Kamis, 07 Juli 2011

Iseng Membawa Petaka


 Tak pernah terbersit sedikit pun di kepala saya ketika iseng menulis status siang tadi tentang larangan Nabi Bachi kepada umat Muslim untuk melaksanakan shalat dan taat beribadah akan membuat kehidupan saya hari ini terasa begitu horor dan mencekam. Bagaimana tidak , tepat 2 jam setelah status itu diupdate tiba-tiba hape saya berdering dengan ringtone lagu Bruno Mars berjudul  I wants to be a Billionaire..No hpnya tidak terdaftar, di layar terpampang no 021878344118, no yang aneh sepertinya, setelah memegang hp dan berpikir sejenak lalu saya putuskan mengabaikan panggilan ini dan kembali tidur siang. Namun baru saja hp saya menyentuh bantal, kembali terdengar deringan panggilan dari nomor yang sama, tanpa berpikir lagi 1893x825-90+56:12 hasilnya berapa, langsung saja saya terima panggilan ini..


Saya : Assalamu alaikum..Halo..


Penelepon : ( terdengar suara berdehem, lalu muncullah jawaban mengagetkan dengan nada serak dan sepertinya suara laki-laki paruh baya) Ooo..pake salam juga yah sampean saya kira bkn Muslim..sontoloyo....!!

Seperti tersambar petir di siang hari, saya tergagap tak tahu harus menjawab apa..dengan mengucap istighfar dalam hati saya pun berusaha tenang agar tidak terpancing emosi dan dapat berpikiran jernih, ah siapa tahu ini salah sambung atau mungkin teman yang lagi iseng mo ngerjain pikirku dalam hati berusaha menenangkan diri.


Saya : Maaf, ini dari siapa yah ??mau bicara sama siapa pak?

Penelepon : Minta maaf lah sama Tuhanmu Allah SWT, anda ini khan Ananto Suarbhakti yang ada di facebook khan yang sudah beberapa hari ini mengaku sebagai nabi dan baru saja membuat status yang menyesatkan..naudzubillah. saya akan halalkan darah anda untuk saya minum....


Saya : (ekspresi tersedak menelan ludah, tersentak kaget) ooh maaf..dari mana tahu yah no hp saya pak?

Penelepon : yah dari kolom info kamu lah di fb disitu kan tercantum email, alamat dan no hp kamu, udah ga usah byk bacot deh lu  setan kafir !!!


Saya : (tepuk jidat) waduh...maaf saya lupa...ooh bisa saya jelaskan pak..sebenarnya nabi bachi itu bkn saya..tapi seorang mahasiswa teman saya kebetulan kami satu daerah asal..

Saya pun memutar otak dan tiba2 melintas ide brilian di kepala saya, "Bahi..ada telponmu ada yang mau bicara ini ..!!!

"Bahi : (mata merah baru bangun, suara malas semalas-malasnya ) yah halo...siapa ini ?

Penelopon : halo..Anda nabi bachi itu yah ?udah, ga usah banyak alasan saya udah tahu keberadaan kalian dan kalian akan menjadi target bom buku kami berikutnya bangsat haram jaddah....!!! tut..tutt...tuut....(suara telpon putus)


Bahi hanya berdiri melongo,hp saya jatuh dari genggamannya sesaat dia hanya diam terbujur kaku seperti patung,  kesadarannya mengawang-awang,  wajahnya sontak pucat memutih, dengkulnya menggigil, ingusnya meleleh...

Dan saya pun terbangun dari tidur siang..ah saya cuman mimpi ternyata.....

Trilogi Debat Hot Ustadz vs Nabi Palsu (Part 3)

Ketika kau tak sanggup melangkah
Hilang arah dalam kesendirian
Tiada mentari bagai malam yang kelam
Tiada tempat untuk berlabuh
Bertahan terus berharap
Allah selalu di sisimu

Insya Allah, Insya Allah
Insya Allah ada jalan
 ....
> Sepanjang Jalan



Lantunan melodi religi dipadu suara bening nan merdu menghanyutkan khas Fadly dan Maher Zain  membuat setiap lirik dari lagu ruhani tersebut begitu dalam menyentuh, menjelajahi qalbu ini hingga ke sisi paling terpencilnya. Kuperbaiki kembali letak headset  di kedua kupingku tak ingin kehilangan sedetik pun sensasi elasi dari ruh lagu ini. Tak kuhiraukan lagi dua debat-ers psyko di hadapanku ini yang entah untuk kesekian kalinya berganti "medan tempur" (baca : topik/tema)  dengan begitu mudah layaknya mengganti channel TV pake remote.


"BODOHMU JUGA DAN KAMU INI...MAKANYA BANYAK-BANYAK KO MAKAN GARAM !!!

Tiba-tiba kalimat sarkastik dengan frekuensi giga-an Hertz tersebut menggelegar dari tengah forum, memaksa jiwaku yang tadinya sedang menari-nari riang di "padang sahara" alam bawah sadarku diiringi alunan musik kembali ke raganya. Ternyata semprotan itu baru saja keluar dari mulut La Iwan, entah bagaimana asal muasalnya yang jelas ditinjau dari sudut pandang manapun saya pikir kalimat itu lebih dari cukup untuk membuat gempa bumi lokal berkekuatan di atas 10 SR berguncang hebat di setiap centi harga diri La Bachi.  Mudah-mudahan tidak akan berlanjut dengan longsornya kepercayaan diri atau bahkan lebih parah lagi yaitu tsunami air mata dari La Bachi..Semoga..(Lets pray for Bachi)..

Selidik punya selidik ternyata inilah missing dialog bergenre keyakinan yang menjadi sebab musabab rentetan "bencana alam lokal" di atas :

Nabi Bachi : Ko setuju tidak kalau saya bilang sebenarnya kita tidak pernah diperintah oleh Allah untuk melaksanakan shalat? ( sambil tepuk-tepuk nyamuk)

Ustadz Iwan : haaa..apa ??(mulut menganga, nyamuk menghindar) ckckckck..belajar agama dimanakah kamu ini...

Nabi  Bachi : Sekarang ko cari ayat yang menyuruh melaksanakan? tidak ada toh? yang ada itu mendirikan.

Ustadz Iwan : Tidak samakah itu?

Nabi Bachi : Bedalah, mendirikan itu sudah pasti telah melaksanakan tapi melaksanakan belum tentu telah mendirikan

Ustadz Iwan : Iyo paeng, sebetulnya sa masih belum terlalu paham tapi supaya tidak berlanjut lagi, kita kembali ke pokok persoalan awal tadi. apa sebenarnya tujuanmu shalat?

Nabi Bachi : sabar dulu, satanya lagi kau..setuju tidak kalau saya bilang taat ibadah saja tidak cukup.

Ustadz Iwan : haa...apa lagi itu? ada-ada saja kamu ini laa..

Nabi Bachi : ih serius ini, kalau hanya taat apa bedanya kamu dengan mesin atau robot hanya taat saja hanya patuh saja. (senyum tipis khasnya penuh kebanggaan)

Ustadz Iwan : (geleng-geleng kepala) hmm..iyoh iyoh pale..hanya permainan bahasa saja itu, sekarang kembali ke  tema awal tadi..jadi apa tujuannya kau shalat?

Nabi Bachi : Kalau menurut saya karena shalat itu hukumnya wajib ( 5 waktu ) dan untuk mendapat pahala ..@#$%&^** (dialog yang ini sebetulnya panjang dan teramat bertele-tele, "circular reasoning" paling ribet yang pernah saya dengar jadi terpaksa diedit dan diringkas atas inisiatif penulis demi menghemat waktu)

Ustadz Iwan : Berarti kamu ini ibadah hanya karena mo cari pahala saja gara...

Nabi Bachi : iya toh orang beribadah itu pasti supaya dapat pahala supaya masuk surga..

Ustadz Iwan : oo berarti kau ini  tidak ikhlas shalat karena ada yang ko harapkan. Mungkin kalau ada di alfa mart yang jual pahala  sama surga pasti ko nda shalatmi toh toh...tomaeka...wkwkwkwkk ( tertawa setengah guling-guling jebakan betmen nya berhasil)

Nabi Bachi : ah tidak toh...tunggu sa berpikir dulu..(menoleh ke saya, tatapan matanya memelas semelas-melasnya memohon bantuan atau setidaknya time break)

Saya : (goyang-goyang kepala dengar musik)

Ustadz Iwan : kenapa Bachi lama skali ko berpikir eh??ko mau tunggu wahyukah..dasar Nabi Palsu..haha..

