maaanggg....Tak bisa dipungkiri bahwa masa remaja adalah salah satu masa paling labil dalam fase kehidupan setiap manusia sehingga sangat dibutuhkan perhatian dan pengawasan ekstra dari para keluarga dan orang tua untuk memastikan mereka berada di jalur yang tepat. Harus pula diakui banyak faktor yang mempengaruhi fenomena degradasi moral dan akhlak para remaja pemuda pemudi saat ini dan yang sering kita tidak sadari bahwa selain faktor gagalnya kontrol keluarga dalam hal ini orang tua juga ada andil dari pemerintah sendiri. Yah tepat sekali..PEMERINTAH...
Pemerintah yang semakin tidak kreatif menjalankan fungsinya sebagai pengayom sekaligus stabilisator, mediator ataupun katalisator dari harapan-harapan rakyatnya. Mereka terlalu disibukkan segala tetek bengek urusan politik yang sikut kiri sikut kanan tanduk atas injak bawah, masalah korupsi dan diskusi-diskusi panas tentang kebijakan-kebijakan kontroversial yang dalam bahasa halusnya sebenarnya hanyalah jalan pintas atau alternatif untuk menghabiskan pos-pos anggaran yang ada atau juga sebuah upaya memetakan dan memperkuat basis kekuatan politik mereka dalam parlemen / pemerintahan. Sehingga segala bentuk anomali dari kekisruhan dunia muda mudi sejatinya merupakan aksi protes kelompok minor sosial atas kekejian struktur elit sosial di atasnya. Mereka merasa dicuekkan, tidak diberi peran apa-apa, tidak difasilitasi untuk ikut serta dalam membangun negara ini, tidak merasakan sedikitpun janji-janji kesejahteraan yang diobralkan setiap 5 tahun itu. Singkatnya darah muda dan lecutan setiap desiran aliran adrenalin mereka yang berapi-api tidak memperoleh ruang selayaknya yang harusnya menjadi hak mereka. Maka tak usah heran sejumlah perilaku negatif menjadi katarsis dari rasa frustasi mereka sendiri. Sprit jiwa muda mereka yang enerjik seringkali salah alamat bukan karena alamat palsu tapi salah alamat ke perilaku negatif yang menyimpang akibat malfungsinya pemerintah sebagai mediator, fasilisator, dan katalisator. Sudah menjadi titah dari arus adrenalin darah muda yang memompa dengan kuatnya untuk mencari dimana..dimana..dimana jatidiri mereka yang sebenarnya.
Lihat karang taruna tak lebih hanyalah sebuah emblem pelengkap sturktur organisasi di kelurahan, remaja mesjid tak mendapat apresiasi apa-apa selain stigma sebagai penjaga mesjid, program pendidikan gratis tak pernah menjadi benar-benar gratis pada prakteknya, lapangan pekerjaan yang minim sehingga mencari pekerjaan saat ini selayaknya mencari sehelai jerami dalam tumpukan jerami, di sektor olahraga para insan muda praktis mulai tidak punya lagi sosok yang diidolakan melihat mandeknya prestasi kita bahkan untuk cabang-cabang olahraga yang banyak diminati seperti sepakbola dan bulutangkis, Lemari PSSI dan PBSI seperti sudah terlalu lama terkunci rapat nir gelar tanpa adanya tambahan piala atau medali. Proses regenerasi yang payah dan iklim kompetisi yang inkonsisten, tidak merata serta berkesinambungan tak pelak menjadi sebab klasik prestasi olahraga kita tidak hanya berjalan di tempat tapi kini mulai berjalan mundur dengan tertatih-tatih.
Oleh karena itu ke depannya kita butuh pemimpin berjiwa muda yang mampu mengerti dan mengayomi generasi muda bangsa ini yang merupakan wajah masa depan Indonesia. Pemimpin yang berkarakter, energik dalam melangkah serta tegas mengambil kebijakan, pemimpin yang isi kepalanya selalu tentang bagaimana membangun negeri ini, dengan resiko-resiko benturan politik sekalipun.
Sungguh kita tidak butuh pemimpin yang hobi membuat pidato kenegaraan dengan kalimat-kalimat bersayap tebal, kita tidak butuh pemimpin yang plin plan selalu bermain aman dengan berbagai pertimbangan pribadi, pencitraan diri dan kepentingan basis partainya. Pendeknya, kita tidak butuh pemimpin dengan sosok pesolek, mirip Ayu Ting Ting, yang begitu sibuk dengan urusan jerawat di dahinya, sehingga lupa bahwa di sekitarnya terdapat jutaan mulut yang lapar akibat ulahnya. Wallahu'alam...
"Dalam perjalanan mendaki, di lereng bimbang para pengeluh dan yang cuma ikut-ikutanan memilih jalan lain, yang menurun. Dan yang ingin membuktikan bahwa di puncak sesungguhnya adalah juga terasa datar, terus mendaki. Itulah seleksi alam. Burung-burung tak ada yang terus menerus terbang. Bumi terus berputar, matahari tak henti membakar dirinya sendiri. Lalu ke manakah manusia berjalan mencari dirinya sendiri? "
Cocoklogi vs Pengertian-isme
Seperti semangat persatuan Sumpah Pemuda yang lahir dari kecocokkan visi antara para pemuda pemudi Indonesia maka penyatuan hati dalam sebuah hubungan cinta pun menurut sebagian orang besar..oups salah, maksud saya menurut sebagian besar orang butuh yang namanya KECOCOKAN.
Ya, mencari kekasih, suami/istri, teman, guru, hingga sandal jepit, umumnya yang selalu menguasai otak kita adalah kata “kecocokan” yang sudah barang pasti meniscayakan tuntutan “kesempurnaan”, maka tak perlu heran bila sebagian besar dari Anda takkan pernah berhasil menemukan dan memilikinya.
"Kamu mau saja yah sama dia..dia itu pokoknya cowok sempurna deh idaman setiap wanita, kurang apalagi coba si dia-nya ..bayangnkan nih ..Ganteng??kurang,,Intelejensi??kurang,,,Berat badan??kurang...Uang??kurang...sopan santun??kurang...nah KURANG APA LAGI coba.." #gubrakk
Mencari sendal jepit sekalipun bisa gagal didapat. “Ini modelnya sudah bagus sih, tapi kok garis hitamnya kurang terang ya?” Atau, “Sayang sekali ini kok kurang tebal dikit, kurang tinggi setengah centi lagi…” Atau, “Bagus banget sih, elegan sekali, punya kesan mewah dan modelnya pun lagi trendy saat ini tapi kok harganya kurang mahal yah…”#gubrakk lagi sambil geleng-geleng kepala 3 kali ke kiri dan 5 kali ke kanan.. dll.
Sekali lagi, kurang!
Apalagi jika “kurang” ini diterapkan sebagai ukuran untuk menakar makhluk bernama manusia. Pasti akan se-tronton deh urusan kekurangan itu.
Di kepala kita, misalnya, tergambar jelas bahwa lelaki idaman itu punya rambut Mohawk tapi rapi, tampan rupawan, selalu wangi, punya banyak koleksi kaos modis Inter Milan, body atletis tinggi semampai dengan mobil Hammer Silver pabrikan terbaru, kalau berbicara selalu lembut, halus penuh sopan santun, ndak suka kopi, tidak merokok, serba tahu segala hal mulai urusan dunia sampai akhirat, bisa menjadi imam shalat dan ngaji sekaligus, punya tabungan untuk masa tua, selalu sedia mengantar kemanapun, selalu ingat tanggal ultah kita, serta siap ditempatkan di daerah mana saja dll.
Apa iya ada benar lelaki yang begitu, memenuhi semua kriteria yang sudah Anda buat, yang kalau diwujudkan dalam sebuah check list-nya bisa sampe lima halaman kuarto ketik satu spasi?
Demikian juga dalam hal mencari wanita.
Bila di kepala kita telah disematkan daftar kriteria panjang tentang wanita idaman, mulai dari rambut panjang, kulit putih, cantik menawan, rajin sikat gigi, modis kalau dandan, tidak lola (loading lambat), jago memasak, tubuh langsing selalu memenuhi permintaan kita, selalu sabar dan penurut bahkan diam saja kalau kita lagi iseng mau menganiayanya, maka di manakah itu akan ditemukan ya?
“Kurang, kurang, dan kurang!” Itulah virusnya.
Yakinlah, bila kata ini yang Anda pakai sebagai teropong untuk mendapatkan seseorang, maka Anda takkan pernah mendapatkannya! Never!
Lho, memangnya apa ndak ada lagi ya orang baik seperti itu di muka bumi ini? Bukankah wajar dan manusiawi kalau setiap kita menginginkan bisa mendapatkan pasangan yang terbaik?
Ya dong, wajar sekali memang, dan itu alamiah atau manusiawi bahkan sewajibnya digantungkan di langit cita-cita kita, bukan di jemuran! Karena ndak mungkinnyami kita mau cari pasangan yang buruk, jahat, kejam, keji, lalim, lebih dzalim dibanding Fir’aun itu? Haa, ya ndak bangetlah!!
Tapi, ingat, ada hal-hal prinsipil yang harus segera kita tanamkan di kepala kita sendiri.
(1) Ukuran mutu kebaikan itu sungguh sangat relatif, karenanya sesuatu yang baik bagi seseorang belum tentu dianggap baik oleh orang lain. Maka dengan sendirinya, di posisi ini, sebenarnya yang berlaku bukan lagi soal kebaikan dalam artian “hitam dan putih”, tetapi lebih pada “kenyamanan” buat diri Anda.
Boleh saja Anda punya cowok yang rajin sekali facial dan selalu pakai body lotion, selalu wangi, tapi jika ternyata itu membuat Anda kok merasa cowok Anda lebih feminis dibanding Anda dan itu menghadirkan rasa tak nyaman pada diri Anda, jelas itu bukan sesuatu yang baik dong, bukan sesuatu yang nyaman kan. So, sekali lagi, tekanannya adalah soal “nyaman atau tidaknya” Anda dengan seseorang itu.
(2) Sejatinya cinta itu bukan untuk mencari dan mendapatkan kecocokkan, karena kalau ini poinnya, yakinlah bahwa Anda takkan pernah menemukan kecocokan yang selalu mampu memenuhi setiap tarikan nafas Anda. Cinta yang berselimutkan “kehendak kecocokan” niscaya akan lebih sering mengecewakan, lantaran setiap orang telah terlahir, tumbuh, dan dewasa dalam ragam tata nilai dan cara pandang yang sangat berbeda-beda, sehingga apa yang “cocok baginya” sungguh belum tentu “cocok bagi Anda”.
Lihat fenomena di kalangan para artis saat menggelar konfrensi pers mengumumkan hubungan mereka atau rencana mereka ke jenjang yang lebih serius selalu dihiasi dengan kata-kata mutiara penuh senyum sumringah "Yah kami berdua merasa cocok satu sama lain dan saling melengkapi kekurangan masing-maisng" namun setelah beberapa bulan menikah dengan berlinang air mata kalimat-kalimat itu bermetemorfosis menjadi "sudah tidak ada kecocokkan lagi di antara kami" atau "kami sudah tidak sepaham lagi" begitu derasnya mengalir dilontarkan seperti seseorang yang menderita amnesia. Lalu apakah kecocokan itu adalah sesuatu yang bisa hilang timbul, datang dan pergi begitu saja kawan?? nyatanya kecocokkan itu tidak dicari tapi dibentuk.
Benturan “cocok baginya” dengan “cocok bagi Anda” inilah sesungguhnya biang kerok segala bentuk pertikaian yang akan memicu ketaknyamanan. So, jangan terbalik, rasa tak nyaman sama sekali bukan dipicu oleh perbedaan-perbedaan pribadi, tetapi selalu disebabkan oleh “tuntutan untuk cocok baginya” atau “tuntutan untuk cocok bagi Anda”.
Sebagai bukti, coba Anda ingat ulang, benturan Anda dengan kekasih atau teman Anda selama ini yang memicu rasa tak nyaman pasti bukan karena Anda berbeda dengan kekasih atau sahabat Anda kan, tetapi lantaran Anda atau kekasih atau teman Anda “menuntut untuk cocok” dengan ukuran kecocokkannya masing-masing.
Perbedaan adalah kodrat, hukum alam, sunnatullah, sehingga tidak perlulah kita berharap mampu mengubah hal-hal yang sifatnya kodrati itu. Justru hal yang jauh lebih penting bagi kita semua sekarang adalah mengubah mind set dengan tegas: “Bukan mencari kecocokan, bukan menuntut pengertian, tetapi memberikan pengertian”.
Ya, memberikan pengertian!
Berbeda jauh dengan “karakter kecocokan” yang selalu menuntut kesempurnaan dan kesamaan dengan keinginan Anda sendiri, pengertian akan selalu mendorong Anda untuk mampu memahami bahwa pasangan atau kekasih Anda memang tidak sama dengan diri Anda. Ia adalah manusia utuh sendiri, dengan latar budaya, keluarga, pendidikan, pergaulan, hingga world view-nya sendiri, sebagaimana diri Anda sebagai manusia utuh sendiri, yang memiliki latar budaya, keluarga, pendidikan, pergaulan, hingga world view sendiri.
Dan ingatlah bahwa perbedaan-perbedaan itu hanya akan bisa dipersatukan dalam sebuah sangkar emas yang mempesona, entah itu pacaran, pernikahan, atau persahabatan, bila diberi minum dan pakan bernama pengertian. Serta camkan baik-baik dalam belukar otak Anda bahwa cocok tak selalu berarti harus sama.
Anda mengerti bahwa pasangan Anda kurang menganggap penting untuk mengingat dan memberi kado pada hari ultah Anda, maka tidak perlulah Anda kemudian marah karena merasa kurang diperhatikan, kurang disayang, atau bahkan menuduh tidak cinta lagi kepada pasangan Anda. Semestinya Anda mau mengerti pandangannya tersebut lantaran sungguh kado ultah sama sekali tidak bisa dijadikan simbol mutlak untuk mengukur masih cinta atau tidak.
Misal lagi, Anda paham bahwa kekasih Anda punya kebiasaan marah-marah nda jelas bila ada sesuatu yang kurang berkenan di hatinya terlepas dia sedang datang bulan atau tidak, dengan menggunakan gesture dan kata-kata yang bertentangan dengan keinginan aslinya, maka tentu Anda harus mau mengerti bahwa kalimatnya, “Ya sudah, turunkan saya di lampu merah depan coto gagak situ saja…!” tidak dimaksudkan agar Anda menurunkannya betulan, tetapi sekadar ekspresi ketidaksukaannya dan Anda bertugas untuk menenangkannya, mungkin dengan sekadar sentuhan atau rayuan kecil saja.
Ya, hubungan dengan orang lain, apa pun bentuknya, rumusnya memang selalu memerlukan “asas pengertian”, bukan “asas cocok atau tidak cocok” dengan Anda. Jangan dibalik ya!
Pegang selalu, bila Anda mengedepankan “asas cocok atau tidak cocok”, pasti Anda takkan pernah mampu membangun sikap pengertian padanya. Dampaknya kemudian hanya akan memicu pertikaian, konflik, ketaknyamanan, lalu bubrah semua!
Tetapi bila Anda mengedepankan “asas pengertian”, maka segala perbedaan yang timbul, sekalipun itu secara sporadis kadang memuncratkan rasa tak nyaman pada diri Anda, akan mampu terendam dalam kulkas pengertian itu, sehingga hubungan pun akan menjadi bisa diadem ayemkan dengan segera, didinginkan, dan tak perlu meledak laksana kompor gas elpiji 5 kg.
Jika Anda sudah berhasil memahami rumus ini, maka sekarang tugas besar Anda semua adalah: “Memampukan diri untuk membangun keluasan pengertian seluas-luasnya”.
Semakin luas kemampuan Anda meluaskan pengertian kepada pasangan Anda, maka akan semakin nyamanlah Anda dengannya. Dan, bukankah rasa ini yang sebenarnya selalu Anda cari dalam setiap hubungan?
