Kamis, 07 Juli 2011

Bait Pertama


Setelah kuziarahi segenap kenangan dalam potret tua yang berdebu..
Kutahu aku cukup tangguh..
Sebab aku memiliki sekuncup senyummu..
Ingin berdamai dengan takdir bersamamu..
Menikmati hangatnya bahagia dalam perwujudan..
Berharap kaulah bait pertama sajak cinta ini..

Saat impian melebihi batas mimpi..
Ketika asa melebihi batas cita-cita..
Aku tak pernah takut untuk mencinta..
Tak akan pernah..
Untukmu satu-satunya hati telah kutitipkan..
Padamu sang bait pertama dan kini tanpa untaian tanda tanya..


Waktu telah bercahaya bersama gemintang yang tersesat..
Aku ingin dekat denganmu namun jarak sedang tak berpihak..
Tuhan...
Sungguh dirinya adalah mahluk-Mu dalam sosok yang terindah..
Engkau titipkan damai hatiku dalam suaranya..
Hingga debar jantungku makin deras..

Jikalau dahan tak meminta daun untuk tetap tinggal..
Biarkan angin membawanya jauh..
Meninggalkan sesal pada ranting..
Yang kemudian tumbuh subur bersama serbuknya..
Kembangkan jemarimu biarkan kujabat erat..
Tak akan kulepas lagi genggamanmu..
Karena kau bait pertama kisah hidupku kini..

Syahdan Malam

Apa saja yang membuatmu bahagia
Telah ku lakukan untukmu
Demi mengharapkan cintamu

Kini ku bagai menanti datangnya pelangi
Di malam hari yang sepi

Ku sadari yang telah ku lakukan
Membuat hatimu terpenjara
Dan tak kuasa ku membukanya

Walau seluruh dayaku ingin bersamamu
Kunci hatimu patah tak terganti

Cinta tak harus memiliki
Tak harus menyakiti
Cintaku tak harus mati

Tak harus menyentuhmu
Membiarkan dirimu dalam bahagia
Itu ketulusan cintaku...

(Pelangi di Malam Hari by Vidi Aldiano)




Suara teduh nan merdu khas  Vidi Aldiano begitu dalam meresapi tiap centi lamunanku malam ini, begitu syahdu menenun setiap helai hembusan-hembusan tarikan nafas panjangku setiap kali ku pandangi detakan jarum jam tangan tanpa merk yang sudah tampak begitu lusuh ini.  Otakku pun sedang begitu gagap malam ini tak tahu harus berbuat dan berpikir tentang apa...entahlah..lalu tanpa harus repot-repot berpikir mengapa sampai sekarang PSSI belum memiliki ketua yang baru lagi pasca lengsernya puang NH mending buat tulisan iseng ini saja secepatnya dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya secepat akselerasi Javier 'Chicarito' Hernandez yang melewati kawalan David Luiz dan JT beberapa jam yang lalu...haha..yukkk...

Seolah tak pernah habis decak kagum dari gelembung-gelembung hatiku ini pada keindahan langit di malam hari termasuk malam ini saat kurelakan diri terhempas angin malam di lantai 3 rumah sederhanaku hanya untuk lebih dekat dengan temaram sinar bulannya. Sungguh sebuah lukisan mahakarya dari sang Pencipta yang bak sebuah masterpiece dari-Nya Tuhanku Sang Maha Kuasa yang begitu bernilali seni tinggi di kanvas langit. Rasi bintangnya, bulan sabitnya, gelap dan gulitanya, keheningannya, hembusan angin sejuknya begitu sempurna menyejukkan palung hati ini menelusup hingga ceruknya yang terdalam. Di saat sebagian orang mulai terkantuk-kantuk bersiap menuju tempat peristirahatan atau sebagian lagi malah telah terlelap sempurna masuk ke dalam gerbang alam mimpinya masing-masing, aku berusaha masih mau terus terjaga hanya karena tak ingin kehilangan momen menikmati keindahan malam hari seperti saat ini walaupun terkadang angin malam begitu gigir menjelajah tubuhku hingga terasa dinginnya sampai ke sumsum tulang meski sering pula keheningan dan gulitanya begitu mencekam membangkitkan fantasi-fantasi horor alam bawah sadar yang tak terkendali namun tak secuilpun kuhiraukan tak semilidetikpun kuperdulikan karena sungguh aku tak kuasa menahan candu untuk terus membunuh malam di setiap harinya sebab akulah sang pembunuh malam itu.. :)