Nabi Bachi : Biarmi saya Nabi Palsu dari pada kau Setan/ iblis..

Ustadz Iwan : Biarmi saya setan, asal ko tau nah setan itu jujur lihat dia terang-terangan mengaku sama Allah akan menghasut manusia, setan itu tepat janji buktinya sampai sekarang dia terus menghasut manusia lakukan dosa, setan itu sabar dan gigih liat dia lakukan segala cara supaya manusia terhasut. jadi setan ternyata punya sifat-sifat lebih mulia daripada kamu laa...wkwkwkwkwk

Nabi Bachi : (dahi mengkerut) ah bisanya... salah itu pemahamanmu..namanya setan pasti tidak ada baiknya.. IQ jongkok memang kamu ini eh.

Ustadz Iwan : biarmi saya IQ jongkok..daripada kau IQ tiarap..otakmu saja masih lebih besar jarum pentul ini mungkin..haha..

Nabi Bachi : Memangnya ko bisa liat otak ku kah?

Ustadz Iwan : Bisa toh, di-rontgen saja toh kepalamu..susah kamma...tapi kayaknya khusus kalau orang-orang kayak kamu ini pasti sudah tidak ada otakmu biar di rontgen tidak akan kelihatan..

Nabi Bachi : hekalea..masu akala..

Ustadz Iwan : ane moha'a ka'asi..aimo taruhan ko traktir saya satu bulan makan di sari laut sama coca cola 1 botol per hari kalau betul yang sa bilang..

Nabi Bachi : (tanpa pikir panjang, telinganya selalu meninggi dan melebar kalau dengar kata taruhan) serius itu??..betul???...ayo..tapi kalau terbukti ada otakku kau yang traktir saya eh...iyo..ayo..deal...(penuh semangat)

Ustadz Iwan : hahaha...wkwkwkwkwk...xixixixixi(ketawa guling-guling, 5 kali guling ke kiri 6 kali guling ke kanan)...sa tipu2 kau bodo..anak kesehatan macam apa kamu ini...masa ada orang yang di-rontgen kepalanya bisa kelihatan otaknya pasti hanya tulang tengkorakmulah yang kelihatan kalau yang bisa kelihatan dengan otak itu kecuali Sidi Scan (maksudnya kayaknya CT SCAN)... hampirmi ko traktir saya satu bulan di sari laut sama coca cola..nyaris jadi Gayus lagi saya 1 bulan eh..hahaahhahah....

Haaaiihhh.... "BODOHMU JUGA DAN KAMU INI...MAKANYA BANYAK-BANYAK KO MAKAN GARAM !!!

Setelah melalui proses yang sangat panjang dan melelahkan ALhamdulillah debat dengan tajuk " Terpanas dan Paling Edukatif Abad Ini"  pun ditutup oleh kalimat berhuruf kapital di atas, berakhir sempurna bagi La Iwan dan antiklimaks cenderung naas bagi La Bachi. Tampak jelas logika La Bahi seperti kura-kura pincang yang ingin mengejar kepiting lincah dalam wujud nalar La Iwan. Terlepas dari benar tidaknya hubungan antara garam dan kecerdasan atau apakah kalimat itu punya makna lain misalnya saja merupakan sebuah majas, entahlah biarkan itu menjadi rahasia bertiga antara La Iwan, Tuhan dan Google saja. Saya juga tidak akan ikut campur demi tidak berlanjutnya debat yang sudah cukup memualkan ini.

Saya lebih tertarik untuk membuat sebuah pemetaan baru yang mungkin belum pernah ditulis di referensi manapun, bahwa dalam berdebat akan ada 3 tipologi karakter yang bisa mencuat.

Pertama adalah tipe Pendebat seperti La Bachi, karakter seperti ini cenderung untuk selalu mengambil alur pemikiran berlawanan dari lawan bicara demi menghadirkan sebuah "ring bertarung argumentasi", tak perduli dia berdiri di pihak yang lemah, salah atau bahkan sebenarnya bertentangan dengan hati nuraninya. Argumennya diramu sedemikian rupa hingga selalu menjadi antitesis dan anti teori dari sang lawan.  Tak heran tipe seperti ini sering tersesat di labirin penalaran yang dibuatnya sendiri, tak jarang malah mereka menjadi seperti pengembara yang tersesat di hutan rimba tanpa kompas.

Kedua adalah tipe Pengkritik seperti La Iwan, karakter tipe ini lain lagi. Dia memiliki kecenderungan untuk mencari kelemahan setiap argumen dari lawan tarung debatnya, dia tak perduli lagi dengan argumentasinya sendiri, yang penting baginya adalah  menyerang semua sisi negatif dari argumentasi kubu lawan tanpa ampun tanpa belas kasihan sedikitpun..

Ketiga adalah tipe Pengkritis seperti saya mungkin (hehe), karakter tipe ini jauh lebih unik.  Walaupun hanya dibedakan oleh huruf S dan K dari karakter sebelumnya ternyata dalam teori dan prakteknya jauh berbeda. Tipe Pengkritis lebih menggunakan perangkat penalaran, mencari sebab musababnya, menganalisis alasan-alasan, mengumpulkan fakta-fakta pendukung argumen hingga produk akhirnya adalah sebuah argumentasi yang kokoh dan nyaris tanpa celah.

Lantas saya mencoba menilik beberapa "ajaran sesat" Nabi Bachi pada bagian awal dialog di atas, hanya sayangnya ketika saya konfirmasi setelah debat usai ternyata dia memilih bungkam, entahlah mungkin dia masih syok atau mungkin juga memang sebatas itulah yang ia pahami. Tak apalah, saya memilih maklum saja. Akan seperti itulah bila argumentasi yang digunakan hasil memulung ide dari luar bukan dari proses penalaran atau rasionalisasi sendiri. Mateko..masih mauko "payyabo ide" ..haha

"Shalat adalah tiang agama'
Tak akan ada  barang seorang pun umat Muslim yang akan mendebat akan hal ini. Karena shalat memang adalah sebuah penyangga dari fondasi keimanan setiap kita, itulah mengapa ayat yang turun adalah perintah "mendirikan" shalat, bukan sekedar melaksanakan, bukan sembarang tiang namun merupakan tiang yang memiliki konstelasi arisitektur kokoh mengakar dalam tanah. Mari kita eksplorasi lebih jauh apa yang coba dijabarkan oleh Nabi Bachi dan Ustadz Iwan di atas.

Untuk apa kita shalat ?
Sejatinya shalat adalah sebuah konsekuensi dari syahadatain yang terikrar dan sebuah ungkapan kecintaan tiada terkira serta terima kasih tiada berbatas kepada Allah SWT atas nikmat tak berujung yang telah dianugerahkan. Seorang Aburizal Bakrie atau Bill Gates sekalipun tak akan mampu membayar nikmat setiap helaian napas dan nikmat setiap detakan jantung seumur hidup mereka apalagi nikmat harta melimpah yang dititipkan  pada mereka.

Al Qur'an dan Hadist meriwayatkan bahwa perintah shalat diterima Rasulullah begitu istimewa melalui peristiwa Mi'raj, Jadi shalat sebenarnya adalah sebuah perjalanan spritualis setiap Muslim untuk menghadap Allah SWT, shalat adalah sebuah momen dimana manusia dapat begitu dekat dengan Tuhan-Nya, saat dimana mahluk yang diciptakan bisa begitu intim dengan Sang Penciptanya.

Namun seiring perkembangan zaman kemudian terjadi bias terhadap motif dalam pelaksanaan ibadah shalat ini seperti salah satunya yang disebutkan oleh Nabi Bachi namun saya mencoba mengeksplorasinya lagi :

Pertama yaitu sebagai upaya untuk menggugurkan kewajiban, untuk membayar hutang bahwa shalat adalah wajib. Haram hukumnya bila ditinggalkan. Dan konsekuensinya akan masuk neraka. Tuhan dibayangkan seperti tukang kredit yang minta hutang. Atau seperti hakim yang ditangan-Nya sudah siap siaga sebuah palu. Dan shalat dengan motivasi seperti ini biasanya akan cepat selesai. Baru saja selesai takbir, sudah langsung ruku', lalu seterusnya begitu cepat hingga tampak seperti seekor ayam yang mematuk-matuk makanannya. Singkatnya, begitu kita lengah sekejap, dia sudah langsung selesai. Entah apa yang dibacanya dalam shalat tidak jelas. Tapi dia merasa puas: “Hmm … aman pula satu soal. Hutang sudah saya bayar. Selamat dari azab neraka.”