Sebaliknya, semakin Anda egois dan kikir untuk meluaskan pengertian kepada pasangan Anda, maka akan semakin tak nyamanlah Anda dengannya. Dan, bukankah rasa ini selalu menjadi racun dalam setiap hubungan?
“Selalu ada plus minus pada setiap orang,” inilah mantra sakti yang harusnya selalu Anda rapalkan, tuliskan di secarik kertas, rendam dengan air mendidih pada subuh hari lalu minumlah 2 kali sehari setelah makan..Dijamin dalam keadaan apa pun, terutama saat berbeda pandangan dan sikap terhadap suatu hal Anda akan selalu mampu menyediakan samudera pengertian untuknya. Dan hanya dari samudera itulah Anda akan memperoleh samudera kenyamanan buat hidup Anda. Sungguh mencintai bukanlah perkara mencari kecocokan, juga bukan minta dimengerti, tapi memberikan pengertian, maka keluasanmu memberikan pengertian adalah keindahanmu dalam mencintai.
Jika kau benar-benar mencintaiku, hanya ada satu hal yang kuminta: biarkan aku tetap menjadi diriku sendiri, apa adanya, karena sungguh aku takkan pernah bisa menjadi dirimu atau diri idolamu, seperti kamu yang tak mungkin bisa menjadi aku atau idolaku # Cinta dgn semangat Surat AL-Kafirun
Ya, mencari kekasih, suami/istri, teman, guru, hingga sandal jepit, umumnya yang selalu menguasai otak kita adalah kata “kecocokan” yang sudah barang pasti meniscayakan tuntutan “kesempurnaan”, maka tak perlu heran bila sebagian besar dari Anda takkan pernah berhasil menemukan dan memilikinya.
"Kamu mau saja yah sama dia..dia itu pokoknya cowok sempurna deh idaman setiap wanita, kurang apalagi coba si dia-nya ..bayangnkan nih ..Ganteng??kurang,,Intelejensi??kurang,,,Berat badan??kurang...Uang??kurang...sopan santun??kurang...nah KURANG APA LAGI coba.." #gubrakk
Mencari sendal jepit sekalipun bisa gagal didapat. “Ini modelnya sudah bagus sih, tapi kok garis hitamnya kurang terang ya?” Atau, “Sayang sekali ini kok kurang tebal dikit, kurang tinggi setengah centi lagi…” Atau, “Bagus banget sih, elegan sekali, punya kesan mewah dan modelnya pun lagi trendy saat ini tapi kok harganya kurang mahal yah…”#gubrakk lagi sambil geleng-geleng kepala 3 kali ke kiri dan 5 kali ke kanan.. dll.
Sekali lagi, kurang!
Apalagi jika “kurang” ini diterapkan sebagai ukuran untuk menakar makhluk bernama manusia. Pasti akan se-tronton deh urusan kekurangan itu.
Di kepala kita, misalnya, tergambar jelas bahwa lelaki idaman itu punya rambut Mohawk tapi rapi, tampan rupawan, selalu wangi, punya banyak koleksi kaos modis Inter Milan, body atletis tinggi semampai dengan mobil Hammer Silver pabrikan terbaru, kalau berbicara selalu lembut, halus penuh sopan santun, ndak suka kopi, tidak merokok, serba tahu segala hal mulai urusan dunia sampai akhirat, bisa menjadi imam shalat dan ngaji sekaligus, punya tabungan untuk masa tua, selalu sedia mengantar kemanapun, selalu ingat tanggal ultah kita, serta siap ditempatkan di daerah mana saja dll.
Apa iya ada benar lelaki yang begitu, memenuhi semua kriteria yang sudah Anda buat, yang kalau diwujudkan dalam sebuah check list-nya bisa sampe lima halaman kuarto ketik satu spasi?
Demikian juga dalam hal mencari wanita.
Bila di kepala kita telah disematkan daftar kriteria panjang tentang wanita idaman, mulai dari rambut panjang, kulit putih, cantik menawan, rajin sikat gigi, modis kalau dandan, tidak lola (loading lambat), jago memasak, tubuh langsing selalu memenuhi permintaan kita, selalu sabar dan penurut bahkan diam saja kalau kita lagi iseng mau menganiayanya, maka di manakah itu akan ditemukan ya?
“Kurang, kurang, dan kurang!” Itulah virusnya.
Yakinlah, bila kata ini yang Anda pakai sebagai teropong untuk mendapatkan seseorang, maka Anda takkan pernah mendapatkannya! Never!
Lho, memangnya apa ndak ada lagi ya orang baik seperti itu di muka bumi ini? Bukankah wajar dan manusiawi kalau setiap kita menginginkan bisa mendapatkan pasangan yang terbaik?
Ya dong, wajar sekali memang, dan itu alamiah atau manusiawi bahkan sewajibnya digantungkan di langit cita-cita kita, bukan di jemuran! Karena ndak mungkinnyami kita mau cari pasangan yang buruk, jahat, kejam, keji, lalim, lebih dzalim dibanding Fir’aun itu? Haa, ya ndak bangetlah!!
Tapi, ingat, ada hal-hal prinsipil yang harus segera kita tanamkan di kepala kita sendiri.
(1) Ukuran mutu kebaikan itu sungguh sangat relatif, karenanya sesuatu yang baik bagi seseorang belum tentu dianggap baik oleh orang lain. Maka dengan sendirinya, di posisi ini, sebenarnya yang berlaku bukan lagi soal kebaikan dalam artian “hitam dan putih”, tetapi lebih pada “kenyamanan” buat diri Anda.
Boleh saja Anda punya cowok yang rajin sekali facial dan selalu pakai body lotion, selalu wangi, tapi jika ternyata itu membuat Anda kok merasa cowok Anda lebih feminis dibanding Anda dan itu menghadirkan rasa tak nyaman pada diri Anda, jelas itu bukan sesuatu yang baik dong, bukan sesuatu yang nyaman kan. So, sekali lagi, tekanannya adalah soal “nyaman atau tidaknya” Anda dengan seseorang itu.
(2) Sejatinya cinta itu bukan untuk mencari dan mendapatkan kecocokkan, karena kalau ini poinnya, yakinlah bahwa Anda takkan pernah menemukan kecocokan yang selalu mampu memenuhi setiap tarikan nafas Anda. Cinta yang berselimutkan “kehendak kecocokan” niscaya akan lebih sering mengecewakan, lantaran setiap orang telah terlahir, tumbuh, dan dewasa dalam ragam tata nilai dan cara pandang yang sangat berbeda-beda, sehingga apa yang “cocok baginya” sungguh belum tentu “cocok bagi Anda”.
Lihat fenomena di kalangan para artis saat menggelar konfrensi pers mengumumkan hubungan mereka atau rencana mereka ke jenjang yang lebih serius selalu dihiasi dengan kata-kata mutiara penuh senyum sumringah "Yah kami berdua merasa cocok satu sama lain dan saling melengkapi kekurangan masing-maisng" namun setelah beberapa bulan menikah dengan berlinang air mata kalimat-kalimat itu bermetemorfosis menjadi "sudah tidak ada kecocokkan lagi di antara kami" atau "kami sudah tidak sepaham lagi" begitu derasnya mengalir dilontarkan seperti seseorang yang menderita amnesia. Lalu apakah kecocokan itu adalah sesuatu yang bisa hilang timbul, datang dan pergi begitu saja kawan?? nyatanya kecocokkan itu tidak dicari tapi dibentuk.
Benturan “cocok baginya” dengan “cocok bagi Anda” inilah sesungguhnya biang kerok segala bentuk pertikaian yang akan memicu ketaknyamanan. So, jangan terbalik, rasa tak nyaman sama sekali bukan dipicu oleh perbedaan-perbedaan pribadi, tetapi selalu disebabkan oleh “tuntutan untuk cocok baginya” atau “tuntutan untuk cocok bagi Anda”.
Sebagai bukti, coba Anda ingat ulang, benturan Anda dengan kekasih atau teman Anda selama ini yang memicu rasa tak nyaman pasti bukan karena Anda berbeda dengan kekasih atau sahabat Anda kan, tetapi lantaran Anda atau kekasih atau teman Anda “menuntut untuk cocok” dengan ukuran kecocokkannya masing-masing.
Perbedaan adalah kodrat, hukum alam, sunnatullah, sehingga tidak perlulah kita berharap mampu mengubah hal-hal yang sifatnya kodrati itu. Justru hal yang jauh lebih penting bagi kita semua sekarang adalah mengubah mind set dengan tegas: “Bukan mencari kecocokan, bukan menuntut pengertian, tetapi memberikan pengertian”.
Ya, memberikan pengertian!
Berbeda jauh dengan “karakter kecocokan” yang selalu menuntut kesempurnaan dan kesamaan dengan keinginan Anda sendiri, pengertian akan selalu mendorong Anda untuk mampu memahami bahwa pasangan atau kekasih Anda memang tidak sama dengan diri Anda. Ia adalah manusia utuh sendiri, dengan latar budaya, keluarga, pendidikan, pergaulan, hingga world view-nya sendiri, sebagaimana diri Anda sebagai manusia utuh sendiri, yang memiliki latar budaya, keluarga, pendidikan, pergaulan, hingga world view sendiri.
Dan ingatlah bahwa perbedaan-perbedaan itu hanya akan bisa dipersatukan dalam sebuah sangkar emas yang mempesona, entah itu pacaran, pernikahan, atau persahabatan, bila diberi minum dan pakan bernama pengertian. Serta camkan baik-baik dalam belukar otak Anda bahwa cocok tak selalu berarti harus sama.
Anda mengerti bahwa pasangan Anda kurang menganggap penting untuk mengingat dan memberi kado pada hari ultah Anda, maka tidak perlulah Anda kemudian marah karena merasa kurang diperhatikan, kurang disayang, atau bahkan menuduh tidak cinta lagi kepada pasangan Anda. Semestinya Anda mau mengerti pandangannya tersebut lantaran sungguh kado ultah sama sekali tidak bisa dijadikan simbol mutlak untuk mengukur masih cinta atau tidak.
Misal lagi, Anda paham bahwa kekasih Anda punya kebiasaan marah-marah nda jelas bila ada sesuatu yang kurang berkenan di hatinya terlepas dia sedang datang bulan atau tidak, dengan menggunakan gesture dan kata-kata yang bertentangan dengan keinginan aslinya, maka tentu Anda harus mau mengerti bahwa kalimatnya, “Ya sudah, turunkan saya di lampu merah depan coto gagak situ saja…!” tidak dimaksudkan agar Anda menurunkannya betulan, tetapi sekadar ekspresi ketidaksukaannya dan Anda bertugas untuk menenangkannya, mungkin dengan sekadar sentuhan atau rayuan kecil saja.
Ya, hubungan dengan orang lain, apa pun bentuknya, rumusnya memang selalu memerlukan “asas pengertian”, bukan “asas cocok atau tidak cocok” dengan Anda. Jangan dibalik ya!
Pegang selalu, bila Anda mengedepankan “asas cocok atau tidak cocok”, pasti Anda takkan pernah mampu membangun sikap pengertian padanya. Dampaknya kemudian hanya akan memicu pertikaian, konflik, ketaknyamanan, lalu bubrah semua!
Tetapi bila Anda mengedepankan “asas pengertian”, maka segala perbedaan yang timbul, sekalipun itu secara sporadis kadang memuncratkan rasa tak nyaman pada diri Anda, akan mampu terendam dalam kulkas pengertian itu, sehingga hubungan pun akan menjadi bisa diadem ayemkan dengan segera, didinginkan, dan tak perlu meledak laksana kompor gas elpiji 5 kg.
Jika Anda sudah berhasil memahami rumus ini, maka sekarang tugas besar Anda semua adalah: “Memampukan diri untuk membangun keluasan pengertian seluas-luasnya”.
Semakin luas kemampuan Anda meluaskan pengertian kepada pasangan Anda, maka akan semakin nyamanlah Anda dengannya. Dan, bukankah rasa ini yang sebenarnya selalu Anda cari dalam setiap hubungan?
Sebaliknya, semakin Anda egois dan kikir untuk meluaskan pengertian kepada pasangan Anda, maka akan semakin tak nyamanlah Anda dengannya. Dan, bukankah rasa ini selalu menjadi racun dalam setiap hubungan?
“Selalu ada plus minus pada setiap orang,” inilah mantra sakti yang harusnya selalu Anda rapalkan, tuliskan di secarik kertas, rendam dengan air mendidih pada subuh hari lalu minumlah 2 kali sehari setelah makan..Dijamin dalam keadaan apa pun, terutama saat berbeda pandangan dan sikap terhadap suatu hal Anda akan selalu mampu menyediakan samudera pengertian untuknya. Dan hanya dari samudera itulah Anda akan memperoleh samudera kenyamanan buat hidup Anda. Sungguh mencintai bukanlah perkara mencari kecocokan, juga bukan minta dimengerti, tapi memberikan pengertian, maka keluasanmu memberikan pengertian adalah keindahanmu dalam mencintai.
Jika kau benar-benar mencintaiku, hanya ada satu hal yang kuminta: biarkan aku tetap menjadi diriku sendiri, apa adanya, karena sungguh aku takkan pernah bisa menjadi dirimu atau diri idolamu, seperti kamu yang tak mungkin bisa menjadi aku atau idolaku # Cinta dgn semangat Surat AL-Kafirun
Cinta Sejati..Kemana..Kemana..Kemana
Menyatakan cinta, ahhh…itu hal yang mudah sekali, biasa sangat malah. Semua mulut lelaki sangat ringan mengungkapkannya (juga wanita ding). Lidah-lidah tak bertulang itu begitu gesit dan lincahnya menari-nari sembari mengobral kata cinta di sembarang tempat dan bahkan di sembarang waktu pula. Ndak perlu menunggu harus jadi buaya dulu untuk dermawan menyatakan cinta, sekadar masih di level anak kadal atau anak tokke pun pasti sudah sangat lihai kok.
Kenapa yah bisa semudah itu menyatakan cinta?
Padahal seorang filsuf besar Islam sekelas Jalaludin Rumi pun hanya bisa berkomentar bahwa :
Apapun yang kau dengar dan katakan tentang Cinta,
Itu semua hanyalah kulit.
Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan.
Namun para pemuja cinta ini berani dengan mudahnya melesakkan kata cinta semudah menembakkan misil-misil USA ke Afghanistan dan Irak. Seolah-olah mereka memiliki legalisasi atau sertifikasi langsung dari panah asmara sang cupid peri cinta yang ada dalam mitologi Yunani itu. Padahal sejatinya, itu bukan cinta, okelah tepatnya, belum sempurna bermetamorfosis menjadi cinta. Ia hanya sebuah simpati, ketertarikan atas sebuah chemistry, atau malah bisa jadi hanya nafsu belaka. Ia masih berupa kepompong muda yang amat dini untuk menatap dunia luas dalam kacamata cinta.
Akan tetapi lantaran dibahasakan sebagai cinta, maka mudah saja kita tergelincir oleh licin dan terjal jalannya, yang tampak kilau mempesona dirias kembang-kembang perhatian, hadiah, SMS, ucapan selamat, hingga kerdipan mata. Apa yang sebenarnya belumlah sempurna sebagai kupu-kupu, masih berupa ulat yang bertapa, terlalu cepat kita percayai sebagai cinta yang bersayap indah dan sanggup menerbangkan kita ke surgaloka.
Padahal hakekatnya bahasa takkan pernah cukup mewadahi keagungan rasa cinta, karenanya jangan paksakan untuk kau bahasakan rasa cintamu padanya sebab bisa tergerus kedalaman dari rasa itu.
Lihatlah sendiri buktinya, betapa amat sangat banyak orang yang menjadi korban cinta, begitu istilahnya, padahal sungguh itu terjadi lantaran yang diterimanya bukanlah cinta, sangat bukan cinta, tetapi hanyalah kepompong-kepompong yang belum matang bermetamorfosa menjadi kupu-kupu cinta. Dan lantaran kita begitu mudah terbius oleh warna-warni pesonanya, kata-kata puitisnya, hadiah bunga yang merah merekah, hingga tebalnya dompet yang sampe ndak bisa dilipat lagi, atau menderunya mesin Kawasaki Ninja RR dan kinclongnya interior CRV White Pearl yang menyilaukan mata sekaligus mata hati wanita sejagad itu, sontak begitu mudah kita mempercayainya sebagai kupu-kupu cinta.