Maka sepatutnyalah kuhaturkan sejuta syukur pada Allah SWT yang telah merotasikan bumi yang dapat berputar pada porosnya sehingga terciptalah siang dan malam. Coba pikir apa yang terjadi seandainya malam hari ini tak ada.. sungguh amat fatal sodara-sodara sekalian karena malam hari sangat sangat lah penting artinya buat aku, kamu, dia dan mereka..bahkan jauh lebih penting dari seorang Briptu Norman atau bahkan Justin Bieber sekalipun.. Karena ketiadaan mereka berdua tak akan berarti apapun bagi keseimbangan alam ini bagi keberlangsungan kehidupan ini bagi kemashlahatan umat di dunia ini. Tanpa Briptu Norman kita masih bisa hidup seperti biasanya kok, tetap bisa makan dan minum seadanya, tetap bisa tidur lelap, tetap bisa jalan-jalan sesuka hati, tanpa Justin Bieber pun kita masih bisa tetap bangun pagi dan menikmati secangkir teh/kopi/susu sesuai selera masing-masing sambil menonton berita atau membaca koran,  tetap juga bisa nonton siaran langsung sepakbola dengan seru seperti partai MU VS CHELSEA tadi, tetap bisa berkencan ria dengan pasangan masing-masing dan jutaan "masih bisa tetap' yang lainnya.. Yah intinya tanpa mereka berdua bumi dan isinya tetap eksis kok,  karena kita semua dan mereka berdua,sebenarnya sama peran dan statusnya di alam ini hanya sebagai penghuni sementara yang menjalankan titah sebagai khalifah di muka bumi jadi makna popularitas tak lebih hanyalah sebuah kenisbian dalam kehidupan yang sifatnya tak kekal dan tak abadi kawan... Namun coba bayangkan bila kehidupan  ini tanpa malam hari...wah wah..bisa sangat merugi bumi ini..sangat merugi manusianya terutama para remaja-remaja ababilnya...bayangkan mereka harus memakai tabir surya sepanjang hari, tak akan ada lagi yang namanya malam minggu alias saturday night, tak akan ada lagi malam ladys bin ladys night, tak akan ada lagi malam valentine, tak akan lagi ada lagu begadangnya bang Rhoma, tak akan ada lagi dunia dalam berita malam hari, tak akan ada lagi zodiak dan rasi bintang, tak akan ada lagi perhitungan bulan di langit, tak akan ada lagi Batman, tak akan ada lagi qiyamul lail yang menawarkan sejuta barokah itu, tak akan ada lagi malam seribu bulannya lailatul qadar, dan sejuta "tak akan ada lagi" yang lainnya.  Tak akan ada lagi duet Anang-Syahrini, karena memang Anang sudah memilih Ashanty, jadi dengan segala hormat saya menyarankan pada Syahrini agar berduet saja dengan Briptu Norman namun kalau aku bilang (pinjam gaya bahasanya Anang yang sebenarnya sangat mengkhianati kaidah ragam bahasa Indonesia yang baik dan benar) aku sangsi apakah perhiasannya yang sudah seperti toko aksesoris berjalan itu dan gaun mewah plus blowernya itu cocok untuk bergoyang India Caiya caiya ala Briptu Norman, sebuah paradoksal memang (paradoksal artinya bukan para dokter yang doyan main futsal..hehe..^_^ )

Malam hari sebenarnya menyimpan sejuta misteri, sejuta keajaiban, sejuta kharomah, yang bila saya tuliskan satu persatu mungkin akan sama panjangnya dengan naskah skenario sinetron CINTA FITRI yang sampai 8 session plus 2 session Ramadhan itu..hehe..coba kita lihat dari perspektif medis sajalah. Bahwa pada malam hari ternyata berlangsung siklus kehidupan dalam tingkat seluler yang berproses secara otonom tanpa kita sadari terutama proses detoksifikasi dan regenerasi sel-sel tubuh.