Menyinggung tentang hal ini sering saya merenung mengapa pahala dan nikmat surga sering menjadi iming-iming yang dijanjikan oleh Allah SWT atas setiap ibadah sebagaimana pula dosa dan siksa neraka menjadi hukuman atau konsekuensi dari setiap kemungkaran yang diperbuat layaknya manusia adalah anak kecil yang kerap diiming-imingi permen bila patuh dan taat juga diancam dengan hukuman bila melanggar. Ternyata secara psikologis sisi kesadaran terdalam manusia yang melibatkan hati kecilnya akan bergetar hanya oleh 3 hal yaitu Harap, Takut dan Cinta. Dalam pengharapannya, dalam ketakutannya dan dalam mabuk cintanya ternyata manusia memiliki kecenderungan lebih tinggi untuk mengalami sebuah evolusi kesadaran kosmik.

Kita lanjut ke motif kedua yaitu shalat untuk melarikan diri dari ketidakberdayaan hidup, sebagai morfin psikologis atau sebagai katarsis. Merupakan pengalihan secara psikologis. Misalnya karena stress, bingung, kalut, ketakutan dan sejenisnya. Biasanya, begitu kekalutan hilang, gairah shalat akan langsung melorot. Dan kalaupun tetap shalat, biasanya motivasi sholat akan pindah ke motivasi yang pertama: “Untuk bayar hutang agar tidak berdosa”.

Ketiga shalat untuk menghindar dari penilaian sosial. Misalnya segan karena semua orang shalat, maka secara psikologis refleks kaki melangkah untuk ikut berbondong-bondong mengambil wudhu dan akhirnya shalat dihadapan orang lain. Dengan tujuan, agar lingkungan tetap menganggap dirinya adalah orang baik-baik.

Keempat shalat untuk mengharapkan impian yang tidak pernah tercapai dalam kehidupan nyata. Ini mirip anak-anak yang merengek agar diberi mainan. Shalat yang seperti ini akan merusak mentalitas menjadi mental penjilat. Dan biasanya, segala keberuntangan yang diperoleh selalu disugesti karena kemurahan Tuhan. Efeknya secara psikologis, akan membuat pribadi lemah. Tidak hidup otentik. Dan sebaliknya ketika mendapat kemalangan, maka itu disugesti sebagai cobaan yang didatangkan Tuhan. Efeknya secara psikologis, tidak pernah mengakui kesalahan secara sportif. Segala kekurangan, kekacauan hidup dihayati sebagai tindakan Tuhan. Sedang diri sendiri diindokterinasi tidak terlibat. Dengan kata lain, motivasi shalat seperti ini akan menciptakan pribadi yang suka cuci muka, cuci tangan dari kesalahan diri.

Kelima shalat untuk membangun image. Agar dunia tahu bahwa diri taat. Bahwa diri benar-benar orang yang baik dan mulia. Bahkan merasa suci dari orang yang tidak shalat. Efek psikologis dari motivasi shalat seperti ini adalah shalat menjadi tumbal politik psikologis. Sebagai kenderaan untuk membangun citra diri.

Kelima contoh di atas adalah sebuah fenomena populis yang jamak ditemukan di keseharian kita termasuk saya sendiri masih sering menjadi pelanggan motif shalat seperti ini.  Bilamana shalat hanya dimaknai sebagai sebuah RITUAL saja dengan mengejawantahkan nilai-nilai SPIRITUALIS nya. Tidak ada lompatan kuantum yang terjadi ketika takbir, tak ada kesadaran makrokosmos dan getaran qalbu di setiap lantunan bacaan shalat, tak ada rasa kerinduan di setiap salam, serta tak ada akselerasi laju adrenalin moral dalam perilaku setelahnya.  Ketika nilai-nilai spritualis tersebut dapat menyatu dalam setiap bacaan dan gerakan shalat maka yakin dan percaya shalat tak akan lagi menjadi sebuah kewajiban tapi bertransformasi menjadi sebuaah kebutuhan hingga akan selalu ada kerinduan terhadap perasaan intim ketika "berjumpa" dengan sang Khalik. Terlebih tak bisa dipungkiri bahwa keimanan adalah sebuah properti dari alam bawah sadar manusia yang paling bersifat fluktuatif, rawan akan terjadinya "inflasi" maka semakin sentral lah posisi shalat sebagai penjaga kestabilan dari grafik keimanan tersebut. Sementara pahala dan nikmat surga hanyalah sebuah paket bonus dari shalat itu sendiri.

Namun dalam Islam kita kenal 3 level kesadaran dalam beribadah yaitu : syariat, hakekat dan makrifat. Setiap ibadah apapun motifnya termasuk 5 motif yang disebutkan tadi, saya yakin dengan pasti akan selalu mendapat apresiasi dari Allah SWT Sang Maha Pemurah, sebagai pembelajaran menuju ke level kesadaran yang lebih tinggi..LEARNING BY DOING...sebab bahkan sebuah keikhlasan pun bisa lahir dari kebiasaan yang awalnya terpaksa.

Lalu bagaimana agar shalat bisa khusyu ?
Masalah kompleks yang masih terus menjadi misteri, sudah banyak training dan pelatihan tentang trik dan tips agar shalat khusyu bisa diwujudkan namun nyaris tak ada indikator yang bisa dijadikan parameter dari ke-khusyuan sebuah shalat sehingga menimbulkan beragam persepsi tentang shalat khusyu itu sendiri. Khusyu tidak bisa diungkapkan, tapi dirasakan….., tidak bisa digambarkan tapi diniatkan dan direncanakan. Hanya Allah yang akan memberi tahu kekhusyuan kita saat pertemuan nanti jadi khusyu adalah rahasia antara setiap manusia dan Allah dalam perjumpaannya di setiap shalatnya. Khusyu akan menyatu dengan jiwa, meresap disegenap pori-rori , menjalar dialur nadi, terpancar dalam aura, terbaca dalam sikap dan laku, energy dari keagungan ayat-ayat-Nya akan menebar dan tersebar disekitar kita, semua akan tereflesikan dalam indahnya akhlak, karena puncak ibadah adalah AKHLAQUL KARIMAH dan pada hakekatnya orgasme spritual atau produk akhir dari sebuah shalat adalah "Mencegah perbuatan keji dan munkar".
Mari menshalati nilai-nilai kehidupan dengan segala kesadaran bathin akan totalitas makna hidup.

Poin kedua yang menarik dan perlu dieksplorasi dari dialog antara Nabi Bachi dan Ustadz Iwan di atas adalah tentang apa yang disebut oleh Ustadz Iwan sebagai permainan bahasa dalam Al-Qur'an. Bahwa ayat-ayat Al-Qur'an ternyata kerap menimbulkan multitafsir atau multi persepsi sehingga dalam penafsiran terhadap ayat-ayatnnya kita tidak bisa memenggal sepotong-sepotong atau sebagian ayat saja tetapi perlu mencerna beberapa ayat sebelum dan sesudahnya terlebih dahulu,  jangan pernah menelannya mentah-mentah (antitafsir). Tak terelakkan bahwa perbedaan tafsir terhadap Al Qur'an dan Al Hadist, perbedaan persepsi terhadap sejarah Islam, serta adanya infiltrasi dari paham-paham di luar Islam seperti Ilmu Filsafat atau bahkan Nasrani dan Buddhisme kemudian menjadi tonggak dan pioner lahirnya berbagai mahzab, berbagai maqam dan aliran dalam Islam. Dalam era kekinian terorisme menjadi contoh bagaimana sebuah persoalan tafsir yang nampaknya sepele bisa membuat Islam dicap sebagai agama teror, agama kekerasan, fanatik membabi buta dan premanis.