Hasilnya?
Rintihan tangisan yang khusyu nan menyayat hati di sepanjang malam diiringi bunyi-bunyi bedentam bedentumnya seluruh inventaris kamar pribadinya. Jilbabnya dibanting-banting, kaca cerminnya disayat-sayat, handphonenya direndam di air mendidih lalu didiamkan di dalam freezer kulkas terakhir ia pun mengunci diri 2 hari 2 malam di dalam kamar mandi.
“Aku dikhianati cinta…” kata Wa Rini sambil merobek-robek jilbabnya.
“Manis kata-katanya tak semanis bukti cintanya…” ratap La Bahi sambil meremas-remas celana boxer 4 jarinya.
Lalu, siang malam terus-menerus memutar lagu Kerispatih dengan volume tinggi, mulai Demi Cinta, Bila Rasaku Ini Rasamu, atau Tak Lekang oleh Waktu , Tertatih dan bahkan hingga Alamat Palsu ( Ayu Ting Ting ), Status Palsu (Vidy Aldiano) juga Rambut Palsu ( Gayus Tambunan) tidak ketinggalan Hamil Duluan pun diborong sekalian.
Bila rasaku ini rasamu/sanggupkah engkau/menahan sakitnya hati yang terkhianati cinta yang kau jaga…
Haaatttttccccchiiiii.....#maklum lagi pergantian musim
Coba renungkan dengan khidmat dan seksama dalam tempo sesingkat-singkatnya “Apakah benar itu cinta? Jangan-jangan hanya cinta-cintaan, hanya kepompong yang di matamu tampak laksana cinta sejati karena terbius rambutnya yang terurai lurus sampai ke lutut yang bahkan nyamuk atau lalat hinggap pun bisa dibuat tergelincir atau hanya tersilaukan oleh dandanannya yang modis dan matching dari ujung kaki hingga ujung rambut, mulai dari penjepit rambut sampai tali sepatu yang berwarna seragam.
Apa yang kau anggap sebagai cinta sungguh belum layak diyakini sebagai cinta sepanjang bongkahan rasa itu belum berbenturan dengan ragam badai yang khas dirimu.
Badai dirimu?
Ya. Catat baik-baik lalu tempel di jidat nah frase kata ini, bahwa selalu saja dalam hubungan pacaran yang kita sebut sebagai soulmate sekalipun, kita hanya disuguhkan hal-hal yang baik, bagus, indah. Di depannya kita selalu memproyeksikan diri sebagai seorang Romeo yang romantis tapi juga atletis, trendy namun juga sporty, jenius tapi tetap religius, cool namun tetap charmy. Atau sebaliknya sebagai seorang Juliet yang feminin namun enerjik, jago masak dan jago ngaji, modis dan selalu rapi, sabar dengan hati yang lapang, pendengar dengan nasihat yang bijak, penyayang dengan senyum manis yang selalu menghias bibir. Pokoknya semua sempurna nyaris tanpa celah. Selalu ada kata maaf, siap antar jaga, penuh toleransi, selalu ada untukmu, wangi, modis, rapi, smart, charmy, penuh chemistry.
Padahal sejatinya setiap kita menyimpan badai dalam diri kita, yang bahkan itu sangat khas diri kita sendiri, yang badai itu sengaja kita simpan rapat-rapat dari pasangan kita.
Nah, badai-badai inilah yang akan menjadi penguji kesejatian bongkahan rasa itu, apakah ia kemudian tumbuh sebagai cinta yang sejati ataukah hanya berhenti sebagai sebuah simpati belaka.
Badai-badai itu bisa berupa egoisme, perbedaan paham, mimpi yang berseberangan, kondisi kekurangan, kebiasaan buruk dan jorok hingga bau keringat sekalipun misalnya.
Segala apa yang tampak baik dan bagus selama ini harus dibenturkan dengan segala apa yang sejatinya merupakan bagian tak terpisahkan dari dirimu, yang itu semua tampak buruk, menurunkan value atas dirimu, tidak menarik sedikitpun, namun kenyataannya seperti itulah dirimu apa adanya.
Lalu perhatikan dengan seksama: “Apakah dia tetap ada untukmu di saat kamu lagi ndak punya duit atau lagi egois, ingin menang sendiri dan penuh amarah, atau di saat engkau lagi bermandikan keringat setelah bermain futsal bahkan di kala engkau baru bangun tidur dengan iler yang masih mengalir di pipi kiri dan kanan, apakah ia masih tetap berada di sisimu??"
Ketaknyamanan-ketaknyamanan memang niscaya terjadi saat benturan-benturan itu meledak. Bukan sisi ketaknyamanannya yang penting di sini, tetapi sikap yang dipilihnya usai ketaknyamanan itu. Masihkah dia ada untukmu dan menerimamu apa adanya??
Ahhaaa, jangan pernah kau percaya bahwa inilah cinta sejatiku, soulmate-ku, klikku, masa depanku, apalagi pasanganku dunia akhirat, bidadari surgaku, my guardian angel, Romeoku, Julietku sebelum kau menempa bongkahan rasa yang selama ini kau anggap cinta itu dalam badai kekurangan-kekurangan tersebut. Sebelum menemukan kesejatiannya, cinta memang harus ditempa dulu dalam badai kekurangan, egoisme, arogansi diri, perbedaan paham, hingga pesona aromatherapy keringatmu.
So, ujilah dia sekarang dengan: Biarkan dirimu berkeringat deras di depannya, Tentanglah keinginannya dengan egomu. Tunjukkan dompet kosongmu. Iintinya, buat dia ndak nyaman dengan tampilan dan sikapmu, buat dia marah, lalu perhatikan bagaimana sikapnya menyikapi tingkah-lakumu yang tidak karuan itu.
Kalau dia pergi meninggalkanmu, berarti dia bukan cinta sejatimu. Kalau dia tetap bertahan denganmu, kemungkinannya ada dua: dialah soulmate-mu, cinta sejatimu, atau...mungkin saja.... Dia...tidak cukup pintar untuk meninggalkanmu… ^_^
Kenapa yah bisa semudah itu menyatakan cinta?
Padahal seorang filsuf besar Islam sekelas Jalaludin Rumi pun hanya bisa berkomentar bahwa :
Apapun yang kau dengar dan katakan tentang Cinta,
Itu semua hanyalah kulit.
Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan.
Namun para pemuja cinta ini berani dengan mudahnya melesakkan kata cinta semudah menembakkan misil-misil USA ke Afghanistan dan Irak. Seolah-olah mereka memiliki legalisasi atau sertifikasi langsung dari panah asmara sang cupid peri cinta yang ada dalam mitologi Yunani itu. Padahal sejatinya, itu bukan cinta, okelah tepatnya, belum sempurna bermetamorfosis menjadi cinta. Ia hanya sebuah simpati, ketertarikan atas sebuah chemistry, atau malah bisa jadi hanya nafsu belaka. Ia masih berupa kepompong muda yang amat dini untuk menatap dunia luas dalam kacamata cinta.
Akan tetapi lantaran dibahasakan sebagai cinta, maka mudah saja kita tergelincir oleh licin dan terjal jalannya, yang tampak kilau mempesona dirias kembang-kembang perhatian, hadiah, SMS, ucapan selamat, hingga kerdipan mata. Apa yang sebenarnya belumlah sempurna sebagai kupu-kupu, masih berupa ulat yang bertapa, terlalu cepat kita percayai sebagai cinta yang bersayap indah dan sanggup menerbangkan kita ke surgaloka.
Padahal hakekatnya bahasa takkan pernah cukup mewadahi keagungan rasa cinta, karenanya jangan paksakan untuk kau bahasakan rasa cintamu padanya sebab bisa tergerus kedalaman dari rasa itu.
Lihatlah sendiri buktinya, betapa amat sangat banyak orang yang menjadi korban cinta, begitu istilahnya, padahal sungguh itu terjadi lantaran yang diterimanya bukanlah cinta, sangat bukan cinta, tetapi hanyalah kepompong-kepompong yang belum matang bermetamorfosa menjadi kupu-kupu cinta. Dan lantaran kita begitu mudah terbius oleh warna-warni pesonanya, kata-kata puitisnya, hadiah bunga yang merah merekah, hingga tebalnya dompet yang sampe ndak bisa dilipat lagi, atau menderunya mesin Kawasaki Ninja RR dan kinclongnya interior CRV White Pearl yang menyilaukan mata sekaligus mata hati wanita sejagad itu, sontak begitu mudah kita mempercayainya sebagai kupu-kupu cinta.
Hasilnya?
Rintihan tangisan yang khusyu nan menyayat hati di sepanjang malam diiringi bunyi-bunyi bedentam bedentumnya seluruh inventaris kamar pribadinya. Jilbabnya dibanting-banting, kaca cerminnya disayat-sayat, handphonenya direndam di air mendidih lalu didiamkan di dalam freezer kulkas terakhir ia pun mengunci diri 2 hari 2 malam di dalam kamar mandi.
“Aku dikhianati cinta…” kata Wa Rini sambil merobek-robek jilbabnya.
“Manis kata-katanya tak semanis bukti cintanya…” ratap La Bahi sambil meremas-remas celana boxer 4 jarinya.
Lalu, siang malam terus-menerus memutar lagu Kerispatih dengan volume tinggi, mulai Demi Cinta, Bila Rasaku Ini Rasamu, atau Tak Lekang oleh Waktu , Tertatih dan bahkan hingga Alamat Palsu ( Ayu Ting Ting ), Status Palsu (Vidy Aldiano) juga Rambut Palsu ( Gayus Tambunan) tidak ketinggalan Hamil Duluan pun diborong sekalian.
Bila rasaku ini rasamu/sanggupkah engkau/menahan sakitnya hati yang terkhianati cinta yang kau jaga…
Haaatttttccccchiiiii.....#maklum lagi pergantian musim
Coba renungkan dengan khidmat dan seksama dalam tempo sesingkat-singkatnya “Apakah benar itu cinta? Jangan-jangan hanya cinta-cintaan, hanya kepompong yang di matamu tampak laksana cinta sejati karena terbius rambutnya yang terurai lurus sampai ke lutut yang bahkan nyamuk atau lalat hinggap pun bisa dibuat tergelincir atau hanya tersilaukan oleh dandanannya yang modis dan matching dari ujung kaki hingga ujung rambut, mulai dari penjepit rambut sampai tali sepatu yang berwarna seragam.
Apa yang kau anggap sebagai cinta sungguh belum layak diyakini sebagai cinta sepanjang bongkahan rasa itu belum berbenturan dengan ragam badai yang khas dirimu.
Badai dirimu?
Ya. Catat baik-baik lalu tempel di jidat nah frase kata ini, bahwa selalu saja dalam hubungan pacaran yang kita sebut sebagai soulmate sekalipun, kita hanya disuguhkan hal-hal yang baik, bagus, indah. Di depannya kita selalu memproyeksikan diri sebagai seorang Romeo yang romantis tapi juga atletis, trendy namun juga sporty, jenius tapi tetap religius, cool namun tetap charmy. Atau sebaliknya sebagai seorang Juliet yang feminin namun enerjik, jago masak dan jago ngaji, modis dan selalu rapi, sabar dengan hati yang lapang, pendengar dengan nasihat yang bijak, penyayang dengan senyum manis yang selalu menghias bibir. Pokoknya semua sempurna nyaris tanpa celah. Selalu ada kata maaf, siap antar jaga, penuh toleransi, selalu ada untukmu, wangi, modis, rapi, smart, charmy, penuh chemistry.
Padahal sejatinya setiap kita menyimpan badai dalam diri kita, yang bahkan itu sangat khas diri kita sendiri, yang badai itu sengaja kita simpan rapat-rapat dari pasangan kita.
Nah, badai-badai inilah yang akan menjadi penguji kesejatian bongkahan rasa itu, apakah ia kemudian tumbuh sebagai cinta yang sejati ataukah hanya berhenti sebagai sebuah simpati belaka.
Badai-badai itu bisa berupa egoisme, perbedaan paham, mimpi yang berseberangan, kondisi kekurangan, kebiasaan buruk dan jorok hingga bau keringat sekalipun misalnya.
Segala apa yang tampak baik dan bagus selama ini harus dibenturkan dengan segala apa yang sejatinya merupakan bagian tak terpisahkan dari dirimu, yang itu semua tampak buruk, menurunkan value atas dirimu, tidak menarik sedikitpun, namun kenyataannya seperti itulah dirimu apa adanya.
Lalu perhatikan dengan seksama: “Apakah dia tetap ada untukmu di saat kamu lagi ndak punya duit atau lagi egois, ingin menang sendiri dan penuh amarah, atau di saat engkau lagi bermandikan keringat setelah bermain futsal bahkan di kala engkau baru bangun tidur dengan iler yang masih mengalir di pipi kiri dan kanan, apakah ia masih tetap berada di sisimu??"
Ketaknyamanan-ketaknyamanan memang niscaya terjadi saat benturan-benturan itu meledak. Bukan sisi ketaknyamanannya yang penting di sini, tetapi sikap yang dipilihnya usai ketaknyamanan itu. Masihkah dia ada untukmu dan menerimamu apa adanya??
Ahhaaa, jangan pernah kau percaya bahwa inilah cinta sejatiku, soulmate-ku, klikku, masa depanku, apalagi pasanganku dunia akhirat, bidadari surgaku, my guardian angel, Romeoku, Julietku sebelum kau menempa bongkahan rasa yang selama ini kau anggap cinta itu dalam badai kekurangan-kekurangan tersebut. Sebelum menemukan kesejatiannya, cinta memang harus ditempa dulu dalam badai kekurangan, egoisme, arogansi diri, perbedaan paham, hingga pesona aromatherapy keringatmu.
So, ujilah dia sekarang dengan: Biarkan dirimu berkeringat deras di depannya, Tentanglah keinginannya dengan egomu. Tunjukkan dompet kosongmu. Iintinya, buat dia ndak nyaman dengan tampilan dan sikapmu, buat dia marah, lalu perhatikan bagaimana sikapnya menyikapi tingkah-lakumu yang tidak karuan itu.
Kalau dia pergi meninggalkanmu, berarti dia bukan cinta sejatimu. Kalau dia tetap bertahan denganmu, kemungkinannya ada dua: dialah soulmate-mu, cinta sejatimu, atau...mungkin saja.... Dia...tidak cukup pintar untuk meninggalkanmu… ^_^
Menaklukkan Venus
Mau makan dimana nih Beib?" tanya La Bahi mesra sambil nyetir
"Dimana saja...terserah..." sahutnya
"Makan mie bakso yuks.."
"Huh, mie bakso terusmi..nda tau kah kalo bakso sm mie itu banyak bahan kimianya , tidak sehat itu nah buat saluran pencernaan, memangnya mau liat saya kanker-an kah" jawabnya ketus ..(wait a minutes.."kanker-an" ???)
" Oo ya sudah kalo gitu makan di lesehan saja" tawar La Bahi
" Ah, sa nda suka makan di lesehan terlalu banyak orang trus banyak debu juga di pinggir jalan"
"Jadi apami yang kita mau sayang ?" tanya La Bahi dengan wajah memelas, lelah sekaligus iba
"Kan sa sudah bilang tadi, terserah toh...tidak dengarkah??" ketusnya sambil menambah beberapa kerutan di dahinya
Sambil mengomel dalam hati, spontan La Bahi memacu pedal gas Avanza hitamnya dengan kecepatan tinggi sebagai pertanda bahwa dia sudah sangat bosan dengan perselisihan tidak penting seperti ini. Tubuh sang pacar pun tersentak kaget tertarik dan tersandarkan ke joknya di belakang terseret oleh akselerasi. Sontak si do'i menepuk bahu La Bahi sambil melotot
" Ini mau ajak saya makan atau mau bunuh saya kah sebenarnya?"
La Bahi diam.