Sampai kemarin saya masih beranggapan bahwa ruhani malam hari adalah terletak pada bulan dan bintangnya namun malam ini saya pun tersedak dan menyadari dengan sepenuh hati ternyata syahdan malam itu berpuncak pada keheningannya di 1/3 dan 2/3 dari umurnya saat seluruh mahluk  bumi senyap dalam lelap  dan yang terdengar hanya derit pintu-pintu langit yg baru dibuka selebar-lebarnya menanti munajat tiap hamba yang menunaikan qiyamul Lail hanya untuk menghidupkan malam dan berakhlwat berdua bersama Allah SWT sebagaimana yang dikatakan dalam suatu hadits Qudsi, Allah berfirman, bahwa pada sepertiga malam terakhir Allah turun ke langit dunia untuk mendengarkan keluhan hamba-Nya yang mengeluh, untuk menerima taubat orang yang taubat dan permohonan maghfirah (ampunan) hamba-Nya yang memohonkan ampun. Maksudnya ialah bahwa hubungan kita dengan langit pada waktu malam adalah sangat-sangat dekat.

"Sesungguhnya ada waktu di malam hari yang tidak seorangpun dari seorang hamba yang berdoa pada saat itu untuk memohon kebaikan kecuali pasti akan Allah kabulkan.”  (HR. Muslim)

” Dan pada sebagian dari malam, maka sujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya pada bagian yang panjang dimalam hari.” (QS Al-Insan 76:26)

Jadi mari bangun shalat malam...mari begadang..maafkan saya bang Rhoma...

Bau-Bau , 9 Mei 2011
Dini hari...

Senin, 25 April 2011

Aurat Sang Penjaga Misteri

Saat menyebut kata "wanita" maka seorang lelaki di belahan dunia mana pun akan berpikir tentang keindahan, pesona, dan misteri yah wanita adalah simbol keindahan dunia, Rasulullah pun mengiyakan dengan sabdanya bahwa wanita shalihah adalah sebaik-baiknya perhiasan dunia. Wanita juga selalu menyimpan sejuta misteri yang akan selalu pula sangat sulit untuk sekedar dimengerti oleh logika setiap kaum lelaki. Bagaimana tidak, di saat wanita mengatakan "iya" maka itu bisa saja berarti penolakan halus baginya sebaliknya di saat mengatakan "tidak" bisa saja itu berarti anggukan setujunya dalam hati, seperti itulah wanita selalu ingin dimengerti dengan caranya sendiri, di satu saat ia bisa terlihat tegar sekokoh batu karang di tepi samudera namun sedetik kemudian dia bisa menjadi mahluk paling rapuh di dunia yang hanya punya air mata sebagai simbol ketakberdayaannya. Namun, di balik stigma sebagai kaum yang lebih lemah sebenarnya wanita adalah satu-satunya mahluk yang memiliki segudang senjata rahasia untuk melumpuhkan sang anak cucu Adam para lelaki di seluruh planet bumi ini. Wanita-wanita semodel RA Kartini, Margareth Thatcher, Lady Diana, ataupun Oprah Winfreya adalah contoh beberapa wanita yang begitu fenomenal di bidangnya pada zamannya masing-masing.