Mengapa ayat-ayat Al Quran sampai menimbulkan multi tafsir dan mengapa harus demikian?
Mari kita eksplorasi lebih jauh lagi..
(La Bachi tiba-tiba memotong, kenapa kau ini daritadi eksplorasi terus?)
(Saya : Hanya manusia hidup yang melakukan eksplorasi, setelah mati dikubur di tanah maka eksplorasi diteruskan oleh cacing dan tanah.. mengertiko?susah memang karena kau itu selalu lain yang dihidangkan lain yang ko kunyah..jadi daripada tambah banyak lagi syaraf-syarafmu yang putus mending ko pergi makan garam sana..haha)
(Bachi : Teriak histeris, lari ke dapur, makan garam kristal satu ember, besoknya dirawat di RS dengan diagnosis Hipertensi Malignancy post berdebat et causa makan garam satu ember)

Persoalan mengapa Al-Qur'an harus multitafsir saya pikir ini adalah rahasia dari Allah SWT, namun secara logika kita dapat menalar bahwa seandainya Allah SWT menurunkan ayat-ayat Al-Qur'an beserta penjelasan-penjelasan lengkapnya panjang lebar maka bisa dibayangkan akan setebal apa Al Qur'an tersebut nantinya. Sementara tentang multi tafsir hal ini tak lepas dari kenyataan bahwa ayat-ayat Al Qur'an kaya akan metafor-metafor yang baru akan ditemukan maknanya bila huruf-hurufnya ditelanjangi kulitnya terlebih dahulu. Al Qur'an adalah karya sastra Maha Agung bernilai seni tinggi yang diturunkan oleh Allah SWT untuk umat-Nya. Bahkan seorang penyair terkenal di akhir milenium ini sekelas Khalil Gibran yang notabene non Muslim pun kerap terinspirasi dari ayat-ayat Al Qur'an..
Karena sungguh Allah SWT adalah penyair terbesar Maha Jenius yang pernah ada
Di setiap jazirah
Di sepanjang zaman

NB : Untuk yang terhormat saudara La Ode Bahiruddin S, Farm tak ada maksud sedikitpun utk menindas anda dari trilogi note ini apalagi sampai pembunuhan karakter berencana seperti yang banyak orang tuduhkan. Mungkin ini hanyalah sebuah Organized Character Assassination jadi tolong anda jangan salah paham. Demikian note ini dibuat untuk dipergunakan sesuka Anda.

Ryo
(19 Juni 2011)

Diam di balik pena
Menggema dalam sejarah
Menelanjangi kabut zaman
Merobek imajinasi pembaca
Terseok-seok digulung ide. Dijungkir balikan oleh fantasi
Kadang begitu dekat, kadang jauh melambung entah kemana,
Lalu tiba-tiba menukik tepat di jantung hati.

Trilogi Debat Hot Ustadz vs Nabi Palsu (Part 2)


Waktu terus merayap, malam semakin pekat, suasana makin hening yang terdengar hanyalah igauan dua anak muda ini diiringi suara jangkrik yang berpenyakit insomnia menambah aroma horor perdebatan yang semakin nanar ini.  Ideologi terus saling tubruk tanpa ampun, postulat-postulat dan dogma-dogma begitu rajin bersilangan, arus nalar dan logika sangat deras berlalu lalang tanpa aturan, intonasi suara meninggi beberapa oktaf memecah kesyahduan malam. Habis sudah semua analogi serta generalisasi dipaparkan, entah premis-premis, afforisme dan apologi apa lagi yang belum digunakan namun sudah puluhan topik yang dikaji dan dianalisa sebanyak itu pula deadlock alias jalan buntu terjadi. Saya tidak lagi melihat wajah mereka berdua di hadapan saya saat ini namun yang tampak adalah berkelabatnya wajah-wajah Al Ghazali, Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Ibnu Arabi, Al Hallaj, Iqbal, bahkan Aristoteles, Kant, Marx, Frued, Sartre, hingga Nietzsche, Derrida, dan Foucault, nama-nama ini hadir lewat pemikiran-pemikiran mereka yang sukses dicopy paste secara elegan dan tanpa ampun di forum diskusi oleh dua orang anak manusia ini.

Seiring berhembusnya napas malam semakin saya mengerti apa yang menjadi penyebab hingga gelanggang wacana ini berubah menjadi debat kusir di mana saya yakin tak ada seorang kusir pun di dunia ini yang mau diperdebatkan oleh mereka. La Bachi pada dasarnya berbekalkan referensi ilmiah yang  melimpah ruah namun apalah artinya referensi ilmiah se-container itu bila tak dapat dibuat menjadi sebuah argumentasi yang kokoh. Ratusan ide hanya akan memfosil sebagai sebuah ide bila tidak disatukan menjadi sebuah argumentasi yang baik dan benar, ibaratnya seperti ratusan lidi yang berserakan hanya akan menjadi sampah bila tak disatukan, tak akan berfungsi sebagai sapu lidi bila tak diikat menjadi satu dengan ikatan dan cara yang tepat. Ketika seorang La Bachi berbicara maka yakin dan percaya kesan pertama yang tertangkap oleh siapapun lawan bicaranya pasti akan dibuat terkagum-kagum dengan luasnya cakrawala berpikir anak ini, namun bila ditelaah lebih lanjut ternyata pemahamannya hanya berada di wilayah superficial, pemikirannya hanya berputar-putar di daerah "kulit" bahkan kalau mau jujur harus saya katakan "kulit terluar" saja selebihnya itu hanyalah derivasi dan polarisasi dari aliran Bachi-ismenya yang lahir dari kajian Cocok-logi nya (ilmu mencocok-cocokkan) tanpa nyaris sedikitpun menyentuh substansi dari masalah. Dia adalah teratai, yang dari darat terlihat begitu angkuh mengayomi namun ternyata gampang terseret angin karena akarnya tak tertancap di tanah.

Sedang La Iwan sebenarnya memiliki semua syarat untuk menelan abis semua alibi La Bachi, wawasannya lebih dari cukup, logikanya jalan, filosofinya jauh ke depan, namun persoalannya adalah dia sering tidak punya timing yang tepat. Saat punya peluang nyata untuk mengeksekusi "tarian retorika" La Bachi sayangnya dia sering terburu-buru dan sedikit emosional sehingga kehilangan kontrol dan di saat itulah La Bachi berhasil menghindar, menyelematkan diri walaupun sudah bersimbah darah dan nyaris terpenggal otak mungilnya. Analoginya, La Iwan ini seperti Fernando Torres di depan gawang yang karena timing buruk dan emosional di kotak penalti maka akhirnya kehilangan akurasi pada penyelesaian akhir. Bila Gadner mempopulerkan kecerdasan majemuk, Goleman angkat nama dengan teori kecerdasan emosi nya, dan Ginandjar berhasil me-nasional-kan teori kecerdasan spritual nya maka G-bachi dan G-iwan juga berhasil mengharumkan nama dengan teori kecerdasan HOTO AKALA mereka yang kira-kira sealiran dengan paham tipu-logi.

Dari pengamatan saya sejauh ini yang menjadi inti permasalahan adalah pola pikir mereka yang sangat berbeda seperti air dan minyak sangat tidak mungkin untuk disatukan, cobalah kalau anda ngotot untuk menyatukan dua unsur ini dalam wajan yang dipanasi maka hanya akan menghasilkan letupan atau percikan panas seperti itu pula yang sedang terjadi dalam debat ini, mereka selalu memutuskan untuk menggunakan kacamata yang berbeda merk dalam mengamati segala sesuatunya. Tidak ada orisinalitas dan karakter disini, pemahaman mereka bak bunglon yang selalu bertransformasi sesuai dengan kondisi dan topik. Di awal perdebatan saya menilai La Bahi cenderung memandang suatu persoalan dari sudut pandang filsafat sedangkan La Iwan memilih alur retorika layaknya seorang cendekiawan muslim, dan seiring gaharnya pertempuran ide ini La Bahi semakin mengentalkan aroma liberalismenya membumbuinya dengan paham pragmatisme dan begitupun sebaliknya la Iwan juga semakin ortodoks, fundamentalis atau bahkan bisa dibilang sedikit radikalis. Namun ketika berganti tema tanpa sadar mereka pun otomatis berganti posisi sekarang La Iwan yang cenderung berhaluan “kiri” sedangkan la bahi sebaliknya. Ahh..entahlah mungkin inilah debat paling kusir sekusir-kusirnya kusir..saya sendiri sebagai moderator hanya bisa geleng-geleng kepala seraya  berdoa semoga tidak ada lemparan batu dari para tetangga.