" Iiih malasku deh malah diam, janmi pura-pura gila disitu, jantungku hampir da ta lepas tadi itu asal ko tau nah!!!"
La Bahi tetap diam seribu, sejuta, dan bahkan semiliar bahasa. Berharap sang pacar mau mengerti bahwa La Bahi sedang kesal namun sengaja ia diam karena tak mau ada perang lagi, dunia saja berperang hanya 2 kali dalam umurnya yang sudah juta'an abad ini mengapa mereka yang baru berkomitmen untuk pacaran beberapa bulan lalu, jumlah peperangannya malah sudah tidak bisa dihitung lagi dengan kalkulator, sampoa apalagi dengan jari, bahkan bila jari mereka berdua digabungkan terus ditambah jari seluruh anggota keluarga mereka dikalikan 3 lalu dikuadrat 5-kan sepertinya masih belum cukup juga. Maka jadilah sang wanita menyerocos sendirian dengan kalimat-kalimat pedas tanpa koma, bermonolog ria dengan kata-kata kobra tanpa jeda walau untuk sekedar mengambil nafas sekalipun.
Di lain pihak La Bahi tetap diam, menyetir dengan cool-nya entah karena kedewasaannya yang sudah berada pada level "bijak tingkat dewa" atau karena kepolosannya (baca:kebodohan) yang tidak bisa membedakan antara dimarahi dan dipuji. Dia malah tiba-tiba menepikan kenderaannya di suatu rumah makan lalu turun seenaknya dengan muka tak berdosa seolah tak terjadi apa-apa sebelumnya.
"Ayuuk sayang turun, kita makan disini saja" .
Di dalam restoran siap saji pilihan La Bahi itu gantian si cewek yang mendadak jadi tunawicara. bibirnya manyun, hidungnya kembang kempis, dahinya mengkerut, gerahamnya menggeretak, telapak tangannya mengepal, dan bahkan telapak kakinya juga , ekspresi orang dengan naluri membunuh pada umumnya. Ditawarin mau pesan apa, dianya malah menggeleng
"Janmi sa ndak lapar ji, kamu saja yang makan".
Ya sudahlah kalau begitu pikir La Bahi, dia pun memesan makanan sendiri, makan sendiri, minum sendiri, cuci tangan sendiri dan bahkan ke toilet pun sendiri. (ya iyalah). Sedang sang pacar hanya duduk, diam dan bibirnya komat kamit tidak karuan seperti sedang melafalkan jutaan mantra kutukan yang bahkan sepertinya lebih sadis dari kutukan ibu Malin Kundang sekalipun.
Lalu pulang, di jalan La Bahi bertanya " Memangnya habis makan apa di rumah, kok tadi bilang nda lapar ?"
"Makan hati sama sate angin"
"Owww di rumah makan mana itu yang jual menu unik seperti itu honey?" gurau La Bahi berusaha memadamkan api dari tatapan mata nanar pujaan hatinya itu.
"Aaaah...janmoko banyak pote-potemu disitu, tidak lucu nah, garing !!!!""Kau itu memang dari dulu begitu nah..!@#$%#%^^&%%&* " #sensor
Mulailah semua keburukan-keburukan La Bahi dipresentasikan dengan berapi-api dan penuh gegap gempita olehnya, sejak dari awal mereka bertemu saat masih menggunakan obor untuk berkirim surat hingga kini di zaman konduktor serba modern via BBM, tak lupa beberapa spesies nama hewan terselip di ujung-ujung kalimatnya sebagai bumbu penyedap aroma kekesalannya.
La Bahi terperangah, lalu slow motion, efek kalimat-kalimat itu saking hebatnya lalu seperti menggema berulang kali di telinganya, lalu flash back , mendadak di layar pikirannya muncul bergantian slide foto-foto mereka saat pertama bertemu, saat awal-awal pacaran, saat sedang dilanda kasmaran, semuanya dengan ekspresi senyuman lebar 30 cm tidak kurang dan tidak lebih, mereka memadu kasih seolah tak ada lagi hari esok. Dan tepat di slide terakhir layar itu pun mengabur, berganti wajah yang ada di hadapannya sekarang, wajah kekasihnya yang sudah riap-riapan diamuk amarah.Beberapa menit kemudian sang wanita berkata ketus lagi
" Turunkan saya disini saja, nanti saya naik bentor pulang !!" (iii nda krennyami deh masa cantik2 naik bentor, lagian mana ada bentor tengah malam begini)
" Ah sembarang saja sayang ini, bisanya itu..bahaya, ini kan sudah tengah malam" cegah La Bahi
" Kamu itu selalu begitu, selalu anggap saya tidak bisa melakukan apa-apa sendiri, selalu remehkan saya, jan salah nah sa bisa ji lakukan semua hal tanpa kamu, cepat berhenti kalo tidak sa lompat ini !!!"
" Betulan ini, ko yakin ji tidak apa-apa?" tanya La Bahi ragu
" Kurang jelaskah kata-kataku, Halllllooooooooo....plis dulu eh!!! (halo??telp dari siapa buuw...plis apa??)
La Bahi pun menepikan Avanza hitamnya itu, ngerem, membuka door lock. Sang pacar pun melepas sabuk pengaman dengan mata berkaca-kaca, sambil terbata-bata berkata
"Kamu ini memang kejam, tidak berperasaan sama sekali, masa malam-malam begini teganya ko biarkan pacarmu turun di tempat gelap seperti ini sendirian !!!! Dassarrr!!!!
"Lho..kan tadi..tadi.." terputus kata-kata La Bahi oleh bantingan pintu sekuat tenaga darinya. La Bahi turun dari mobil berusaha mengejar
"Say..sudahmi dank, janmi marah-marah lagi, ayo saya antar pulang" pinta La Bahi
Namun sang wanita terus berjalan setengah berlari lalu sambil menepiskan tangannya
"Sudahmi, lupakan saja saya, tidak pentingmumi deh, Sialannn....!!!!
Yah, kalimat terakhir itu sukses membuat lunglai seluruh persendian La Bahi, dia hanya bisa menarik napas panjang, kembali ke mobil lalu melajukan mobilnya bersama miliaran kubik rasa galauw yang berkecamuk di hati dan pikirannya. Ternyata sulit yah untuk memahami jalan terjal pemikiran seorang wanita. Andaikata dibuat sebuah buku pintar setebal seluruh serial Harry Potter yang digabungkan sekalipun masih belum cukup untuk menulis sebuah penelitian ilmiah tentang "How to understanding a woman"..
"Ampuuunggg...Maa..." teriak la Bahi dalam hati sambil menanduk-nandukkan kepalanya di stir mobil.
Belum sampai di rumah, sebuah BBM masuk ke HP BB TORCH La Bahi.
Darinya. “Mengecewakan sekali, ternyata kamu ndak juga belajar untuk menjadi laki-laki yang mengerti wanita!”
Dibalas oleh La Bahi, “Sudahmi, sekarang kamu tidur, biar tenang, besok pagi sa jemput nah ke kampus…”
“EGP!” jawab sang pacar singkat
“Besok pagi ya siap-siap…”
“Whatever!” kembali si do'i membalas dengan singkat, padat, dan menyayat
La Bahi pun diam saja. Percuma mengajak bicara baik-baik untuk tujuan baik dengan orang yang sedang ditimpa setan yang tidak baik. Yang baik pun akan menjelma tidak baik.
Ya, pasti itu. Why? Karena emosi akan menggelapkan mata pikiran dan hati empunya sehingga yang muncul kemudian hanyalah keburukan itu sendiri. Saking percumanya mengajak bicara baik-baik pada orang yang sedang emosi, maka akan lebih baik jika kita bersikap diam saja, tidak meladeni kegelapan kata-katanya, menghindari perselisihan yang lebih rumit, dan barulah kala timing-nya oke, emosi itu cair, bicaralah baik-baik tentang duduk perkaranya. Pasti hasilnya akan lebih clear!
Emosi berbalas emosi hanya akan menyulut perang! Salah satunya harus mengalah, dan diamlah pilihan terbaik untuk mengalah. Ingat, diam sama sekali bukanlah kekalahan, tapi justru kemenangan menaklukkan gemuruh ego yang bergejolak dalam diri. Diam juga akan meleraimu dari kemungkinan mengungkit-ungkit dan mengumbar-umbar segala hal yang tak sepatutnya diungkit dan diumbar.
Mana ada ceritanya orang akan sudi merusak tatanan rambutnya sendiri di keramaian kecuali orang berantem karena gagal membendung gejolak ego emosinya kan? Tapi begitulah, dalam keadaan emosi, apa pun yang paling buruk, jelek, dan memalukan bisa saja dilakukan. Hilangnya nalar sehat menjadi biang kerok sejati segala tingkah-laku menjijikkan orang yang dilanda emosi.
“Diammu menunjukkan kalau kamu benar-benar ndak perhatian, ndak benar-benar sayang sama saya!” BBM-nya nyelonong lagi.
La Bahi ndak langsung balas karena masih sibuk buka pintu garasi rumahnya. Belum 2 menit, BBM-nya menyeruduk lagi:
“Mendingan kita pisah! Jalan sendiri-sendiri saja, itu lebih adil dan bagus buat masing-masing kita! Thx for everything, …jaga diri baik-baik nah”
Belum sempat La Bahi berpikir apa yang sedang terjadi, karena tadi dia sedang sibuk melipat celana boxer 4 jari kesayangannya, ehh…2 menit kemudian, BBM-nya nyemplung lagi:
“Acuhmu ini menunjukkan bahwa tawaranku untuk pisah denganmu sangat tidak salah. Hubungan cinta kalau sudah didasari keacuhan, pasti karena sudah lunturnya perasaan. sa jadi sadar belakangan ini kamu itu sangat ndak bisa memahami mauku ternyata karena kamu sudah ndak sayang sama saya….”
Baru saja La Bahi berniat membalas BBM sebelumnya tiba-tiba kembali BBM-nya masuk lagi,
“Baiklah, semoga kamu bahagia dengan wanita lainnya itu…sa doakan kamu dapat yang terbaik, sa sadar diri ji memang sy bukan yang terbaik buatmu…”
Ckckckckck....begini nih dampak sistematik gempa hati dan tsunami pikiran yang gagal membendung emosi. Kemana-mana urusannya: mulai tuduhan ndak sayang, acuh, hubungan ndak adil, hingga wanita lain…
Dengan iseng, La Bahi pun akhirnya membalas BBM-nya, “Jadi betulan ini kita pisah?”
Sang wanita ndak balas.
Kembali La Bahi BBM lagi, “Ya sudahlah, kalau kamu diam, berarti kita sudah resmi pisah toh…”
Belum juga La Bahi meletakkan HP BB TORCH nya itu, BBM dari sang pacar pun masuk, “Ohhh, jadi ko senang di.. kalau kita pisah! Bagooosssssssss…!!!”
“Lho kan kamu yang minta tadi? Ini BBM-mu masih ada sa simpan…”
“Menjengkelkanmu deh!!!!”
Yeee…yeee…capek dehhh…
Belum sempat La Bahi balas, BBM- sang pacar hadir lagi, “Besok pagi jangan telat! #lengkap dengan smile2 dan love2”
Ahaayyy…aw aw aw apa yang dikatakan wanita itu memang seringkali amat jauh dari maksud yang dikehendakinya. Sudah jelas-jelas sekali kan, semua BBM-nya dari tadi menyatakan pisah, pisah, ada wanita lain, ndak sayang lah, keputusannya yang ndak salah, malah pake acara doain segala semoga bahagia.
Hmmm...wanita oh wanita...
Semua laki-laki pasti sudah overdosis ditelan migrain untuk memahami apa sih sebenarnya yang dimauinnya. Bilang G, ternyata maksudnya I. Bilang L, ternyata maunya A. Dasar, GILA! Haaa…haa….
Okelah, besoknya La Bahi pun benar-benar on time menjemputnya. Eehh, dia belum siap, lamaaa sekali La Bahi dibuat menunggu. Giliran keluar, dia tersenyum kecil dan berkata pada La Bahi sambil memperlihatkan dandanannya.
“Gimana, keren kan?”
La Bahi pun dengan teliti mengamati sekujur tubuhnya, layaknya seorang editor professional yang ndak ingin kelepasan satu kata salah saja.
“Gimana?” suaranya mulai terdengar ndak sabar.
“Ehhmm, kerenlah, bagus skali nah sayang, good looking…” sahut La Bahi kemudian dengan suara agak datar.
“Yang betul ini?”
“Yupz…”
“Ah, kamu ini memang tukang gombal, kelihatan kalau kamu bohong tuh…Dasar komodo darat”
Ia mulai merengut sambil merapikan rambutnya yang agak awut-awutan.
“Rambutnya saja sih kok yang sepertinya agak tidak simetris dan kurang rapi saja…” Jawab La Bahi dengan terpaksa.
“Tu toh…! Kamu memang tukang gomballll! Sa Benci koo…!!!”
“Lho, bagaimanakah ini…?” La Bahi terbengong-bengong kayak tungku disiram air comberan.
“Asal ko tau nah sa dandan ini sudah sejam lebih tauk, capekkkk,nah..kamu datang-datang malah bilang tidak simetrislah, kurang rapilah, dasar kamuuu itu memang ndak pernah betul2 sayang sama saya, ndak pernah menghargai usahaku sama sekali…!!!”
Ampuuunnn, Maa...ampun bapak..ampun nenek dan kakek di kampung...Ampun... wahai pemirsa, pembaca, penonton dan seluruh pencinta wanita se-tanah air !!! Teriak La Bahi kencang dalam hati. Dijawab keren, dituduh tukang gombal. Disahuti jujur, divonis ndak sayang, ndak perhatian, sampai ndak menghargai pengorbanannya dandan yang sejam itu!
Duh wahai wanita sang Venus bintang terindah yang sinarnya begitu gemerlap, terbuat dari material apakah sebenarnya engkau, securam dan seterjal itukah jalan pikiranmu, seruwet itukah belukar hatimu. Ratap La Bahi dalam hati..
Ah dasar La Bahi, harap dimaklumi saja para pembaca sekalian sebangsa dan setanah air, karena ini adalah pengalaman pertama La Bahi dalam membina hubungan dengan lawan jenisnya sejak ia dalam kandungan hingga kini menginjak usia 22 tahun. Sebenarnya masa edarnya sebagai seorang laki-laki sudah nyaris expired, jadi adalah sebuah keajaiban dunia ke 8 setelah pulau Komodo akhirnya dia berhasil mengenal kata cinta dalam kamus hidupnya yang sudah lusuh itu. Sebagai seorang laki-laki yang sukses, sehat, cerdas, religi, tapi hedonis tentu kita tidak ingin menjadi seperti kisah La Bahi di atas.
Lalu bagaimana dengan Venus-Venus Anda saat ini? Ari L dalam sebuah lagunya berpesan bahwa "Sentuhlah ia tepat di hatinya maka ia khan menjadi milikmu selamanya" . Mungkin hipotesa ini benar, namun menurut saya tidak semudah itu untuk menaklukkan seorang wanita. Hal pertama yang dibutuhkan adalah kenalilah tipikal seperti apa Venus-mu itu kawan. Ada dua tipe wanita dalam mencintai, ada yang dominan menggunakan otak dan ada pula yang dominan menggunakan hatinya. Setiap tipe punya karakteristik masing-masing sudah barang pasti punya trik pendekatan yang berbeda pula. Mau tahu karakter dan triknya untuk masing-masing kategori? Maaf itu bukan untuk konsumsi publik. So, ternyata menyentuh hatinya pun bisa saja tidak cukup karena anda hanya akan menjadi Bahi-Bahi berikutnya.
Venus oh Venus...
"Dimana saja...terserah..." sahutnya
"Makan mie bakso yuks.."
"Huh, mie bakso terusmi..nda tau kah kalo bakso sm mie itu banyak bahan kimianya , tidak sehat itu nah buat saluran pencernaan, memangnya mau liat saya kanker-an kah" jawabnya ketus ..(wait a minutes.."kanker-an" ???)