Roda waktu terus berputar, begitupun roda zaman terus bergulir hingga secara tak sengaja menggilas peradaban tanpa ampun. Hari ini, begitu banyak wanita Indonesia yang dapat membuat seorang RA Kartini meratap pilu dari tempat peristirahatannya di tanah suci ibu pertiwi. Lihatlah maraknya pergaulan bebas, seks bebas, hamil di luar nikah, aborsi,  putus sekolah dan pernikahan dini yang berpotensi pula menjadi perceraian dini adalah menu paket komplet berantai yang sedang menjadi trend di era kekinian. Jika berpikir lebih bijak tak perlu heran melihat fenomena ini ketika mengamati cara mereka berpakaian atau berbusana. Atas nama seni dan mode maka pakaian setengah jadi rela mereka pakai ke tempat umum, baju kekecilan dipamer ke mall, rok yang penjahitnya kekurangan kain dikenakan ke pesta, tank top yang harusnya dipakai di dalam rumah saja malah digunakan ketika hang out malam hari,  resiko masuk angin pun tak terhindarkan dan inilah yang justru saya sebut sebagai kecelakaan fashion. Bukan artis, model apalagi...tapi terobsesi menjadi pusat perhatian khalayak ramai sayangnya dengan cara yang salah inilah yang saya istilahkan "syndrom selebritis wanna be", naudzubilllah...

Sungguh aneh tapi nyata melihat aurat berserakan di hampir seluruh tempat umum dan pusat keramaian seperti tak ada yang punya layaknya daun kering atau struk belanjaan yang merupakan barang tak penting yang lazim ditemukan secara iseng di jalanan. Lekukan-lekukan indah yang dipajang bebas itu seperti memiliki tulisan imajiner berkekuatan medan magnet tak terhingga dengan kalimat "wahai semua lelaki menataplah kesini" lalu menjadi tangan virtual yang melambai-lambai memelas pada setiap anak Adam untuk menoleh entak sejenak atau berjam-jam sepuasnya mempersilahkan mereka  berimajinasi seliar-liarnya mau sambil mata merem melek, lidah melet-melet, atau sambil jingkrak-jingkrak sampai kayang pun boleh pokoknya sesuka hati  karena ini tontonan GRATIS dari mereka kawan !!! Padahal para wanita ini sebenarnya juga tidak begitu nyaman dengan pakaian itu, pergerakan menjadi terbatas, bernafas pasti sesak,  badan miring sedikit saja harus sibuk merapikan dan menutup sini situ tapi kok mereka tetap bebal untuk memakainya..Huufftt...seandainya rasa malu pada aurat itu dijual di alfa mart pasti akan kuborong untuk mereka semua tanpa tersisa biar sadar mereka biar sadar auratnya biar sadar otaknya biar sadar hatinya pokoknya mereka harus dipaksa biar sadar sebab jika terus-terus seperti itu maka akan makin banyak laki-laki yang menjadi korban dibuat tidak sadar oleh mereka.

Hakekatnya aurat sebenarnya adalah penjaga " kemisterian " dari wanita itu sendiri. Semakin kau buka auratmu, maka akan semakin habislah pesonamu, rahasiamu, misterimu, chemistry-mu, dan martabatmu. Itu berbanding terbalik bila kau simpan rapi auratmu, tutup rapat, pergunakan sebagaimana mestinya, maka dirimu akan bernilai tinggi, penuh pesona dan chemistry.
Begitulah adanya...
Punahnya misteri itu meniscayakan punahnya kesakralanmu. Celakanya, sadar atau tidak, engkau sendirilah yang membuka kode-kode rahasia kesakralanmu, hingga kelak hanya menyisakan sesal tiada bertepi sepanjang hayatmu...
Simpan auratmu !!!
Memperlakukan setiap bagian dirimu sebaik-baiknya, pada tempatnya, sepenuhnya mencerminkan penghargaanmu pada pesona dirimu sendiri. Mana mungkin kamu akan dihargai orang lain jika kamu tidak bisa menghargai dirimu sendiri? Ah, klise sekali! Bagaimana mungkin kamu minta tidak digodain orang lain sementara kamu begitu entengnya pergi ke jalanan dengan memamerkan (maaf) pangkal pahamu, (maaf lagi)  belahanan dadamu, juga (maaf yang terakhir) warna celana dalammu?
Begitu kau umbar auratmu, sama halnya kamu memekik ke semua orang: “Ayoo..ayooo…puaskan matamu dengan auratku nih. Ayoo..ayooo terbangkan imajimu dengan auratku nih….”
Auratmu adalah martabatmu! Ini diktumnya. Bila kau rawat martabatmu, maka kau pun akan terpelihara sebaik-baiknya. Bila kau umbar auratmu, berarti kau telah mencampakkan martabatmu.
Atas nama apa pun! Dan ingatlah bahwa mayoritas penghuni neraka datang dari kaum mu wahai para wanita maka berhati-hatilah waspadalah seperti pesan bang napi karena kejahatan bukan hanya karena ada niat dari pelakunya tapi karena juga adanya kesempatan... waspadalah...!!!