Dan topik yang meminta korban air liur berliter-liter malam ini adalah tentang teori kebenaran dan Tuhan, mungkin karena berdua mereka adalah alumnus dari organisasi hijau hitam di kampusnya masing-masing yang memang begitu terkenal dengan doktrinisasi-nya tentang teori kebenaran ini sehingga begitu percaya diri mengeluarkan dalil dan postulasi tentang pencarian dan pembuktian Tuhan layaknya Tuhan adalah sosok yang sedang bersembunyi di suatu tempat di dunia ini dan meminta kepada mereka untuk ditemukan, layaknya Tuhan pernah meminta mereka untuk membuktikan keberadaannya, layaknya Tuhan akan berkurang ke-MAHA-annya bila tak dibuktikan kebenarannya,  layaknya Tuhan adalah mainan mereka yang begitu gampang di analogikan dengan berbagai premis dan aforisme yang sebenarnya hanyalah permainan bahasa belaka, lalu apakah bahasa punya semua kosa kata tentang segala hal yang terjadi di bumi dan langit ini? Jawabannya TIDAK..karena bahasa adalah produk sosial dari manusia, bahasa adalah budaya yang selalu berubah seiring dengan evolusi kesadaran manusia, karena bahasa adalah ciptaan manusia sementara manusia sendiri adalah ciptaan Tuhan jadi sangat tidak mungkin bahasa mampu menjawab tentang keberadaan Tuhan. Singkatnya, bahasa memang diciptakan oleh manusia untuk saling berinteraksi secara horizontal bukan vertikal. Sekeras apapun usaha logika, bahasa dan IPTEK sejak zaman dahulu berusaha mencari Tuhan mereka selalu gagal (Noumena) paling jauh mereka hanya dapat meneliti tentang gejala-gejala alam ( Fenomena) sebagai tanda adanya Sang Absolut, Sang Ada, Sang Causa Prima, The Being alias Tuhan itu sendiri. Sebab Tuhan adalah sang ghaib (immateri) tak akan mungkin dibuktikan dengan sesuatu yang sifatnya materi. Tuhan bersifat abstrak konseptual sementara manusia kongkrit operasional itulah hukum alamnya.

Lalu mengapa religiusitas agama dan aliran filsafat acapkali berbenturan ketika berbicara konsep Ketuhanan? Kemudian mengapa sebagian para agamais memandang filsafat sebaga pem-berhala-an terhadap akal sementara sebagian para filsuf menganggap agama sebagai produk kebudayaan, hasil budidaya manusia secara kolektif sepanjang sejarah yang akhirnya mengendap menjadi sebuah dogma??  Jawabannya adalah karena ada perbedaan yang sangat mendasar disini, agama adalah tentang meyakini dan hakekatnya adalah keimanan. Meyakini keberadaan Tuhan lewat firman-firmanNya yang kemudian terelaborasi dalam kitab suci, sementara filsafat adalah murni tentang berpikir dan merenung sebagai aksesorisnya, filsafat mengejar kebenaran dengan pertanyaan berantai sampai pada hakekatnya tanpa terikat oleh dogma agama sedikitpun.


Para pemikir agama/ filsuf Islam (teologi) berpikir dengan titik tolaknya adalah kitab suci sehingga mereka memiliki rel yang jelas, memiliki sekat yang nyata, memiliki peta penjelas dalam alur pemikiran dan perenungannya hingga dapat menambah keyakinan mereka terhadap Sang Pencipta dan kitab suci itu sendiri. sedangkan filsafat murni secara epistimologis titik kulminasinya adalah titik nol berangkat dari kesadaran hakiki sebagai seorang manusia, sehingga tidak memiliki batas, batas logikanya adalah kolong pikiran, batas cakrawalanya adalah kemanapun mata memandang. Maka tak heran dalam kembara pencarian maknanya sebagian para ahli filsafat tak kunjung menemukan kebenaran definitif, tak juga dapat membuktikan keberadaan Tuhan karena keterbatasan LOGIKA/AKAL manusia itu sendiri bahkan tak jarang mereka tersesat di dalam petualangan kesadarannya tersebuti.

Saya rasa inilah yang salah, para ahli filsafat aliran ini cenderung mencari Tuhan dengan melihat ke "luar" bukan ke "dalam", padahal Allah SWT sudah berjanji dalam suatu hadist "Barangsiapa yang mendekatkan diri kepadaKu sejengkal maka Aku mendekatkan Diri kepadanya satu hasta. Dan barangsiapa yang mendekatkan diri kepadaKu satu hasta maka Aku mendekatkan Diri kepadanya satu depa. Barangsiapa yang datang kepadaKu berjalan, maka Aku mendatanginya dengan lari-lari kecil.
Lalu menjadi paradoksal disini, bukankah para ahli filsafat ini sudah berusaha mencari Tuhan , apakah Tuhan ingkar janji?jawabannya TIDAK..menurut saya cara pendekatannyalah yang salah.. Lantas dengan cara apa kita mendekatkan diri pada Tuhan ??yah tentu saja dengan keimanan meyakininya dengan hati bukan dengan logika.

Toh ALLAH SWT tidak pernah butuh verifikasi dari filsafat karena Dia akan tetap sebagai Sang Maha Segalanya begitupula Islam tak akan kekurangan ke-shahih-annya dengan atau tanpa pengakuan dari filsafat.

Sebagai katarsis dari rasa frustasinya sebagian para ahli filsafat non muslim seringkali menyerang Islam dengan konteks Hermeunetika mempertanyakan keberadaan Allah SWT yang menurut mereka hanyalah imajinasi manusia semata, mempertanyakan keotentikan AL Qur'an yang bagi mereka adalah produk budaya dan sejarah termasuk mukjizat-mukjizat di dalamnya yang dianggap sebagai cerita mistis belaka bahkan juga mempertanyakan tentang ibadah-ibadah yang dianggap sebagai hipnotisasi diri, opium bagi pemuasan dahaga ruhani. Jawaban kita sebagai umat Muslim tentunya mengacu pada Al Qur'an dan  Al Hadist sebagai pedoman kita juga adanya  kitab-kitab sejarah Islam yang mendukung namun sekali lagi mereka tidak akan menerima ini karena mereka butuh fakta empirik yang diterima nalar. Kita tidak mungkin menarik mereka ke zaman Nabi Muhammad atau zaman pra Rasulullah untuk memberi jawaban yang mereka minta karena kita tidak memiliki mesin waktu Doraemon. Dan memang disinilah letak perbedaannya, Agama adalah tentang meyakini dan Filsafat tentang berpikir. Di dalam agama ada sebagian hal yang memang harus kita terima saja tanpa mempertanyakannya panjang lebar karena hal ini justru sebagai penguji kadar keyakinan dan keimanan kita. Sederhananya, saya kasih sebuah gambaran, ketika kita akan naik pesawat apakah kita harus mempertanyakan terlebih dahulu apakah sang pilot memiliki ijazah atau sertifikat?? apakah kita akan mempertanyakan otentis dan orisinalitas ijazahnya??, apakah harus meminta bukti sudah berapa kali ia menerbangkan dan mendaratkan pesawat ini dengan mulus?? apakah pesawat ini betul-betul layak terbang?apakah kita harus memeriksa onderdilnya satu persatu??apakah kita harus bertanya pada BMG tentang cuaca hari ini??apakah data BMG itu akurat??dan masih banyak pertanyaan lainnya yang bisa diajukan, kita tidak akan pernah tahu pilotnya sudah benar, pesawatnya memang layak terbang, cuaca memang sedang baik sampai kita tiba dengan selamat di TUJUAN KITA. Kebenaran absolut itu akhirnya akan  muncul ketika masanya tiba di hari AKHIR nanti yang menjadi tujuuan akhir dari kita semua. Jadi jelas fondasi keimanan yang hakiki adalah tentang MEYAKINI dengan sepenuh hati dan buat kita umat muslim itulah konsekuensi dari sebuah syahadatain.

Jikalau dengan akalnya saja manusia mencari Tuhan maka dia akan mencari di tempat yang jauh dan tinggi lalu mencoba meraih langit sementara sangat jelas mereka masih menjejak di bumi hingga akhirnya manusia koyak di antara keduanya.

     Ryo
12 Juni 2011

Tahukah anda mengapa Nabi Bachi melarang umat muslim MELAKSANAKAN shalat dan TAAT beribadah ??
Coming so on...