" Oo ya sudah kalo gitu makan di lesehan saja" tawar La Bahi
" Ah, sa nda suka makan di lesehan terlalu banyak orang trus banyak debu juga di pinggir jalan"
"Jadi apami yang kita mau sayang ?" tanya La Bahi dengan wajah memelas, lelah sekaligus iba
"Kan sa sudah bilang tadi, terserah toh...tidak dengarkah??" ketusnya sambil menambah beberapa kerutan di dahinya
Sambil mengomel dalam hati, spontan La Bahi memacu pedal gas Avanza hitamnya dengan kecepatan tinggi sebagai pertanda bahwa dia sudah sangat bosan dengan perselisihan tidak penting seperti ini. Tubuh sang pacar pun tersentak kaget tertarik dan tersandarkan ke joknya di belakang terseret oleh akselerasi. Sontak si do'i menepuk bahu La Bahi sambil melotot
" Ini mau ajak saya makan atau mau bunuh saya kah sebenarnya?"
La Bahi diam.
" Iiih malasku deh malah diam, janmi pura-pura gila disitu, jantungku hampir da ta lepas tadi itu asal ko tau nah!!!"
La Bahi tetap diam seribu, sejuta, dan bahkan semiliar bahasa. Berharap sang pacar mau mengerti bahwa La Bahi sedang kesal namun sengaja ia diam karena tak mau ada perang lagi, dunia saja berperang hanya 2 kali dalam umurnya yang sudah juta'an abad ini mengapa mereka yang baru berkomitmen untuk pacaran beberapa bulan lalu, jumlah peperangannya malah sudah tidak bisa dihitung lagi dengan kalkulator, sampoa apalagi dengan jari, bahkan bila jari mereka berdua digabungkan terus ditambah jari seluruh anggota keluarga mereka dikalikan 3 lalu dikuadrat 5-kan sepertinya masih belum cukup juga. Maka jadilah sang wanita menyerocos sendirian dengan kalimat-kalimat pedas tanpa koma, bermonolog ria dengan kata-kata kobra tanpa jeda walau untuk sekedar mengambil nafas sekalipun.
Di lain pihak La Bahi tetap diam, menyetir dengan cool-nya entah karena kedewasaannya yang sudah berada pada level "bijak tingkat dewa" atau karena kepolosannya (baca:kebodohan) yang tidak bisa membedakan antara dimarahi dan dipuji. Dia malah tiba-tiba menepikan kenderaannya di suatu rumah makan lalu turun seenaknya dengan muka tak berdosa seolah tak terjadi apa-apa sebelumnya.
"Ayuuk sayang turun, kita makan disini saja" .
Di dalam restoran siap saji pilihan La Bahi itu gantian si cewek yang mendadak jadi tunawicara. bibirnya manyun, hidungnya kembang kempis, dahinya mengkerut, gerahamnya menggeretak, telapak tangannya mengepal, dan bahkan telapak kakinya juga , ekspresi orang dengan naluri membunuh pada umumnya. Ditawarin mau pesan apa, dianya malah menggeleng
"Janmi sa ndak lapar ji, kamu saja yang makan".
Ya sudahlah kalau begitu pikir La Bahi, dia pun memesan makanan sendiri, makan sendiri, minum sendiri, cuci tangan sendiri dan bahkan ke toilet pun sendiri. (ya iyalah). Sedang sang pacar hanya duduk, diam dan bibirnya komat kamit tidak karuan seperti sedang melafalkan jutaan mantra kutukan yang bahkan sepertinya lebih sadis dari kutukan ibu Malin Kundang sekalipun.
Lalu pulang, di jalan La Bahi bertanya " Memangnya habis makan apa di rumah, kok tadi bilang nda lapar ?"
"Makan hati sama sate angin"
"Owww di rumah makan mana itu yang jual menu unik seperti itu honey?" gurau La Bahi berusaha memadamkan api dari tatapan mata nanar pujaan hatinya itu.
"Aaaah...janmoko banyak pote-potemu disitu, tidak lucu nah, garing !!!!""Kau itu memang dari dulu begitu nah..!@#$%#%^^&%%&* " #sensor
Mulailah semua keburukan-keburukan La Bahi dipresentasikan dengan berapi-api dan penuh gegap gempita olehnya, sejak dari awal mereka bertemu saat masih menggunakan obor untuk berkirim surat hingga kini di zaman konduktor serba modern via BBM, tak lupa beberapa spesies nama hewan terselip di ujung-ujung kalimatnya sebagai bumbu penyedap aroma kekesalannya.
La Bahi terperangah, lalu slow motion, efek kalimat-kalimat itu saking hebatnya lalu seperti menggema berulang kali di telinganya, lalu flash back , mendadak di layar pikirannya muncul bergantian slide foto-foto mereka saat pertama bertemu, saat awal-awal pacaran, saat sedang dilanda kasmaran, semuanya dengan ekspresi senyuman lebar 30 cm tidak kurang dan tidak lebih, mereka memadu kasih seolah tak ada lagi hari esok. Dan tepat di slide terakhir layar itu pun mengabur, berganti wajah yang ada di hadapannya sekarang, wajah kekasihnya yang sudah riap-riapan diamuk amarah.Beberapa menit kemudian sang wanita berkata ketus lagi
" Turunkan saya disini saja, nanti saya naik bentor pulang !!" (iii nda krennyami deh masa cantik2 naik bentor, lagian mana ada bentor tengah malam begini)
" Ah sembarang saja sayang ini, bisanya itu..bahaya, ini kan sudah tengah malam" cegah La Bahi
" Kamu itu selalu begitu, selalu anggap saya tidak bisa melakukan apa-apa sendiri, selalu remehkan saya, jan salah nah sa bisa ji lakukan semua hal tanpa kamu, cepat berhenti kalo tidak sa lompat ini !!!"
" Betulan ini, ko yakin ji tidak apa-apa?" tanya La Bahi ragu
" Kurang jelaskah kata-kataku, Halllllooooooooo....plis dulu eh!!! (halo??telp dari siapa buuw...plis apa??)
La Bahi pun menepikan Avanza hitamnya itu, ngerem, membuka door lock. Sang pacar pun melepas sabuk pengaman dengan mata berkaca-kaca, sambil terbata-bata berkata
"Kamu ini memang kejam, tidak berperasaan sama sekali, masa malam-malam begini teganya ko biarkan pacarmu turun di tempat gelap seperti ini sendirian !!!! Dassarrr!!!!
"Lho..kan tadi..tadi.." terputus kata-kata La Bahi oleh bantingan pintu sekuat tenaga darinya. La Bahi turun dari mobil berusaha mengejar
"Say..sudahmi dank, janmi marah-marah lagi, ayo saya antar pulang" pinta La Bahi
Namun sang wanita terus berjalan setengah berlari lalu sambil menepiskan tangannya
"Sudahmi, lupakan saja saya, tidak pentingmumi deh, Sialannn....!!!!
Yah, kalimat terakhir itu sukses membuat lunglai seluruh persendian La Bahi, dia hanya bisa menarik napas panjang, kembali ke mobil lalu melajukan mobilnya bersama miliaran kubik rasa galauw yang berkecamuk di hati dan pikirannya. Ternyata sulit yah untuk memahami jalan terjal pemikiran seorang wanita. Andaikata dibuat sebuah buku pintar setebal seluruh serial Harry Potter yang digabungkan sekalipun masih belum cukup untuk menulis sebuah penelitian ilmiah tentang "How to understanding a woman"..
"Ampuuunggg...Maa..." teriak la Bahi dalam hati sambil menanduk-nandukkan kepalanya di stir mobil.
Belum sampai di rumah, sebuah BBM masuk ke HP BB TORCH La Bahi.
Darinya. “Mengecewakan sekali, ternyata kamu ndak juga belajar untuk menjadi laki-laki yang mengerti wanita!”
Dibalas oleh La Bahi, “Sudahmi, sekarang kamu tidur, biar tenang, besok pagi sa jemput nah ke kampus…”
“EGP!” jawab sang pacar singkat
“Besok pagi ya siap-siap…”
“Whatever!” kembali si do'i membalas dengan singkat, padat, dan menyayat
La Bahi pun diam saja. Percuma mengajak bicara baik-baik untuk tujuan baik dengan orang yang sedang ditimpa setan yang tidak baik. Yang baik pun akan menjelma tidak baik.
Ya, pasti itu. Why? Karena emosi akan menggelapkan mata pikiran dan hati empunya sehingga yang muncul kemudian hanyalah keburukan itu sendiri. Saking percumanya mengajak bicara baik-baik pada orang yang sedang emosi, maka akan lebih baik jika kita bersikap diam saja, tidak meladeni kegelapan kata-katanya, menghindari perselisihan yang lebih rumit, dan barulah kala timing-nya oke, emosi itu cair, bicaralah baik-baik tentang duduk perkaranya. Pasti hasilnya akan lebih clear!
Emosi berbalas emosi hanya akan menyulut perang! Salah satunya harus mengalah, dan diamlah pilihan terbaik untuk mengalah. Ingat, diam sama sekali bukanlah kekalahan, tapi justru kemenangan menaklukkan gemuruh ego yang bergejolak dalam diri. Diam juga akan meleraimu dari kemungkinan mengungkit-ungkit dan mengumbar-umbar segala hal yang tak sepatutnya diungkit dan diumbar.
Mana ada ceritanya orang akan sudi merusak tatanan rambutnya sendiri di keramaian kecuali orang berantem karena gagal membendung gejolak ego emosinya kan? Tapi begitulah, dalam keadaan emosi, apa pun yang paling buruk, jelek, dan memalukan bisa saja dilakukan. Hilangnya nalar sehat menjadi biang kerok sejati segala tingkah-laku menjijikkan orang yang dilanda emosi.
“Diammu menunjukkan kalau kamu benar-benar ndak perhatian, ndak benar-benar sayang sama saya!” BBM-nya nyelonong lagi.
La Bahi ndak langsung balas karena masih sibuk buka pintu garasi rumahnya. Belum 2 menit, BBM-nya menyeruduk lagi:
“Mendingan kita pisah! Jalan sendiri-sendiri saja, itu lebih adil dan bagus buat masing-masing kita! Thx for everything, …jaga diri baik-baik nah”
Belum sempat La Bahi berpikir apa yang sedang terjadi, karena tadi dia sedang sibuk melipat celana boxer 4 jari kesayangannya, ehh…2 menit kemudian, BBM-nya nyemplung lagi:
“Acuhmu ini menunjukkan bahwa tawaranku untuk pisah denganmu sangat tidak salah. Hubungan cinta kalau sudah didasari keacuhan, pasti karena sudah lunturnya perasaan. sa jadi sadar belakangan ini kamu itu sangat ndak bisa memahami mauku ternyata karena kamu sudah ndak sayang sama saya….”
Baru saja La Bahi berniat membalas BBM sebelumnya tiba-tiba kembali BBM-nya masuk lagi,
“Baiklah, semoga kamu bahagia dengan wanita lainnya itu…sa doakan kamu dapat yang terbaik, sa sadar diri ji memang sy bukan yang terbaik buatmu…”
Ckckckckck....begini nih dampak sistematik gempa hati dan tsunami pikiran yang gagal membendung emosi. Kemana-mana urusannya: mulai tuduhan ndak sayang, acuh, hubungan ndak adil, hingga wanita lain…
Dengan iseng, La Bahi pun akhirnya membalas BBM-nya, “Jadi betulan ini kita pisah?”
Sang wanita ndak balas.
Kembali La Bahi BBM lagi, “Ya sudahlah, kalau kamu diam, berarti kita sudah resmi pisah toh…”
Belum juga La Bahi meletakkan HP BB TORCH nya itu, BBM dari sang pacar pun masuk, “Ohhh, jadi ko senang di.. kalau kita pisah! Bagooosssssssss…!!!”
“Lho kan kamu yang minta tadi? Ini BBM-mu masih ada sa simpan…”
“Menjengkelkanmu deh!!!!”
Yeee…yeee…capek dehhh…
Belum sempat La Bahi balas, BBM- sang pacar hadir lagi, “Besok pagi jangan telat! #lengkap dengan smile2 dan love2”
Ahaayyy…aw aw aw apa yang dikatakan wanita itu memang seringkali amat jauh dari maksud yang dikehendakinya. Sudah jelas-jelas sekali kan, semua BBM-nya dari tadi menyatakan pisah, pisah, ada wanita lain, ndak sayang lah, keputusannya yang ndak salah, malah pake acara doain segala semoga bahagia.
Hmmm...wanita oh wanita...
Semua laki-laki pasti sudah overdosis ditelan migrain untuk memahami apa sih sebenarnya yang dimauinnya. Bilang G, ternyata maksudnya I. Bilang L, ternyata maunya A. Dasar, GILA! Haaa…haa….
Okelah, besoknya La Bahi pun benar-benar on time menjemputnya. Eehh, dia belum siap, lamaaa sekali La Bahi dibuat menunggu. Giliran keluar, dia tersenyum kecil dan berkata pada La Bahi sambil memperlihatkan dandanannya.
“Gimana, keren kan?”
La Bahi pun dengan teliti mengamati sekujur tubuhnya, layaknya seorang editor professional yang ndak ingin kelepasan satu kata salah saja.
“Gimana?” suaranya mulai terdengar ndak sabar.
“Ehhmm, kerenlah, bagus skali nah sayang, good looking…” sahut La Bahi kemudian dengan suara agak datar.
“Yang betul ini?”
“Yupz…”
“Ah, kamu ini memang tukang gombal, kelihatan kalau kamu bohong tuh…Dasar komodo darat”
Ia mulai merengut sambil merapikan rambutnya yang agak awut-awutan.
“Rambutnya saja sih kok yang sepertinya agak tidak simetris dan kurang rapi saja…” Jawab La Bahi dengan terpaksa.
“Tu toh…! Kamu memang tukang gomballll! Sa Benci koo…!!!”
“Lho, bagaimanakah ini…?” La Bahi terbengong-bengong kayak tungku disiram air comberan.
“Asal ko tau nah sa dandan ini sudah sejam lebih tauk, capekkkk,nah..kamu datang-datang malah bilang tidak simetrislah, kurang rapilah, dasar kamuuu itu memang ndak pernah betul2 sayang sama saya, ndak pernah menghargai usahaku sama sekali…!!!”
Ampuuunnn, Maa...ampun bapak..ampun nenek dan kakek di kampung...Ampun... wahai pemirsa, pembaca, penonton dan seluruh pencinta wanita se-tanah air !!! Teriak La Bahi kencang dalam hati. Dijawab keren, dituduh tukang gombal. Disahuti jujur, divonis ndak sayang, ndak perhatian, sampai ndak menghargai pengorbanannya dandan yang sejam itu!
Duh wahai wanita sang Venus bintang terindah yang sinarnya begitu gemerlap, terbuat dari material apakah sebenarnya engkau, securam dan seterjal itukah jalan pikiranmu, seruwet itukah belukar hatimu. Ratap La Bahi dalam hati..
Ah dasar La Bahi, harap dimaklumi saja para pembaca sekalian sebangsa dan setanah air, karena ini adalah pengalaman pertama La Bahi dalam membina hubungan dengan lawan jenisnya sejak ia dalam kandungan hingga kini menginjak usia 22 tahun. Sebenarnya masa edarnya sebagai seorang laki-laki sudah nyaris expired, jadi adalah sebuah keajaiban dunia ke 8 setelah pulau Komodo akhirnya dia berhasil mengenal kata cinta dalam kamus hidupnya yang sudah lusuh itu. Sebagai seorang laki-laki yang sukses, sehat, cerdas, religi, tapi hedonis tentu kita tidak ingin menjadi seperti kisah La Bahi di atas.
Lalu bagaimana dengan Venus-Venus Anda saat ini? Ari L dalam sebuah lagunya berpesan bahwa "Sentuhlah ia tepat di hatinya maka ia khan menjadi milikmu selamanya" . Mungkin hipotesa ini benar, namun menurut saya tidak semudah itu untuk menaklukkan seorang wanita. Hal pertama yang dibutuhkan adalah kenalilah tipikal seperti apa Venus-mu itu kawan. Ada dua tipe wanita dalam mencintai, ada yang dominan menggunakan otak dan ada pula yang dominan menggunakan hatinya. Setiap tipe punya karakteristik masing-masing sudah barang pasti punya trik pendekatan yang berbeda pula. Mau tahu karakter dan triknya untuk masing-masing kategori? Maaf itu bukan untuk konsumsi publik. So, ternyata menyentuh hatinya pun bisa saja tidak cukup karena anda hanya akan menjadi Bahi-Bahi berikutnya.