Maka tolaklah dengan tegas ketika kekasihmu yang engkau cintai sekalipun memintamu untuk bersentuhan dan seterusnya apalagi sampai membuka auratmu karena itu sama halnya mengungkap misterimu sebagai manusia bahkan dengan dalih atas nama cinta sekalipun yang mereka bisikkan dengan manis di telingamu yang menumpulkan semua panca inderamu setiap harinya, Cinta yang tulus takkan meminta apa pun, apalagi dengan paksaan, sungguh itu bukanlah cinta sejati, tetapi birahi sejati. Menuruti kata birahi, dijamin tak akan ada habisnya hingga kau biarkan dirimu terkapar tanpa daya dan pesona lagi.

Karena kesakralan itu hanya khusus diperuntukkan bagi pendamping hidupmu kelak, imam bagimu nanti jadi simpanlah auratmu baik-baik, gunakan seperlunya tutupi selebihnya... maka jagalah misterimu itu saudariku... !!!

Wahai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang-orang mukmin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka. yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk di kenal karena itu mereka tidak di ganggu.Dan Allah adalah maha pengampun dan penyayang. (Al Ahzab.59).



Sabtu, 23 April 2011

Starry - Sky



Ketika aku berjalan pada waktu yang kian melusuh...
Melintasi jembatan hidup dengan pijar harap yang kian redup...
Membaca kidung mimpi dalam malam yang kian berdendang...
Aku pun berusaha menggembalakan hati yang kian berkabut...
Dengan nafas yang kian legam..
Mengguratkan asa pada rinai hujan, menggerimis bersama kenangan...


Kau datang dengan sebentuk lentera jiwa ini...
Membuyarkan gulita zaman di sepanjang jembatan hidup ini...
Tumbuhkan benih kasih dalam kemaraunya hati ini...
Lalu kau berikan sepasang tangan lembut mengangkat raga ini...
Mengajakku mengejar singgasana langit dengan genggaman erat di jemari ini...
Mengayunkan cerita pada tiang yang kokoh, mendaki tebing-tebing curam menuju surga hatimu...


Cintaku pun mengembara bersama tawamu yang terbang ke angkasa..
Menyapa Tuhan dan malaikat yang telah mengerti, untuk siapa aku berada...
Sungguh takdirmu untukku dan takdirku untukmu...
Maka janganlah pernah engkau tanyakan...
"Mengapa langit  kita di ujung hari ini begitu bercahaya?"