Trilogi Debat Hot Ustadz vs Nabi Palsu (Part 1)


Malam ini  kamar berukuran 4x4 meter yang kami huni terasa lebih menggerahkan dari siang hari, ada aroma "dendam balado" tercium dari 4 penjuru sudut kamar yang sumbernya dari tatapan-tatapan mata 2 anak manusia yang sedang saling memandang berhadap-hadapan seperti mencoba menyelami pikiran masing-masing, berusaha menakar tingkatan daya intelektualitas satu sama lain. Yang satu tatapan matanya begitu bengis seperti preman pasar Ciamis hanya kurang kumis klimis sedang yang satunya lagi bermata burik dengan alis lentik suka pake baju batik bermotif lurik.  Yah malam ini untuk yang kesekian kalinya mereka telah dalam posisi siap tempur berpose bak dua petinju di atas ring yang tinggal menunggu dentuman bel untuk memulai pertarungan. Mungkin "tarung debat' kali ini adalah gelaran yang paling prestisius dalam kurun waktu setahun ini, harga diri dan almamater kampus jadi taruhannya, bara apinya terasa lebih membara daripada kongres ricuh PSSI beberapa bulan silam.

Sebelum mereka mulai "berperang logika" mungkin ada baiknya saya perkenalkan terlebih dahulu dua mahluk yang entah kenapa begitu ngotot untuk diakui sebagai manusia ini. Ladies n gentleman...dari sudut biru kami perkenalkan seorang mahasiswa yang selalu bergaya necis, berpikir pragmatis, cenderung kritis, sedikit autis dan kalau tertawa mirip Telletubies inilah dia...
Iwaaaaan The Q'Lost  (nama samaran-red)...
Dengan rekor 23 kali bertanding, 1 kali menang angka, 1 kali draw selebihnya  kalah WO tanpa bertanding,  5 emas, 3 perak, 1 tembaga, 2 nikel...and then from the red corner.. dengan rekor 11 kali menyet 12 kali ditolak.. titik!!! tidak kurang dan tidak lebih...seorang akademisi sejati prototipe mahasiswa modern yang hedonis, terkadang idealis, suka narsis, cenderung berpikir liberalis, selalu eksis, dan anda tahu Kiwil ?yah Persis... Kita sambut saja (berhubung sakralnya nama ini disebut agar kiranya para pembaca dimohon melakukan standing ovations terlebih dahulu dengan tepuk tangan 3278 kali)...
Inilah dia....Putramahkotasimpaikeramatgarisketurunanterakhir..
The Golden Boy..Bachiiiiiiruuuuuudddiiiinnnn (nama sebenarnya-red)...#sayup-sayup menggema lagu "Udin Sedunia" layaknya soundtrack film.
Sebagai tambahan informasi bahwa ciri kepribadian kedua anak Adam ini belum terpetakan oleh textbook psiko analisa manapun di dunia makanya hingga kini mereka masih dalam tahap riset penelitian oleh beberapa psikiater (pakar ahli kejiwaan).
Dan saya sendiri nama saya akan ada di akhir tulisan, malam ini menjabat sebagai moderator merangkap notulen merangkap juri merangkap security merangkap cheerleaders merangkap anggota forum merangkap seksi dokumentasi dan konsumsi.

Entah setan apa yang sedang merasuki saya malam ini hingga mau saja diserahi tugas dan tanggung jawab maha penting di atas karena biasanya bila melihat pose "siap tempur" mereka seperti ini saya akan langsung ke kamar lalu kunci pintu, putar musik dengan volume tinggi lalu tidur tapi entahlah malam ini sepertinya saya harus rela mengikhlaskan diri walau setengah hati menjadi saksi hidup sejarah debat adu intelektualitas berlabelkan " terpanas dan paling edukatif abad ini " ...dan tentu saja siap menanggung resiko begadang hingga larut malam dengan disertai sakit perut entah itu karena masuk angin, entah kekenyangan cemilan ataupun karena tertawa terpingkal-pingkal hingga guling-guling dan jungkir balik setengah kayang..Kami memang penggemar insomnia tapi apalah gunanya begadang bila tiada gunanya kata Bang Rhoma...ya sudahlah singkat kata singkat cerita kita  lanjut ke paragraf berikutnya...

Dengan track record di atas kali ini La Iwan berada di atas angin, terbukti dia diunggulkan untuk menang oleh beberapa bursa taruhan dunia berbekalkan senjata filsafat copy pastenya dia siap menerkam dan memelintir ideologi La Bachi. Namun La Bahi juga tidak bisa dipandang remeh begitu saja, biasanya saat berada di posisi tidak diunggulkan  seperti ini dia sering membuat kejutan (istilahnya seperti BAbi HItam..oups maksud saya kuda hitam) dengan strategi counter attacknya. Siapa yang tak kenal La Bachi sosok yang tersohor karena sering menciptakan berbagai teori baru di segala bidang dimana terkadang hanya dia dan Tuhan yang mengerti. Dia kemudian membuat inti sari dari semua teori barunya itu dan membentuk sebuah ajaran/aliran baru bernama Bachi-isme. Mudah-mudahan saja suatu hari kelak dia tidak berminat untuk menjadi seorang  Nabi palsu.. Semoga...

Siapa sih di dunia ini yang tidak pernah berdebat, mulai dari mewahnya gedung DPR, sejuknya warung kopi hingga berlumpurnya pasar tradisional menjadi saksi bagaimana sebuah ideologi dipertahankan betapa daya nalar meletup-letup berusaha menyokong sebuah pemahaman , bahkan di teras-teras rumah seringkali dijumpai ibu-ibu tetanggga bergosip ria lalu berdebat sambil berjejeran saling berburu kutu..yah selalu saja ada perdebatan dari skala mikro sampai makro, baik itu perorangan ataupun kelompok, mulai dari lingkup keluarga hingga lingkup negara yang jauh lebih luas cakupannya, baik itu masalah yang menyangkut hajat hidup orang banyak sampai masalah tetek bengek misalnya tim mana yang lebih hebat Barcelona atau Inter Milan??Adu argumen dan silang pendapat begitu jamak kita dapati di kehidupan keseharian manusia. Semuanya adalah wajar dan sah-sah saja dalam tatanan kehidupan sosial humanis, karena tak bisa dipungkiri manusia adalah mahluk multipersepsi dan memiliki self defense yang cenderung egois, hingga lahirlah berbagai bentuk perdebatan tersebut. Hakekatnya, memang perdebatan lahir karena adanya perbedaan, intinya perbedaan pola pikir atau main stream, sederhananya beda kepala beda isi. Satu objek bisa dimaknai dengan selaksa persepsi oleh masing-masing manusia tergantung sudut pandang yang digunakan serta imajinasinya masing-masing sebab sungguh manusia adalah mahluk yang dianugerahi bandang imajinasi dan  imajinasi itu bersifat  personal sangat pribadi. Serta imajinasi itu dibentuk oleh banyak hal. Misalnya, pengalaman hidup, kecerdasan intelektual, dan seterusnya. Baik yang digali sendiri maupun yang dipinjam dari imajinasi orang lain.Jadi sangat wajar bila kemudian perbedaan sangat rajin menampakkan dirinya di setiap celah kehidupan bermasyarakat.

Tentang beda kepala beda isi ini coba kita lihat kutipan saya dari salah satu episode perdebatan gahar mereka malam ini :

La Iwan :
Ko percaya Tuhan itu ada atau tidak ??

La Bachi :
Percaya toh..

La Iwan :
Ko bisa buktikan kalau Tuhan itu ada ?

La Bachi :
Ini alam dan segala isinya ...ko mau bukti apa lagi ??

La Iwan :
Tidak..jangan kasih bukti yang begitu,  itu tidak empiris, sa nda mau bukti yang pake logika. saya minta bukti nyata.. misalnya begini.. Sa percaya ada walikota Makassar, buktinya sa pernah lihat dia...(sambil melirik ke saya dengan senyum-senyum tipis penuh kemenangan)

Saya :
(Mengangguk-angguk sambil mengunyah-ngunyah..martabak di tangan kanan gelas coca cola di tangan kiri)

La Bachi :
(mata melotot, Dahi berkerut 13 lipatan, mulut komat-kamit, geraham menggeretak, tangan mengepal, mulut sedikit berbusa #mudah-mudahan penyakit ayannya tidak kambuh malam ini nih anak) ...kafir kamu ini eh ko nda percaya Tuhankah Iwan??

Saya :
(sambil mengunyah..) jangan begitu laa..salah satu yang membatalkan keIslaman kita itu menyebut sesama muslim kafir..ko syahadat ulang itu...sekarang sa tanya kau..ko pernah lihat otakmu sendiri Bachi ?

La Bachi :
Tidak pernah (masih dengan raut orang bingung pada umumnya)

Saya :

Ooo..berarti otakmu tidak ada...(masih tetap mengunyah dengan santai)

La Bachi :
????????