Venus oh Venus...
Beckam??Alhamdulillah yah Very Something
Masih belum padam sepenuhnya bara euforia pencinta sepakbola terhadap penampilan timnas U-23 kita di SEA GAMES lalu kembali jagad persepakbolaan tanah air diguncang oleh hingar bingar kedatangan tim juara MLS LA GALAXY dengan sang maestro sekaligus mega bintang David Beckham sebagai episentrumnya. Tak ayal seluruh atensi publik pun tersedot ke arah sana, semua pencinta sepak bola pun melemparkan mata ke Jakarta.
Okelah Beckham mungkin bukan lagi Beckham saat masa jayanya dulu ketika masih berkostum MU atau Real Madrid, era Beckham sudah lewat tergerus oleh kencangnya torsi regenerasi pemain top dunia, tapi Beckham tetaplah Beckham, dia adalah magnet bagi sepakbola secara umum dan para wanita khususnya. Pesonanya sebagai pesepakbola dan terlebih sebagai seorang pria masih terlalu benderang untuk dibiarkan terbenam secara prematur begitu saja. Aura kebintangannya masih begitu gemerlap, skill olah bola, eksekusi bola mati dan umpan-umpan terukurnya masih sulit dicari bandingannya, akan halnya daya magis maskulinitasnya yang masih tetap dapat melelehkan wanita di empat penjuru mata angin sekaligus.
Beckham tak ubahnyai public enemy no.1 bagi laki-laki sejagad para pemuja hedonisme dengan anugerah kehidupan di dalam dan di luar lapangannya yang nyaris sempurna. Sebagai seorang pesepakbola ia bergelimang gelar dan prestasi baik secara tim maupun individu, sebagai seorang family man ia adalah suami yang setia beristrikan seorang selebritis sekaligus anak konglomerat (Victoria), ia juga adalah seorang ayah yang penyayang, punya rumah tangga yang harmonis dan jauh dari skandal, soal harta kekayaan tak akan muat dijabarkan satu per satu di note ini, dalam kehidupan sosial pun tak kalah mentereng sebagai seorang selebritas, sahabat-sahabatnya adalah para aktor dan aktris Hollywood papan atas. Membayangkannya saja sudah membuat beberapa liter iler menetes dan hati berbunga-bunga serasa terbang ke taman firdaus.
Lepas dari kehadiran Beckham yang bagi sebagian besar orang tetap sangat memukau, ada hal lain di kepala saya yang ndak kalah memukaunya. Bahkan, saking terpukaunya, mata saya sampai lompat-lompat keluar-masuk dari rongganya, sempat pula tercecer di depan Tivi saking terpananya. Untung, belum sampe dirubung semut atau dicampur dengan Sop Saudara disangka telur puyuh.
Apa lagi kalau bukan soal kemasan prosesi penyambutan Beckham, yang oleh panitia dipercayakan pada simbolisasi Syahrini.
Wadawww, apa ya hubungan Syahrini dengan bola? Apakah Syahrini sudah jadi pengurus PSSI? Ataukah Syahrini adalah pengamat bola yang tajam analisanya di negeri ini?
Jawaban atas pertanyaan kedua dan ketiga, mudah kita dapatkan. Bahwa Syahrini bukanlah pengurus PSSI, itu jelas. Bahwa Syahrini bukanlah pengamat bola, itu lebih jelas lagi, apalagi mengharap Syahrini mampu memberikan analisa tajam tentang bola.
Lalu, bagaimana dengan pertanyaaan pertama?
Ini yang menarik,
Kalau dipikir-pikir, bahkan sambil diterawangi sambil bertapa dan puasa 7 hari 7 pagi 7 siang dan 7 malam pun, hubungan dekat Syahrini dengan bola paling dekat untuk dinyambung-nyambungkan yah hanya hubungan laki-laki dan wanita. Laki-laki manapun, termasuk Beckham sebagai seorang pesepakbola, paling mudah terkendali bila ditangani oleh wanita. Ya, begitu faktanya. Tapi mengapa harus Syahrini ya, toh wanita juga seabrek banyaknya di Nusantara ini..
Nah, jangan lupa logika selanjutnya, bahwa bagi laki-laki, kekuatan paling awal yang ditandai dari seorang wanita adalah pesona fisiknya tentang visualisasi. Ya, itu kesan pertama. Berbeda dengan pandangan wanita pada laki-laki yang lebih peduli pada inner beauty dibanding fisiknya. Dan, kita ketahui bersama pula Syahrini memiliki kekuatan pesona yang dibutuhkan laki-laki itu, juga Beckham tentunya dong.
Maka mudah dipahami kan sampai di sini mengapa panitia mendapuk Syahrini yang memang ndak punya kompetensi pengetahuan apa pun, ndak punya wewenang ilmiah barang se-inchi pun tentang bola untuk menyambut Beckham. We know lah kapabilitas Syahrini di dunia hiburan tanah air ini, dia hanya terampil dalam 2 hal yaitu menyanyi dan ber- "Alhamdulillah yah sesuatu banget"..Namun lantaran ia memiliki apa yang dibutuhkan “kesan pertama” laki-laki, dan seorang Beckham tentu tak perlu dipertanyakan lagi kelaki-lakiannya. Bertolak belakang dengan Bung M. Khusnaeni yang meski jago sekali membahas tentang seluk beluk dunia bola tetapi kalah secara “kesan pertama” dibanding Syahrini.
Walaupun kalau harus jujur, saya pikir masih banyak kok di luar sana para artis yang memiliki pesona seperti Syahrini bahkan mungkin lebih menjual serta lebih dapat diterima dengan nalar karena misalnya dilengkapi dengan properti jago bahasa Inggris atau punya pengetahuan luas tentang sepakbola ataupun juga seorang Beckam-mania sejati seperti Donna Agnesia contohnya atau Putri Indonesia yang setidaknya lebih good looking dan punya inner beauty sekaligus mampu merepresentasikan wajah bangsa kita.
Kira-kira apa ya kemudian yang dibicarakan Syahrini dengan Beckham? Kalau bicara tentang bola, Syahrini pasti ndak bisa kan, kecuali dengan kalimat, “Bola itu sesuatu banget yaaa, bola itu alhamdulillah yaa…” Haaa..haaa..
inilah wajah peradaban negeri kita. Suka ndak suka, kita akan selalu menghadapi situasi budaya yang tak mampu kita bendung seperti peristiwa itu. Bahwa Syahrini sama sekali ndak kapabel untuk dijadikan duta bola Indonesia, jelas kita semua sepakat. Tetapi bahwa Syahrini memiliki “pesona pertama” bagi laki-laki, termasuk Beckham, yang diharapkan mampu menjanjikan kenyamanan bagi Beckham dengan sambutan fisikal begitu, begitulah yang terjadi.
Pentingkah mewakilkan potret sepak bola Indonesia ke mata Beckham melalui Syahrini yang ndak tahu apa-apa dan tidak punya andil apa pun pada sepak bola Indonesia? Jelas ndak penting. Tetapi bahwa simbolisasi Syahrini mampu menghadirkan kesan di kepala Beckham bahwa Indonesia itu negeri yang punya wanita molek dengan bahasa santun ber-alhamdulillah ya begitu, itu sepertinya berhasil, meskipun bulu mata palsu dan jambulnya yang tidak tepat tempat tidak tepat waktu dan tidak tepat guna itu sebenarnya "sesuatu" yang mengganggu indera visual banget yah.
Umpama yang menyambut Beckham adalah Bung Khusnaeni, yang sangat gila bola dan ahli tentang seluk beluk sepak bola sekaligus seorang kritikus dan komentator bola, pasti sisi menghadirkan antusiasme potret sepak bola Indonesia ke kepala Beckham berhasil. Tetapi sisi menampilkan wanita yang ala Syahrini ndak didapat.
Dan, ternyata, panitia memilih sisi kedua ini dibanding sisi pertama, memilih untuk menjadikan Beckham tidak terkesima dengan percaturan sepak bola Indonesia, tetapi terkesima dengan Syahrini.
Mau protes apa Anda dengan peristiwa itu?
Inilah negeri yang begitu suka meletakkan seseorang tidak pada porsinya dengan menafikan orang yang mestinya ada pada porsinya. Seperti itulah peradaban bangsa yang lahir karena adanya penghambaan pada kekuasaan dan kepentingan, tak perlu jauh-jauh mari kita lihat di tubuh birokrasi dan legislatif, pemandangan seperti ini sudah terlalu jamak. Memangku sebuah jabatan atau tanggung jawab yang benar-benar tidak ada hubungannya dengan disiplin ilmu mereka hanya karena bargaining politik, nepotisme ataupun sediit banyak diakibatkan keterbelakangan mental para pemegang pucuk kekuasaan itu sendiri. Sementara yang lebih berkompeten di bidangnya disingkirkan hanya karena berbeda haluan atau terlalu idealis misalnya. Simbolisasi Syahrini sekaligus membuka borok tentang evolusi budaya kompromi atau bargaining para elit birokrasi, bisnis dan politik hari ini yang sedang trend dalam hal berbagi kue-kue kapitalis mereka, yah itu tadi dengan wanita sebagai pemulusnya.
Namun jauh di kedalaman hati ini sebenarnya saya berharap bukan sosok seperti seorang Beckham yang kita datangkan. Bila tujuan luhurnya ingin menambah pengalaman bertanding timnas PSSI , saya rasa kita bisa lihat bagaimana mereka bermain ogah-ogahan tidak sepenuh hati malam tadi tidak sebanding dengan antusiasme publik dan lebay-ismenya media infotainment. Kalaupun tujuan luhur berikutnya adalah lebih mempopulerkan sepakbola dengan mendatangkan para idol-idol pesohor sepakbola dunia agar pencinta sepakbola di Indonesia semakin marak yang kemudian dapat mendukung tumbuh suburnya bibit-bibit pesepakbola nasional saya rasa hal itu tidak kita butuhkan lagi, karena saat ini dunia sepakbola tanah air kalau bisa saya katakan sudah overdosis peminat, berbanding terbalik dengan cabang bulu tangkis yang sebenarnya sudah wajib masuk Unit Gawat Darurat karena tak kunjung menemukan idola-idola baru, praktis bila era Taufik Hidayat dan Markis/Kido selesai maka dapat dipastikan kebesaran kita di dunia bulutangkis dunia pun tinggal sejarah.
Kebutuhan paling mendasar sepak bola kita hari ini adalah bagaimana agar timnas kita berprestasi !!! itu saja kok, masyarakat sepakbola kita sudah terlalu rindu akan hal tersebut. Sebagai respon, PSSI harusnya meningkatkan mutu dunia persepakbolaan kita terlebih dahulu. Kalau mau jujur sebenarnya sumber daya talenta itu kita miliki bahkan melimpah, liga nasional yang kompetitif juga kita punya, lalu dimana masalahnya? Mari saya ajak saudara-saudara sebangsa dan setanah air untuk sedikit berpikir, bila kita perhatikan di beberapa event internasional untuk level usia kategori di bawah 15 tahun, garuda-garuda cilik tak jarang menorehkan prestasi membanggakan, menggulingkan wakil-wakil dari negara yang lebih kuat secara tradisi sepakbola tanpa harus seperti timnas senior yang terus menerus berimajinasi liar mengemukakan alasan-alasan tidak masuk akal dengan mengkambinghitamkan masalah postur sebagai penyebab mereka selalu kalah di setiap event internasional. Artinya bakat dan talenta itu memang kita miliki namun kemudian ketika kita berbicara di level yang lebih senior timnas bukanlah "sesuatu" bahkan untuk di level Asia Tenggara sekalipun. Bila diibaratkan kita selalu menanam bibit-bibit unggul namun yang dipanen adalah buah-buah yang masam. Tanya kenapa?
Ada sesuatu hal yang menarik dari permainan timnas malam tadi, kembali masalah klasik itu menyeruak di atas lapangan, pemain kita memang baik secara individu tapi tidak secara tim, kerja sama antar pemain lemah, koordinasi antar lini tidak berjalan mulus, transformasi pergerakan posisi pemain dari menyerang ke bertahan atau sebaliknya adalah masalah paling besar timnas kita selama ini. Bandingkan dengan pola perpemainan yang dikembangkan LA GALAXY, mereka tidak banyak bergerak namun terlihat seperti berada di mana-mana di setiap senti sudut lapangan, karena pergerakan mereka efisien dan efektif, bergerak teratur sebagai satu kesatuan, disipilin dalam mengawal setiap area sesuai posisi masing-masing. Tak heran mereka pun mampu dengan seenaknya mengontrol jalannya pertandingan walaupun terkesan bermain santai. Karena mereka memiliki yang namanya INTELEGENSIA BERMAIN BOLA...ITU...(gaya MT)
Nah kembali ke masalah tadi, di level usia anak-anak lapangan yang digunakan adalah lapangan mini soccer sehingga untuk masalah formasi serta pola permainan pun belum menjadi hal krusial sebab di level usia seperti ini yang lebih berperan adalah murni skill individu para anak-anak tersebut maka tidak heran garuda-garuda cilik mampu berprestasi walaupun kalah secara postur. Lanjut, jadi intinya ketika berada di level senior kita kalah dalam hal intelegensia bermain yang mencakup pergerakan pemain, kerja sama tim, transformasi antar lini dll, Dasar-dasar taktik sepakbola seperti ini tidak dapat dibentuk simsalabim abracadabra dalam satu malam tapi butuh proses yang lama. Apalagi dengan perkembangan formasi modern yang begitu pesatnya mulai dari era Catenaccio Italia, Jogo Bonito Brazil, Total Footbal Belanda, sampai ke tiki taka Barcelona dan pragmatisme Mourinho. Maka sepakbola bukan lagi sepenuhnya tentang adu otot tapi juga adu otak pemain di lapangan. Di era digital seperti ini bahkan sebuah bola pun tidak lagi sepenuhnya bundar kawan. Pemahaman tentang intelegensia bermain ini pun mutlak harus dikembangkan sejak usia dini.
Masalah klasiknya adalah iklim sepakbola Indonesia tidak sekondusif di luar sana, kita tidak punya kompetisi berjenjang terutama di level usia dini dan remaja, kalaupun ada terkesan amburadul dan tidak konsisten setiap tahunnya, kita tidak punya fasilitas dan sumber daya kepelatihan yang kompeten untuk menangani para bibit-bibit unggul tersebut, program pelatnas pun tidak menentu terkadang jangka panjang tak jarang pula jangka pendek bahkan seringkali terkesan kejar tayang.
Padahal pembinaan usia dini adalah landasan pacu prestasi timnas ke depannya. Apa seterusnya setiap tahun kita harus mengirim timnas remaja ke Uruguay yang menghabiskan dana Miliaran rupiah dimana sebenarnya Uruguay bukanlah negara dengan latar belakang pembinaan pemain usia muda yang mumpuni.