Renungan Malam Minggu


Benar nian anggapan awam bahwa malam minggu adalah malam yang sungguh panjang. Ditemani sebotol coca-cola dan alunan musik instrumental dengan volume rendah aku pun menikmati malam panjang ini dengan melahap habis hampir seluruh siaran langsung sepakbola berbagai liga di benua biru sana. Sebenarnya hari ini adalah hari yang cukup melelahkan, lumayan membuat seluruh persendian seperti aus kekurangan pelumas, otot-otot kaku seperti seluruh sarafnya membebal, otak cukup penat oleh gelayutan urusan dan balutan pikiran yang mengawang dalam genderang malam ini, mata ini pun kian meredup rasanya seperti kedua bulu mata ini tak sabar lagi memelas sedari tadi memohon untuk segera dikawinkan namun aku tak menghiraukan derita mereka yang sebenarnya adalah deritaku pula, sebab dahaga akan tontonan sepakbola bermutu sungguh begitu menggerayangi benak ku malam ini meski aku harus merelakan bahwa partai bigmatch Lazio vs Inter Milan tak disiarkan oleh Indosiar. Sungguh terlalu...!!!

Kemudian aku begitu nyaring dalam hati memotifasi diri bak seorang Andri Wongso, mensugesti pikiran sendiri dengan logika-logika formal ala Maria Teguh, berusaha menantang arus idealisme tentang jam tidur dengan mengobrak-abrik mind set normalitas malam hari dan sketsa pikiran tentang fisiologis tubuh, aku ingin menjadi sebuah anomali dari populasi mayoritas dalam sebuah komunitas sosial. Di saat orang-orang terlelap aku ingin terus tersadar untuk membunuh waktu dan keheningan malam ini. Singkat kata singkat cerita aku ingin begadang malam ini bang Rhoma..Izinkanlah untuk malam ini saja wahai satria bergitar tua...

Berbekal semangat hati, kebulatan tekad dan keteguhan pikiran akupun berhasil terjaga sepanjang malam ini, membangkitkan potensi dan menyepuh sisa-sisa energi cadangan yang terpendam dalam raga ini.  Sejenak saya teringat pada kisah motifasi dari sebuah buku yang judul dan nama pengarangnya begitu enggan mampir lebih lama di memori ini, yah aku lupa kawan..sungguh aku seorang pelupa tak beradab... Tapi akan kucoba untuk menceritakannya dengan versiku sendiri...

Alkisah ada seorang petugas kebun binatang menangkap seekor gajah. Kemudian ke empat kaki gajah ini dibelenggu dengan rantai yang terbuat dari besi. Setiap hari, gajah berusaha melarikan diri. Namun setiap kali dia melompat, si gajah selalu terjatuh. Hal ini terjadi berulang-ulang. Sebulan kemudian, rantai besi itu dilepaskan dan diganti dengan tali rafia yang tipis. Menurut kita, apakah kali gajah bisa melarikan diri ? Ternyata gajah tadi tetap melompat dan tetap terjatuh seperti semula. Apakah yang terjadi ? Bukankah gajah semestinya mampu dengan kekuatannya untuk memutus tali rafia tadi ? Jawabannya adalah ternyata waktu sebulan telah mampu membuat sketsa di otak gajah bahwa dia tidak mampu melarikan diri. Meskipun diikat dengan tali rafia namun di otaknya, dia merasa masih diikat dengan belenggu rantai. Percobaan yang hampir mirip dengan cerita di atas dilakukan pada kutu loncat. Sebelum dia ditangkap, kutu loncat bisa melompat setinggi 300 kali lebih tinggi dari tinggi dirinya. Si kutu loncat ini dikurung di dalam kotak korek api. Pada bulan berikutnya, dia dibebaskan. Tebak, apa yang terjadi ? Kali ini si kutu loncat hanya bisa melompat setinggi kotak korek api. Perhatikan, waktu sebulan telah menjadikan dia melupakan potensi besar yang telah dimilikinya.

Disadari atau tidak sesungguhnya dalam kehidupan, seringkali kita juga berada dalam kondisi yang serupa. Sketsa pikiran atau mind set kita terperangkap dalam kotak korek api buatan kita sendiri. Terbelenggu dengan bayangan rantai yang kita ciptakan sendiri. Sehingga rantai-rantai itu membuat kita tidak berhasil untuk maju.