La Iwan :

????????? juga....
 (Cukup sampai disini dulu debat yang dipublikasikan selanjutnya akan menyusul di note berikutnya)

Terkadang manusia begitu naif memandang suatu permasalahan dengan metode "goyang ngebor Inul" berfokus pada satu titik tertentu hingga ke lapisannya terdalamnya tanpa melihat hal-hal lain di sekitarnya yang mempengaruhi tidak mencoba berpikir dengan metode yang saya istilahkan "melihat panorama alam dari tempat  yang tinggi" dari sana kita bisa melihat lebih bebas,  luas, menyeluruh, dan akhirnya cakrawala berpikir seperti sisi kaca berlian yang membuat perspektif tentang kosmik terpancar ke segala arah dan berimbang.

Berdebat mungkin adalah hobi paling murah meriah dari para civitas akademika, hanya butuh waktu dan beberapa orang manusia maka jadilah forum, masalah tempat boleh dimana saja selain di toilet dan kamar tidur pak SBY tentunya karena sebelum sempat berdebat anda sudah di sniper oleh Paspampres. Sayangnya saya tidak termaktub dalam komunitas yang menggemari hobi berdebat ini. Karena saya bukan aktifis sehingga mungkin cara penalaran saya sedikit lebih otentik dan orisinil dari mereka para aktifis yang kebanyakan adalah mesin foto copy yang bertintakan berliter-liter doktrin organisasinya. Adapun motif dari berdebat atau adu argumentasi itu sendiri menurut saya begitu beragam ada yang ingin menyamakan pendapat atau sharing pendapat, mencari kebenaran,  ada yang bermotifkan konsep bunuh konsep, ada yang ingin memaksakan ideologinya diakui khayalak, dan parahnya bahkan ada pula yang bermotif kembang-kembang pink..(oh salah lihat.. itu celana boxernya la bachi).. dan banyak juga yang sekadar iseng singkatnya hanya mau pamer saja dengan mengumbar syahwat intelektualitasnya hingga penyimak terkagum-kagum terpesona sampai berceceran air liur menetes dari mulutnya hingga rontok semua saraf-saraf mereka akibat mencoba menalar setiap dogma, postulat dan dalil yang dibingkai dengan kata-kata ilmiah yang dicomot dari berbagai referensi disajikan dengan begitu persuasif  dalam berdialektika bergaya bak orator ulung padahal copas jie kodong..hehe.

Untuk berdebat amunisi yang disiapkan bukan sekedar se-tronton referensi-referensi ilmiah namun yang lebih penting adalah daya nalar dan logika karena tanpa itu ibaratnya kita adalah tentara di medan perang yang memiliki segudang peluru tapi tak tahu jenis senapan kaliber apa yang harus digunakan. Baru sekarang saya tersadar mengapa selama 12 tahun mengenyam pendidikan dasar otak ini dijejali dengan berbagai rumus-rumus ilmu eksakta (ilmu pasti alias hitung-hitungan) yang dulunya sering saya anggap hal paling tidak berguna yang merepotkan dan terpaksa harus dihapal dan dipahami, manfaatnya ternyata adalah agar otak terbiasa kritis, membiasakan jaras-jaras saraf mencocok-cocokkan brankas memory dan paswordnya hingga  puzzle-puzzle logika atau nalar yang berserakan dapat tersusun rapi sesuai urutannya.

Harus diakui pula banyak disiplin ilmu dan hal-hal positif yang lahir dari rahim debat dan kritik ilmiah tersebut terlebih di negara demokrasi seperti Indonesia ini debat dan kritik yang membangun sangatlah diperlukan sebab debat dan kritik sosial adalah paru-paru dari demokrasi itu sendiri. Asal para debat-ers ini mengerti dan paham aturan main serta tata krama dalam berdebat, tak selamanya debat itu identik dengan urat leher yang menegang, gemeretak rahang, hingga intonasi suara yang tinggi. Santun, elegan, ilmiah dan kritis saya pikir adalah kombinasi yang jauh lebih ideal. Faktanya yang sering terjadi di bangsa Indonesia yang sering membangga-banggakan demokrasi dan budaya ketimurannya ini adalah perdebatan sering berakhir buntu, kongres PSSI adalah contoh paling gres betapa tidak dewasanya dan betapa vandalistisnya anak-anak bangsa yang mengaku berpendidikan itu..bede' ... Itulah yang terjadi bila debat disusupi oleh muatan politik dan kepentingan pribadi atau golongan. Sejatinya setiap para debat-ers sebelum terjun ke forum haruslah melepas terlebih dahulu "jubah-jubah" almamater, golongan atau backgroundnya yang bersifat personal sehingga argumen yang dikemukakan dapat lebih rasional, logic dan murni hasil penalarannya tanpa tendensi kepentingan apapun.

Klimaks dari sebuah debat adalah lahirnya kesepakatan atau solusi, nah masalahnya disini seringkali sebagian besar pada debat-ers terjebak dalam anggapan bahwa dalam sebuah debat harus ada yang kalah dan  menang, ideologi yang menang dijadikan kesepakatan yang dianggap paling benar dan solutif serta yang kalah di kali nol. Padahal kesepakatan tidak serta merta berarti kesepahaman dan yang berbeda harus menjadi sama, sebuah perdebatan tidak harus menghasilkan sebuah kebenaran yang tunggal karena bisa saja melahirkan kesepakatan yang tidak memihak salah satunya dan memilih jalan tengah, atau dengan kata lain produk akhir dari perdebatan juga bisa tetap melahirkan perbedaan yang kompromistis antar kedua belah pihak.

Bahwa manusia seringkali merasa dirinya dan pemahamannya adalah yang paling benar itu adalah fakta sehingga kerap terjadi silang pendapat antar sesama padahal manusia mungkin hanya tahu tentang apa yang baik menurut mereka dan belum tentu itu benar.
Karena kebenaran adalah kata yang bertahta di langit dengan Allah SWT sebagai pemiliknya dan kebenaran adalah Allah SWT itu sendiri...

To be continued...hoaammm..ngantukkk...!!!

Ryo
Makassar jelang adzan Shubuh
7 Juni 2011
(Martabak di tangan kanan, coca cola di tangan kiri)

The Truth Behind The Lies




Entah sudah berapa kata kutulis
Menampar dan melempar namamu
Hingga menggelepar hiu di samudera …

Entah sudah berapa dalam pula
Mengubur rapat namamu
Hingga mekar semerbak di kerak bumi

Dan entah sudah berapa jauh
Kuberlari membuang namamu
Hingga retak sudah atap langit

Namun engkau selalu hadir dengan air mata
Membasahi marahku membasuh perih
Maka menangislah langit
Di bumi hatiku

Perlahan dalam amarah
Kugenggam jemari tanganmu
Kucoba merengkuh bahumu
Namun engkau terlepas
Mengawan dalam kabut

Benarkah hadirmu hanya ilusi semu?
Tapi mengapa...
Di pipiku membekas ..
Jejak hangat sentuhan jemarimu...

Bait Pertama


Setelah kuziarahi segenap kenangan dalam potret tua yang berdebu..
Kutahu aku cukup tangguh..
Sebab aku memiliki sekuncup senyummu..
Ingin berdamai dengan takdir bersamamu..
Menikmati hangatnya bahagia dalam perwujudan..
Berharap kaulah bait pertama sajak cinta ini..

Saat impian melebihi batas mimpi..
Ketika asa melebihi batas cita-cita..
Aku tak pernah takut untuk mencinta..
Tak akan pernah..
Untukmu satu-satunya hati telah kutitipkan..
Padamu sang bait pertama dan kini tanpa untaian tanda tanya..


Waktu telah bercahaya bersama gemintang yang tersesat..
Aku ingin dekat denganmu namun jarak sedang tak berpihak..
Tuhan...
Sungguh dirinya adalah mahluk-Mu dalam sosok yang terindah..
Engkau titipkan damai hatiku dalam suaranya..
Hingga debar jantungku makin deras..

Jikalau dahan tak meminta daun untuk tetap tinggal..
Biarkan angin membawanya jauh..
Meninggalkan sesal pada ranting..
Yang kemudian tumbuh subur bersama serbuknya..
Kembangkan jemarimu biarkan kujabat erat..
Tak akan kulepas lagi genggamanmu..
Karena kau bait pertama kisah hidupku kini..