Mengapa bukan sarana, fasilitas, kompetisi dan sumber daya kepelatihan dalam negeri kita saja yang ditingkatkan kualitasnya agar hal ini bisa lebih berkesinambungan nantinya atau untuk apa pula menghamburkan dana dengan mengundang bintang-bintang sepakbola dunia ke tanah air, saya pikir cara-cara instan seperti itu sangatlah tidak efektif akan lebih baik bila kita mendatangkan para pelatih-pelatih teknis atau scout talent (pemandu bakat) dari luar negeri yang ahli dalam pembinaan usia muda namun mereka didatangkan untuk sebuah proyek jangka panjang tentunya tidak hanya sekadar coaching clinic yang lebih sekadar sebagai acara temu kangen fans. Alternatif lain, kenapa kita tidak coba mengirim para pelatih, asisten, instruktur, manajerial, sampai ke fisioterapi dan ahli gizi kita ke luar negeri untuk berguru menguras ilmu dari negara-negara Eropa kiblat pembinaan sepak bola usia muda. Saya rasa PSSI era Djohar Arifin ini harus segera berbenah bila tidak ingin mengulangi kegagalan para pendahulu-pendahulunya beberapa dekade terakhir ini yang terlalu fokus pada kompetisi Divis Utama (LSI) yang memang lebih menguntungkan secara finansial namun juga sekaligus menafikan pembinaan usia muda sehingga regenerasi pemain timnas berjalan lambat. Beruntung Tim Persipura dan Pelita Jaya adalah dua tim yang berani memberikan kesempatan kepada pemain-pemain mudanya sehingga efeknya tampak jelas pada pagelaran SEA GAMES kemarin. Setidaknya Garuda di masa yang akan datang harus benar-benar terbang tinggi dengan kalungan medali atau gelar sebagai oase di tengah carut marutnya kondisi geopolitik bangsa ini..Mari buka mata buka hati PSSI..
Dengan penjualan tiket yang hanya terjual 1/3 nya saja dan cemoohan penonton pada sang mega bintang di sepanjang pertandingan setelah mengasari Andik Vermansyah, maka dengan berat hati harus saya katakan bahwa praktis yang paling banyak meneguk manfaat dari efek kedatangan Beckham kemarin tidak lain dan tidak bukan hanyalah Syahrini seorang...Alhamdulillah yah very something...
Wassalam
Okelah Beckham mungkin bukan lagi Beckham saat masa jayanya dulu ketika masih berkostum MU atau Real Madrid, era Beckham sudah lewat tergerus oleh kencangnya torsi regenerasi pemain top dunia, tapi Beckham tetaplah Beckham, dia adalah magnet bagi sepakbola secara umum dan para wanita khususnya. Pesonanya sebagai pesepakbola dan terlebih sebagai seorang pria masih terlalu benderang untuk dibiarkan terbenam secara prematur begitu saja. Aura kebintangannya masih begitu gemerlap, skill olah bola, eksekusi bola mati dan umpan-umpan terukurnya masih sulit dicari bandingannya, akan halnya daya magis maskulinitasnya yang masih tetap dapat melelehkan wanita di empat penjuru mata angin sekaligus.
Beckham tak ubahnyai public enemy no.1 bagi laki-laki sejagad para pemuja hedonisme dengan anugerah kehidupan di dalam dan di luar lapangannya yang nyaris sempurna. Sebagai seorang pesepakbola ia bergelimang gelar dan prestasi baik secara tim maupun individu, sebagai seorang family man ia adalah suami yang setia beristrikan seorang selebritis sekaligus anak konglomerat (Victoria), ia juga adalah seorang ayah yang penyayang, punya rumah tangga yang harmonis dan jauh dari skandal, soal harta kekayaan tak akan muat dijabarkan satu per satu di note ini, dalam kehidupan sosial pun tak kalah mentereng sebagai seorang selebritas, sahabat-sahabatnya adalah para aktor dan aktris Hollywood papan atas. Membayangkannya saja sudah membuat beberapa liter iler menetes dan hati berbunga-bunga serasa terbang ke taman firdaus.
Lepas dari kehadiran Beckham yang bagi sebagian besar orang tetap sangat memukau, ada hal lain di kepala saya yang ndak kalah memukaunya. Bahkan, saking terpukaunya, mata saya sampai lompat-lompat keluar-masuk dari rongganya, sempat pula tercecer di depan Tivi saking terpananya. Untung, belum sampe dirubung semut atau dicampur dengan Sop Saudara disangka telur puyuh.
Apa lagi kalau bukan soal kemasan prosesi penyambutan Beckham, yang oleh panitia dipercayakan pada simbolisasi Syahrini.
Wadawww, apa ya hubungan Syahrini dengan bola? Apakah Syahrini sudah jadi pengurus PSSI? Ataukah Syahrini adalah pengamat bola yang tajam analisanya di negeri ini?
Jawaban atas pertanyaan kedua dan ketiga, mudah kita dapatkan. Bahwa Syahrini bukanlah pengurus PSSI, itu jelas. Bahwa Syahrini bukanlah pengamat bola, itu lebih jelas lagi, apalagi mengharap Syahrini mampu memberikan analisa tajam tentang bola.
Lalu, bagaimana dengan pertanyaaan pertama?
Ini yang menarik,
Kalau dipikir-pikir, bahkan sambil diterawangi sambil bertapa dan puasa 7 hari 7 pagi 7 siang dan 7 malam pun, hubungan dekat Syahrini dengan bola paling dekat untuk dinyambung-nyambungkan yah hanya hubungan laki-laki dan wanita. Laki-laki manapun, termasuk Beckham sebagai seorang pesepakbola, paling mudah terkendali bila ditangani oleh wanita. Ya, begitu faktanya. Tapi mengapa harus Syahrini ya, toh wanita juga seabrek banyaknya di Nusantara ini..
Nah, jangan lupa logika selanjutnya, bahwa bagi laki-laki, kekuatan paling awal yang ditandai dari seorang wanita adalah pesona fisiknya tentang visualisasi. Ya, itu kesan pertama. Berbeda dengan pandangan wanita pada laki-laki yang lebih peduli pada inner beauty dibanding fisiknya. Dan, kita ketahui bersama pula Syahrini memiliki kekuatan pesona yang dibutuhkan laki-laki itu, juga Beckham tentunya dong.
Maka mudah dipahami kan sampai di sini mengapa panitia mendapuk Syahrini yang memang ndak punya kompetensi pengetahuan apa pun, ndak punya wewenang ilmiah barang se-inchi pun tentang bola untuk menyambut Beckham. We know lah kapabilitas Syahrini di dunia hiburan tanah air ini, dia hanya terampil dalam 2 hal yaitu menyanyi dan ber- "Alhamdulillah yah sesuatu banget"..Namun lantaran ia memiliki apa yang dibutuhkan “kesan pertama” laki-laki, dan seorang Beckham tentu tak perlu dipertanyakan lagi kelaki-lakiannya. Bertolak belakang dengan Bung M. Khusnaeni yang meski jago sekali membahas tentang seluk beluk dunia bola tetapi kalah secara “kesan pertama” dibanding Syahrini.
Walaupun kalau harus jujur, saya pikir masih banyak kok di luar sana para artis yang memiliki pesona seperti Syahrini bahkan mungkin lebih menjual serta lebih dapat diterima dengan nalar karena misalnya dilengkapi dengan properti jago bahasa Inggris atau punya pengetahuan luas tentang sepakbola ataupun juga seorang Beckam-mania sejati seperti Donna Agnesia contohnya atau Putri Indonesia yang setidaknya lebih good looking dan punya inner beauty sekaligus mampu merepresentasikan wajah bangsa kita.
Kira-kira apa ya kemudian yang dibicarakan Syahrini dengan Beckham? Kalau bicara tentang bola, Syahrini pasti ndak bisa kan, kecuali dengan kalimat, “Bola itu sesuatu banget yaaa, bola itu alhamdulillah yaa…” Haaa..haaa..
inilah wajah peradaban negeri kita. Suka ndak suka, kita akan selalu menghadapi situasi budaya yang tak mampu kita bendung seperti peristiwa itu. Bahwa Syahrini sama sekali ndak kapabel untuk dijadikan duta bola Indonesia, jelas kita semua sepakat. Tetapi bahwa Syahrini memiliki “pesona pertama” bagi laki-laki, termasuk Beckham, yang diharapkan mampu menjanjikan kenyamanan bagi Beckham dengan sambutan fisikal begitu, begitulah yang terjadi.
Pentingkah mewakilkan potret sepak bola Indonesia ke mata Beckham melalui Syahrini yang ndak tahu apa-apa dan tidak punya andil apa pun pada sepak bola Indonesia? Jelas ndak penting. Tetapi bahwa simbolisasi Syahrini mampu menghadirkan kesan di kepala Beckham bahwa Indonesia itu negeri yang punya wanita molek dengan bahasa santun ber-alhamdulillah ya begitu, itu sepertinya berhasil, meskipun bulu mata palsu dan jambulnya yang tidak tepat tempat tidak tepat waktu dan tidak tepat guna itu sebenarnya "sesuatu" yang mengganggu indera visual banget yah.
Umpama yang menyambut Beckham adalah Bung Khusnaeni, yang sangat gila bola dan ahli tentang seluk beluk sepak bola sekaligus seorang kritikus dan komentator bola, pasti sisi menghadirkan antusiasme potret sepak bola Indonesia ke kepala Beckham berhasil. Tetapi sisi menampilkan wanita yang ala Syahrini ndak didapat.
Dan, ternyata, panitia memilih sisi kedua ini dibanding sisi pertama, memilih untuk menjadikan Beckham tidak terkesima dengan percaturan sepak bola Indonesia, tetapi terkesima dengan Syahrini.
Mau protes apa Anda dengan peristiwa itu?
Inilah negeri yang begitu suka meletakkan seseorang tidak pada porsinya dengan menafikan orang yang mestinya ada pada porsinya. Seperti itulah peradaban bangsa yang lahir karena adanya penghambaan pada kekuasaan dan kepentingan, tak perlu jauh-jauh mari kita lihat di tubuh birokrasi dan legislatif, pemandangan seperti ini sudah terlalu jamak. Memangku sebuah jabatan atau tanggung jawab yang benar-benar tidak ada hubungannya dengan disiplin ilmu mereka hanya karena bargaining politik, nepotisme ataupun sediit banyak diakibatkan keterbelakangan mental para pemegang pucuk kekuasaan itu sendiri. Sementara yang lebih berkompeten di bidangnya disingkirkan hanya karena berbeda haluan atau terlalu idealis misalnya. Simbolisasi Syahrini sekaligus membuka borok tentang evolusi budaya kompromi atau bargaining para elit birokrasi, bisnis dan politik hari ini yang sedang trend dalam hal berbagi kue-kue kapitalis mereka, yah itu tadi dengan wanita sebagai pemulusnya.
Namun jauh di kedalaman hati ini sebenarnya saya berharap bukan sosok seperti seorang Beckham yang kita datangkan. Bila tujuan luhurnya ingin menambah pengalaman bertanding timnas PSSI , saya rasa kita bisa lihat bagaimana mereka bermain ogah-ogahan tidak sepenuh hati malam tadi tidak sebanding dengan antusiasme publik dan lebay-ismenya media infotainment. Kalaupun tujuan luhur berikutnya adalah lebih mempopulerkan sepakbola dengan mendatangkan para idol-idol pesohor sepakbola dunia agar pencinta sepakbola di Indonesia semakin marak yang kemudian dapat mendukung tumbuh suburnya bibit-bibit pesepakbola nasional saya rasa hal itu tidak kita butuhkan lagi, karena saat ini dunia sepakbola tanah air kalau bisa saya katakan sudah overdosis peminat, berbanding terbalik dengan cabang bulu tangkis yang sebenarnya sudah wajib masuk Unit Gawat Darurat karena tak kunjung menemukan idola-idola baru, praktis bila era Taufik Hidayat dan Markis/Kido selesai maka dapat dipastikan kebesaran kita di dunia bulutangkis dunia pun tinggal sejarah.
Kebutuhan paling mendasar sepak bola kita hari ini adalah bagaimana agar timnas kita berprestasi !!! itu saja kok, masyarakat sepakbola kita sudah terlalu rindu akan hal tersebut. Sebagai respon, PSSI harusnya meningkatkan mutu dunia persepakbolaan kita terlebih dahulu. Kalau mau jujur sebenarnya sumber daya talenta itu kita miliki bahkan melimpah, liga nasional yang kompetitif juga kita punya, lalu dimana masalahnya? Mari saya ajak saudara-saudara sebangsa dan setanah air untuk sedikit berpikir, bila kita perhatikan di beberapa event internasional untuk level usia kategori di bawah 15 tahun, garuda-garuda cilik tak jarang menorehkan prestasi membanggakan, menggulingkan wakil-wakil dari negara yang lebih kuat secara tradisi sepakbola tanpa harus seperti timnas senior yang terus menerus berimajinasi liar mengemukakan alasan-alasan tidak masuk akal dengan mengkambinghitamkan masalah postur sebagai penyebab mereka selalu kalah di setiap event internasional. Artinya bakat dan talenta itu memang kita miliki namun kemudian ketika kita berbicara di level yang lebih senior timnas bukanlah "sesuatu" bahkan untuk di level Asia Tenggara sekalipun. Bila diibaratkan kita selalu menanam bibit-bibit unggul namun yang dipanen adalah buah-buah yang masam. Tanya kenapa?
Ada sesuatu hal yang menarik dari permainan timnas malam tadi, kembali masalah klasik itu menyeruak di atas lapangan, pemain kita memang baik secara individu tapi tidak secara tim, kerja sama antar pemain lemah, koordinasi antar lini tidak berjalan mulus, transformasi pergerakan posisi pemain dari menyerang ke bertahan atau sebaliknya adalah masalah paling besar timnas kita selama ini. Bandingkan dengan pola perpemainan yang dikembangkan LA GALAXY, mereka tidak banyak bergerak namun terlihat seperti berada di mana-mana di setiap senti sudut lapangan, karena pergerakan mereka efisien dan efektif, bergerak teratur sebagai satu kesatuan, disipilin dalam mengawal setiap area sesuai posisi masing-masing. Tak heran mereka pun mampu dengan seenaknya mengontrol jalannya pertandingan walaupun terkesan bermain santai. Karena mereka memiliki yang namanya INTELEGENSIA BERMAIN BOLA...ITU...(gaya MT)
Nah kembali ke masalah tadi, di level usia anak-anak lapangan yang digunakan adalah lapangan mini soccer sehingga untuk masalah formasi serta pola permainan pun belum menjadi hal krusial sebab di level usia seperti ini yang lebih berperan adalah murni skill individu para anak-anak tersebut maka tidak heran garuda-garuda cilik mampu berprestasi walaupun kalah secara postur. Lanjut, jadi intinya ketika berada di level senior kita kalah dalam hal intelegensia bermain yang mencakup pergerakan pemain, kerja sama tim, transformasi antar lini dll, Dasar-dasar taktik sepakbola seperti ini tidak dapat dibentuk simsalabim abracadabra dalam satu malam tapi butuh proses yang lama. Apalagi dengan perkembangan formasi modern yang begitu pesatnya mulai dari era Catenaccio Italia, Jogo Bonito Brazil, Total Footbal Belanda, sampai ke tiki taka Barcelona dan pragmatisme Mourinho. Maka sepakbola bukan lagi sepenuhnya tentang adu otot tapi juga adu otak pemain di lapangan. Di era digital seperti ini bahkan sebuah bola pun tidak lagi sepenuhnya bundar kawan. Pemahaman tentang intelegensia bermain ini pun mutlak harus dikembangkan sejak usia dini.
Masalah klasiknya adalah iklim sepakbola Indonesia tidak sekondusif di luar sana, kita tidak punya kompetisi berjenjang terutama di level usia dini dan remaja, kalaupun ada terkesan amburadul dan tidak konsisten setiap tahunnya, kita tidak punya fasilitas dan sumber daya kepelatihan yang kompeten untuk menangani para bibit-bibit unggul tersebut, program pelatnas pun tidak menentu terkadang jangka panjang tak jarang pula jangka pendek bahkan seringkali terkesan kejar tayang.
Padahal pembinaan usia dini adalah landasan pacu prestasi timnas ke depannya. Apa seterusnya setiap tahun kita harus mengirim timnas remaja ke Uruguay yang menghabiskan dana Miliaran rupiah dimana sebenarnya Uruguay bukanlah negara dengan latar belakang pembinaan pemain usia muda yang mumpuni.