Rantai belenggu ini juga bisa berasal dari lingkungan kita. Sebenarnya kita mempunyai potensi yang luar biasa. Tapi teman-teman mencela ketika kita menunjukkan karya kita. Keluarga yang tidak mendukung akan kemampuan kita. Lambat laun akhirnya kita melupakan potensi besar yang kita miliki. Ironis sodara-sodara sekalian...Dan rantai belenggu sebenarnya begitu jamak muncul dalam keseharian aku, kamu, dia, mereka dan kalian yang membelenggu hampir seluruh potensi terpendam dan bakat alami kita baik secara disadari ataupun tidak padahal potensi-potensi itu hanya sedang terpendam serta hanya butuh diasah atau disepuh.

Faktualnya hari ini bagaimana begitu mudahnya kita temukan kalimat pembelaan "Aku masih terlalu muda, masih hijau .. masih banyak yang lebih tua dan berpengalaman." Atau sebaliknya. Merasa diri sudah tua. Biarkan yang muda yang berperan. Lihatlah contoh betapa "rantai" usia berhasil mengikat layang-layang mimpi kita untuk sampai ke langit. Padahal seorang anak kecil berjuluk the amazing child,  Doktor Sayyid Muhammad Husein Thabathaba'i hafal Al-Qur'an dengan tafsirnya. Dalam kesehariannya, dia berbicara dengan bahasa al-Qur'an berasal dari Iran dan berhasil meraih gelar doktor honoris causa termuda di dunia pada usia 7 tahun. Akan halnya ungkapan-ungkapan lirih "Aku hanya S-1", "Aku tidak tamat SMA", dan lain sebagainya menjadi alasan kita menjadi seorang yang biasa-biasa. Padahal kita sebenarnya punya potensi luar biasa namun potensi itu dikandangkan dan dipasung oleh sebuah "rantai" pendidikan . Perjalanan hidup Andrie Wongso bisa kita jadikan inspirasi. Pada saat kelas 6 SD, Andrie putus sekolah karena sekolah Tionghoanya ditutup Pemerintah Orde Baru. Untuk bertahan hidup, dia berjualan kue di pasar dan toko di Malang. Siapa sangka keuletannya membuahkan hasil. Kini dia dinobatkan sebagai Motivator No. 1 di Indonesia. Diapun bangga dengan gelarnya yang agak asing di telinga kita. Andrie Wongso SDTT TBS .. Sekolah Dasar Tidak Tamat Tapi Bisa Sukses !!, di Zaman Nabi SAW tidak ada satu sahabatpun yang bergelar Doktor atau Profesor bahkan Nabi sendiripun tidak, Beliau-Beliau hanya Home Schooling bersama Nabi tetapi sukses membawa visi kehidupan yang gemilang menjadi pedoman seluruh umat Muslim hingga hari ini.

Contoh lainnya adalah bagaimana " kotak" kecacatan atau kekurangan fisik memenjarakan dalam jeruji maya potensi teman-teman kita yang kurang beruntung. Bagi sebagian orang, menyerah karena keterbatasan fisik atau kesehatan adalah hal yang wajar. Mereka berhak untuk dikasihani karena ketidaksempurnaannya. Tapi bagi mereka yang bermental pejuang, tak ada satupun yang mampu membelenggunya. Selama raga masih ada, selama itu pula derap perjuangan akan terus dilangkahkan. Setidaknya untuk orang seperti Syaikh Ahmad Yasin, Sang Pemimpin Hamas. Beliau sangat ditakuti oleh Israel, hingga kematian beliau dianggap sebagai salah satu puncak kemenangan mereka. Padahal beliau adalah seorang yang tua renta berkursi roda. Bicaranya pun terbata-bata namun, bertolak belakang dengan keadaan fisiknya justru dalam keterbatasan itulah, beliau mampu menjadi poros penggerak utama perjuangan rakyat Palestina. Beliau dengan suara yang terbata-bata mampu menggerakkan ribuan pemuda Palestina untuk melakukan serangan Intifadhoh. Serangan yang kini dikenang dunia sebagai lambang perlawanan abadi tanpa henti melawan kebiadaban Israel. Lelaki tua renta ini, dari kursi rodanya .. mampu membuat para pemimpin Israel tidak bisa tidur nyenyak karena perasaan tidak amannya. Allahu Akbar !!