Syahdan Malam

Apa saja yang membuatmu bahagia
Telah ku lakukan untukmu
Demi mengharapkan cintamu

Kini ku bagai menanti datangnya pelangi
Di malam hari yang sepi

Ku sadari yang telah ku lakukan
Membuat hatimu terpenjara
Dan tak kuasa ku membukanya

Walau seluruh dayaku ingin bersamamu
Kunci hatimu patah tak terganti

Cinta tak harus memiliki
Tak harus menyakiti
Cintaku tak harus mati

Tak harus menyentuhmu
Membiarkan dirimu dalam bahagia
Itu ketulusan cintaku...

(Pelangi di Malam Hari by Vidi Aldiano)




Suara teduh nan merdu khas  Vidi Aldiano begitu dalam meresapi tiap centi lamunanku malam ini, begitu syahdu menenun setiap helai hembusan-hembusan tarikan nafas panjangku setiap kali ku pandangi detakan jarum jam tangan tanpa merk yang sudah tampak begitu lusuh ini.  Otakku pun sedang begitu gagap malam ini tak tahu harus berbuat dan berpikir tentang apa...entahlah..lalu tanpa harus repot-repot berpikir mengapa sampai sekarang PSSI belum memiliki ketua yang baru lagi pasca lengsernya puang NH mending buat tulisan iseng ini saja secepatnya dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya secepat akselerasi Javier 'Chicarito' Hernandez yang melewati kawalan David Luiz dan JT beberapa jam yang lalu...haha..yukkk...

Seolah tak pernah habis decak kagum dari gelembung-gelembung hatiku ini pada keindahan langit di malam hari termasuk malam ini saat kurelakan diri terhempas angin malam di lantai 3 rumah sederhanaku hanya untuk lebih dekat dengan temaram sinar bulannya. Sungguh sebuah lukisan mahakarya dari sang Pencipta yang bak sebuah masterpiece dari-Nya Tuhanku Sang Maha Kuasa yang begitu bernilali seni tinggi di kanvas langit. Rasi bintangnya, bulan sabitnya, gelap dan gulitanya, keheningannya, hembusan angin sejuknya begitu sempurna menyejukkan palung hati ini menelusup hingga ceruknya yang terdalam. Di saat sebagian orang mulai terkantuk-kantuk bersiap menuju tempat peristirahatan atau sebagian lagi malah telah terlelap sempurna masuk ke dalam gerbang alam mimpinya masing-masing, aku berusaha masih mau terus terjaga hanya karena tak ingin kehilangan momen menikmati keindahan malam hari seperti saat ini walaupun terkadang angin malam begitu gigir menjelajah tubuhku hingga terasa dinginnya sampai ke sumsum tulang meski sering pula keheningan dan gulitanya begitu mencekam membangkitkan fantasi-fantasi horor alam bawah sadar yang tak terkendali namun tak secuilpun kuhiraukan tak semilidetikpun kuperdulikan karena sungguh aku tak kuasa menahan candu untuk terus membunuh malam di setiap harinya sebab akulah sang pembunuh malam itu.. :)

Maka sepatutnyalah kuhaturkan sejuta syukur pada Allah SWT yang telah merotasikan bumi yang dapat berputar pada porosnya sehingga terciptalah siang dan malam. Coba pikir apa yang terjadi seandainya malam hari ini tak ada.. sungguh amat fatal sodara-sodara sekalian karena malam hari sangat sangat lah penting artinya buat aku, kamu, dia dan mereka..bahkan jauh lebih penting dari seorang Briptu Norman atau bahkan Justin Bieber sekalipun.. Karena ketiadaan mereka berdua tak akan berarti apapun bagi keseimbangan alam ini bagi keberlangsungan kehidupan ini bagi kemashlahatan umat di dunia ini. Tanpa Briptu Norman kita masih bisa hidup seperti biasanya kok, tetap bisa makan dan minum seadanya, tetap bisa tidur lelap, tetap bisa jalan-jalan sesuka hati, tanpa Justin Bieber pun kita masih bisa tetap bangun pagi dan menikmati secangkir teh/kopi/susu sesuai selera masing-masing sambil menonton berita atau membaca koran,  tetap juga bisa nonton siaran langsung sepakbola dengan seru seperti partai MU VS CHELSEA tadi, tetap bisa berkencan ria dengan pasangan masing-masing dan jutaan "masih bisa tetap' yang lainnya.. Yah intinya tanpa mereka berdua bumi dan isinya tetap eksis kok,  karena kita semua dan mereka berdua,sebenarnya sama peran dan statusnya di alam ini hanya sebagai penghuni sementara yang menjalankan titah sebagai khalifah di muka bumi jadi makna popularitas tak lebih hanyalah sebuah kenisbian dalam kehidupan yang sifatnya tak kekal dan tak abadi kawan... Namun coba bayangkan bila kehidupan  ini tanpa malam hari...wah wah..bisa sangat merugi bumi ini..sangat merugi manusianya terutama para remaja-remaja ababilnya...bayangkan mereka harus memakai tabir surya sepanjang hari, tak akan ada lagi yang namanya malam minggu alias saturday night, tak akan ada lagi malam ladys bin ladys night, tak akan ada lagi malam valentine, tak akan lagi ada lagu begadangnya bang Rhoma, tak akan ada lagi dunia dalam berita malam hari, tak akan ada lagi zodiak dan rasi bintang, tak akan ada lagi perhitungan bulan di langit, tak akan ada lagi Batman, tak akan ada lagi qiyamul lail yang menawarkan sejuta barokah itu, tak akan ada lagi malam seribu bulannya lailatul qadar, dan sejuta "tak akan ada lagi" yang lainnya.  Tak akan ada lagi duet Anang-Syahrini, karena memang Anang sudah memilih Ashanty, jadi dengan segala hormat saya menyarankan pada Syahrini agar berduet saja dengan Briptu Norman namun kalau aku bilang (pinjam gaya bahasanya Anang yang sebenarnya sangat mengkhianati kaidah ragam bahasa Indonesia yang baik dan benar) aku sangsi apakah perhiasannya yang sudah seperti toko aksesoris berjalan itu dan gaun mewah plus blowernya itu cocok untuk bergoyang India Caiya caiya ala Briptu Norman, sebuah paradoksal memang (paradoksal artinya bukan para dokter yang doyan main futsal..hehe..^_^ )

Malam hari sebenarnya menyimpan sejuta misteri, sejuta keajaiban, sejuta kharomah, yang bila saya tuliskan satu persatu mungkin akan sama panjangnya dengan naskah skenario sinetron CINTA FITRI yang sampai 8 session plus 2 session Ramadhan itu..hehe..coba kita lihat dari perspektif medis sajalah. Bahwa pada malam hari ternyata berlangsung siklus kehidupan dalam tingkat seluler yang berproses secara otonom tanpa kita sadari terutama proses detoksifikasi dan regenerasi sel-sel tubuh.

Sampai kemarin saya masih beranggapan bahwa ruhani malam hari adalah terletak pada bulan dan bintangnya namun malam ini saya pun tersedak dan menyadari dengan sepenuh hati ternyata syahdan malam itu berpuncak pada keheningannya di 1/3 dan 2/3 dari umurnya saat seluruh mahluk  bumi senyap dalam lelap  dan yang terdengar hanya derit pintu-pintu langit yg baru dibuka selebar-lebarnya menanti munajat tiap hamba yang menunaikan qiyamul Lail hanya untuk menghidupkan malam dan berakhlwat berdua bersama Allah SWT sebagaimana yang dikatakan dalam suatu hadits Qudsi, Allah berfirman, bahwa pada sepertiga malam terakhir Allah turun ke langit dunia untuk mendengarkan keluhan hamba-Nya yang mengeluh, untuk menerima taubat orang yang taubat dan permohonan maghfirah (ampunan) hamba-Nya yang memohonkan ampun. Maksudnya ialah bahwa hubungan kita dengan langit pada waktu malam adalah sangat-sangat dekat.

"Sesungguhnya ada waktu di malam hari yang tidak seorangpun dari seorang hamba yang berdoa pada saat itu untuk memohon kebaikan kecuali pasti akan Allah kabulkan.”  (HR. Muslim)

” Dan pada sebagian dari malam, maka sujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya pada bagian yang panjang dimalam hari.” (QS Al-Insan 76:26)

Jadi mari bangun shalat malam...mari begadang..maafkan saya bang Rhoma...

Bau-Bau , 9 Mei 2011
Dini hari...