Mengapa bukan sarana, fasilitas, kompetisi dan sumber daya kepelatihan dalam negeri kita saja yang ditingkatkan kualitasnya agar hal ini bisa lebih berkesinambungan nantinya atau untuk apa pula menghamburkan dana dengan mengundang bintang-bintang sepakbola dunia ke tanah air, saya pikir cara-cara instan seperti itu sangatlah tidak efektif akan lebih baik bila kita mendatangkan para pelatih-pelatih teknis atau scout talent (pemandu bakat) dari luar negeri yang ahli dalam pembinaan usia muda namun mereka didatangkan untuk sebuah proyek jangka panjang tentunya tidak hanya sekadar coaching clinic yang lebih sekadar sebagai acara temu kangen fans. Alternatif lain, kenapa kita tidak coba mengirim para pelatih, asisten, instruktur, manajerial, sampai ke fisioterapi dan ahli gizi kita ke luar negeri untuk berguru menguras ilmu dari negara-negara Eropa kiblat pembinaan sepak bola usia muda. Saya rasa PSSI era Djohar Arifin ini harus segera berbenah bila tidak ingin mengulangi kegagalan para pendahulu-pendahulunya beberapa dekade terakhir ini yang terlalu fokus pada kompetisi Divis Utama (LSI) yang memang lebih menguntungkan secara finansial namun juga sekaligus menafikan pembinaan usia muda sehingga regenerasi pemain timnas berjalan lambat. Beruntung Tim Persipura dan Pelita Jaya adalah dua tim yang berani memberikan kesempatan kepada pemain-pemain mudanya sehingga efeknya tampak jelas pada pagelaran SEA GAMES kemarin. Setidaknya Garuda di masa yang akan datang harus benar-benar terbang tinggi dengan kalungan medali atau gelar sebagai oase di tengah carut marutnya kondisi geopolitik bangsa ini..Mari buka mata buka hati PSSI..
Dengan penjualan tiket yang hanya terjual 1/3 nya saja dan cemoohan penonton pada sang mega bintang di sepanjang pertandingan setelah mengasari Andik Vermansyah, maka dengan berat hati harus saya katakan bahwa praktis yang paling banyak meneguk manfaat dari efek kedatangan Beckham kemarin tidak lain dan tidak bukan hanyalah Syahrini seorang...Alhamdulillah yah very something...
Wassalam
Memuji Venus
Seperti De Javu, kembali di partai puncak berakhir antiklimaks, kita gagal dan kecewa untuk kesekian kalinya. Banyak yang bilang malam ini Garuda Muda hanya kalah karena dibombe' oleh dewi fortuna. Masalah kalah dan menang memang adalah hal biasa dalam sebuah pertandingan, namun menjadi tidak biasa ketika yang mengalahkan kita adalah kembali tim yang sama..sang musuh bebuyutan di dalam maupun di luar lapangan tim Harimau Malaya (yang sebenarnya lebih pintar mengeong daripada mengaum). Ya sudahlah faktanya hari ini kita kalah dan hanya dapat perak, cukup sampai disitu tak perlulah embel-embel tidak penting lainnya diperdebatkan lebih jauh lagi, bukankah kekalahan adalah pelajaran yang paling berharga bagi sebuah kesuksesan. Saya justru melihatnya dari sudut pandang yg sedikit berbeda, sangat jelas beberapa pemain kita tidak dalam performa terbaiknya malam ini, besar kemungkinan diakibatkan rasa gugup yang begitu mempengaruhi mental para pemain secara psikologis setelah diberi beban yang terlalu berat oleh harapan, antusiasme, euforia dan banjir pujian dari jutaan masyarakat pencinta sepakbola Indonesia..Sekali lagi...Seperti itulah dualisme mata sisi "pujian" kawan, dalam sekali waktu bisa saja ia menjadi senjata yang menguatkan atau malah sebuah racun yang dapat menggerogoti diri kita sendiri. Namun siapa sih di dunia ini yang tak suka dipuji ?? Baik lelaki, wanita, sampai para blasteran wanita-pria sekalipun dahaga akan yang namanya pujian. Mulai dari Daeng Rompoballa yang kemana-mana selalu pake headset di telinga dengan lagu Cherry Belle itu sampai Mbak Tarjiyem yang hobi main poker sampai tengah malam itu, sama saja semuanya akan tersipu malu bila dipuji. Mengapa begitu??
Karena pujian selalu mampu mengalirkan hangatnya kebermaknaan diri dalam hidup ini. Hadirnya rasa kebermaknaan diri itulah yang memicu diri menjadi pede, ceria, dan senang bahagia. Ndak pernah ada kan ceritanya orang yang lagi sedih, lalu kelakuannya lonjak-lonjakan di jalanan sambil cekak-cekikik begitu cerianya?
Naluri. Insingtif. Itu sifat dasarnya. Tetapi memang kemudian dalam ekspresinya, kaum laki-laki menjadi lebih mudah meletakkan puja-puji itu hanya selintas belaka. Tidak menjadikannya sangat penting dalam hidupnya. Apalagi terumuskan sebagai kebutuhan hariannya.
Ini berbeda dengan kaum wanita yang lebih sering begitu butuh pujian orang lain di sekitarnya sekadar untuk meyakinkan diri bahwa bedaknya sudah benar, jilbabnya sudah rapi, celananya sudah oke, sendalnya sudah keren, rambutnya sudah wangi, lipstiknya sudah merona, betisnya sudah semulus kaca, atau pakaiannya sudah matching. Pendeknya kaum wanita cenderung memprioritaskan kuantitas pujian dan mengabaikan kualitas pujian itu sendiri.
Wanita memang memiliki sensitivitas rasa yang lebih detail dan dalam dibanding laki-laki. Bagi laki-laki ini biasa saja, tidak penting dibahas, tapi bagi wanita bisa jadi itu divonis sebagai sikap ketakpedulian, ketaksayangan, atau pengkhianatan bahkan. Karena insting feminismenya yang mendorong untuk memperdulikan hal-hal detail terutama masalah penampilan dan sensitivitas rasanya yang begitu kuat itu (meski antar wanita beda-beda), maka sebaiknya kaum lelaki mau mengerti kondisi alamiah tersebut, dan tidak pelit untuk sekadar memberikan pujian pada wanita Anda. Ingat garis bawahi disini wanita-Anda bukan wanita orang lain..Kalau yang kamu puji wanita lain, maka wanitamu akan marah menyeruduk bak banteng terluka yang lagi datang bulan terus dipakekan kacamata riben merah lalu dilambai-lambaikan kain merah oleh matador berbaju merah..Hahh, bisa Anda bayangkan sendiri bagaimana suasana psikologis banteng terluka tersebut ??
Poin untuk tidak pelit memuji wanita ini selaras dengan pentingnya untuk menghadirkan keyakinan diri mereka akan segala sesuatu yang mereka lakukan atau pikirkan. Keyakinan diri ini sungguh luar biasa pentingnya, karena itu akan menjadi sumber kebermaknaan mereka dalam kehidupan nyatanya.
Soal apakah pujian yang kamu berikan berdasarkan kenyataan yang setimpal dengan tuturan pujianmu, biarkanlah itu menjadi hal lain yang ndak perlu terlalu diperlihatkan. Yang terpenting dalam konteks ini adalah untuk memberikan keyakinan diri pada wanitamu agar hadir rasa kebermaknaan diri itu demi kenyamanan bersama. Itu saja motifnya, bukan kok untuk gombal, apalagi berkadal atau berbuaya apalagi berkomodo ria.
Tapi..heemm…bagi kaum wanita sendiri juga idealnya tidak begitu saja melarutkan diri dalam samudera pujian itu. Bahwa mendapatkan pujian sebagai jawaban untuk meyakinkan diri, okelah itu sah-sah saja. Tapi bila kebutuhan ini sampai menuju ranah pemaksaan untuk mendapatkan jawaban yang diinginkan, pujian yang diharapkan, tentu sikap ini tidak perlu ditanamkan dalam hatimu.
Itu berarti semestinya pujian itu disikapi dengan kritis dong. Buat apa kamu mendapatkan pujian yang senyatanya pujian itu hanyalah bualan belaka? Cowokmu bilang, “Ya, rambutmu wangiiiii sekali…” padahal sebenarnya bau santan kelapa gitu, yang misal pujian itu dimaksudkan agar kamu tidak selalu cemberut, jelas ini hanya akan merugikan dirimu sendiri kan. Tapi jika kamu menyikapi setiap pujian dengan kritis, yang itu tidak membuatmu hanyut begitu saja oleh pujian-pujian, yang menandakan bahwa kamu tidak berposisi untuk hanya mendapat pujian, tapi juga masukan, bahkan kritik, niscaya sikap itu akan membuatmu lebih obyektif dan rasional.
Masa sih kamu akan marah bila cowokmu bilang rambutmu bau santan kelapa, bila ternyata benar rambutmu memang bau santan kelapa? Bila kamu memilih marah, plus bumbu tuduhan “Ndak menghargailah, ndak romantislah…”, apakah lalu rambutmu menjadi hilang bau santan kelapanya??
Ndak kan?!
Tetap saja santan kelapa itu semerbak di rambutmu, meski kamu marah semarah apa pun, karena itu adalah sebuah masukan, kritik obyektif, nyata, yang ndak akan berubah tanpa diubah olehmu sendiri.
Maka, sejatinya, jika kamu hanya ingin mendapatkan pujian yang tidak sesuai dengan kenyataannya, berarti kamu tidak dalam posisi mencari kebenaran, tetapi hanya pembenaran. Dan, ingat, pembenaran sama sekali tidaklah dekat dengan kebaikan. Pembenaran hanya akan selalu menjadi topeng terbaik bagi wajah kebenaran.
Sebaliknya, jika kamu ingin mendapatkan kebaikan untuk dirimu sendiri, ya kebenaran itu, maka sepatutnya kamu mampu bersikap kritis dan obyektif terhadap segala pujian yang datang. Benarkah pujian itu obyektif atau sekadar bualan? Jika pujian itu adalah kebenaran obyektif, tentu kamu patut bersyukur dan bangga. Tapi jika itu hanya bualan, tentu kamu harus waspada dong terhadap mulut buaya angora itu kan.
Oh ya, penting juga buat kamu ingat selalu bahwa sejatinya puja-puji apa pun, apalagi yang hanya bualan, takkan pernah mengangkat kamu ke tangga yang lebih tinggi sedikit pun. Kamu akan tetap berada di level yang kamu injak, meski sekarung pujian hinggap di wajahmu. Sama halnya kamu ndak akan terpesorok ke level lebih rendah meski se-truk cacian menghantamu.
Ya, kamu akan tetap menjadi dirimu sendiri di hadapan lautan pujian apa pun dan dari siapa pun.
Misal, ada kenalan baru bilang begini, “Aku yakin pasti di sekitar rumahu ada pabrik genting ya, sebab wajahmu semanis Ayu Ting Ting…” Atau, “Bapak kamu kerja di Bank yah? karena aku akan menabungkan cintaku di hatimu..” Hooo..hooo… Atau," Ibu kamu dulu waktu mengandung kamu pasti mengidam coklat yah??pantas anak gadisnya semanis ini" atau “Boleh pinjam hp kamu gak? aku mau sms Tuhan terima kasih telah menciptakanmu ke dunia ini…”
Mungkin, kamu akan melambung-lambung tinggi hingga kepala tertanduk di plafon rumah, merasa bermakna sekali dalam kehidupan, percaya dirimu deras menyemprot kemana-mana.
Tapi, coba pikir obyektif dan kritis, benarkah dirimu semenarik itu? Kalaupun iya, apakah lantas nilai dirimu akan benar-benar bertambah tinggi di mata masyarakat sosial sekitarmu??
Ndak kan. Yang melompat lebih tinggi karena pujian itu hanyalah “ego semu” belaka, sama persis dengan yang anjlok sedemikian rendahnya akibat cacian ya hanya “ego semu” itu. Sementara dirimu sendiri kan tetap berada di posisi yang sama..
Lantaran pujian pun bekerja dalam ranah “ego semu”, seyogyanya kita bisa meletakkannya secara proporsional dalam diri kita sendiri. Jangan minta dipuji terus menerus, toh itu cuma memuaskan ego semumu, bersifat kamaflase, dan bahkan bisa jadi berbahaya buat dirimu sendiri bila ternyata pujian itu bukan atas dasar kenyataan.
Besar sekali kan kemungkinannya pasanganmu memilih praktis menggombal saja demi memenuhi desakanmu untuk memujimu siang malam, pagi sore, Subuh Maghrib, padahal itu bisa membuatmu ndak pernah menyadari kekurangan dan kelemahanmu. Ujungnya, kamu sendiri yang rugi kan…
Misalnya saja, kamu ngotot ndak sudi mendengar sebutan “gaptek” atas keterbatasan nyatamu yang tidak bisa bedakan MMS dan BBM. Kamu hanya ingin menerima pujian, bukan masukan. Kalau sampai pacarmu sebut kata “gaptek” ke kamu, maka sontak kamu akan marah-marah dan bilang “ndak perhatian, sungguh terlalu, ndak sayang, mulai bosan ya, menyebalkanmu deh, dasar kadal, dll…”
Apa lalu kamu jadi jago IT dengan sikap antipatimu pada masukan dan kritik itu? Apa lalu kamu jadi pintar mengaplikasikan I-Pad hanya gara-gara kamu dipuji serba pintar dan juara IT? Apa kamu lalu benar-benar mengerti untuk membedakan istilah “software” dan “hardware” yang sebelumnya ndak kamu tahu gara-gara dipuji?
So, buat para cewek, mengharap dipuji bolehlah, itu naluri dasar kok, tapi jangan sampai buatmu buta mata terhadap mutu pujian itu: benaran atau gombalan. Sebaliknya buat cowok, jangan pelit memujilah, tapi sepatutnya bukan pujian gomballah, sebab itu nggak akan memberikan perkembangan positif bagi pasangan.
Bahwa sang Venus pun memang butuh yang namanya pujian...itu fakta yang ada..
Namun ada juga saat dimana gombal-gombal dan bualan itu dibutuhkan. Sekadar basa basi pemanis hubungan yang tengah gersang oleh rasa bosan misalnya namun dalam koridor kedua pasangan menyadari dengan sepenuhnya bahwa hal tersebut hanyalah gombal di waktu senggang yang tak akan memberi dampak negatif apapun bagi keduanya. Karena memang seperti itulah laki-laki dilahirkan untuk menjadi seorang penggombal tanpa perlu lulus dengan nilai sastra bahasa Indonesia A atau 100, tanpa perlu sepuitis Chairil Anwar, tak butuh secerdas Einstein, tak usah sebijak Mario Teguh, tak juga perlu se religi Ary Gindandjar, tanpa butuh secakep Yamapi, tak juga butuh suara semerdu Afgan, tak usah pula se-komunikatif Putra Nababan atau se-humoris Sule, sebab memang setiap lelaki punya bakat itu yang modalnya hanya satu yaitu air mulut hanya bedanya bakat tersebut ada yang terasah tajam dan adapula yang masih tumpul. Setiap kita pasti menyadari bahwa seperti ada jalan pintas virtual antar bibir dan otak para lelaki sehingga tak perlu heran kosa kata gombal itu bisa lahir seenaknya kapan dan dimanapun sedangkan sebaliknya para wanita memiliki jalur by pass bebas hambatan antara telinga dan hatinya hingga semua apa yang didengarnya cenderung dengan cepat tepat masuk ke dalam hatinya tanpa sedikitpun dicerna terlebih dahulu oleh otak.
Tapi, bagaimana bila ada kasusnya cewek yang selalu minta dipujiiiiiiii terus tanpa boleh ditawar? Padahal dia gaptek sekali, misalnya?
Baiklah Bro ini sa kasih sebuah tips rahasia nah warisan seseorang yang mengakunya anti lemot:
Bila pasanganmu menuntut dipujiiii terus, padahal aslinya gaptek sekali, plis jangan marahin dia…jangan kritik dia…jangan kata-katain dia…jangan sebut dia bodoh…jangan hina dia…jangan sekali-kali permalukan dia…tetapi ajaklah dia bicara empat mata…bicara dari hati ke hati…di tempat yang hening penuh khidmat dan romantis sambil genggam tangannya…tatap matanya dengan dalam dan sepenuh rasa sayangmu…lalu bisikkan dengan lembut ke telinganya…NDESOOOOOOO….!!!!
Makassar, 22 November 2011
Ryo
Langganan:
Postingan (Atom)