Rantai sadar atau tidak sadar yang membelenggu kita harus segera kita musnahkan. Ketahuilah bahwa rantai itu sifatnya maya. Kadang-kadang buatan kita sendiri seperti rasa malas, merasa tidak cukup diberi waktu, merasa belum cukup umur, masih ingin happy-happy dan banyak lagi yang lain. Cara menghancurkannya adalah dengan membuat daftar belenggu yang ada pada diri kita secara jujur. Sehingga kita bisa menghancurkannya. Membuang jauh-jauh rantai gajah dan kotak korek api yang memenjarakan kita. Bersiaplah untuk melakukan perjalanan menuju realita kesuksesan.

Tanamlah gagasan, petiklah tindakan. Tanamlah tindakan, petiklah kebiasaan. Tanamlah kebiasaan, petiklah karakter. Tanamlah karakter, petiklah nasib. Dimulai dari gagasan yang kita wujudkan dalam tindakan, kemudian tindakan itu kita lakukan berulang-ulang akan menjadi kebiasaan. Kebiasaan yang kita lakukan berkali-kali akan menjelma menjadi karakter, dan karakter inilah yang akhirnya mengantarkan kita kepada nasib. Jadi nasib kita, kita sendirilah yang menentukan. Nasib kita ada di tangan kita kawan...

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka ” ( Q.S : Ar-Ra’du : 11 )

Kamis, 21 April 2011

Kartini sang Emansipator, TKW sang Korban, Briptu Norman sang Fenomenal

Betapa memilukan nasib yang dialami oleh saudara-saudara kita yang mengadu nasib di negeri orang belakangan ini kian menambah panjang daftar drama tragedi di atas panggung sosial negeri ini. Ketika pulang ke kampung halaman bukan nasib baik yang dibawa sebagai oleh-oleh, melainkan serentetan derita dan cerita duka. Tak hanya itu. Tak sedikit para tenaga kerja wanita (TKW) yang harus menderita cacat lahir dan trauma batin seumur hidupnya. Bahkan, tak jarang harus ditebus dengan nyawa.

Sungguh, ini sebuah tragedi kemanusiaan yang seharusnya tak boleh terjadi di sebuah negeri yang santun dan beradab. Bisa jadi, R.A. Kartini yang bermimpi untuk memuliakan martabat dan derajat kaum perempuan, akan terus meratap di alam keabadian menyaksikan nasib kaumnya yang tak pernah bergeser dari kubangan penderitaan. Bukan semata-mata lantaran kebodohan dan keterbelakangan kaumnya, melainkan juga keberpihakan penguasa yang abai menjaga kehormatan bangsanya.

Nasib tragis para TKW tak bisa dilepaskan kaitannya dengan lemahnya penguasa dalam melakukan deteksi dini terhadap para “maklar” TKW yang secara gelap terus beraksi melakukan transaksi nakal. Para calon TKW yang sebagian besar berpendidikan rendah seringkali tak sanggup keluar dari perangkap yang sengaja dipasang oleh para mafia TKW untuk mengeruk untung besar. Pemerintah bisa saja berapologi bahwa mereka telah memberikan advokasi dan perlindungan optimal terhadap para TKW. Namun, kita juga tidak bisa mengelak dari fakta bahwa para TKW gagal mendapatkan rasa aman dan bebas dari rasa takut setelah mereka melayani majikan-majikan “hitam” yang memperlakukan mereka tak lebih dari budak belian seperti pada zaman jahiliyah.

Atmosfer pengerahan massal para TKW ke luar negeri kian menggila ketika situasi sosial-ekonomi sebagian masyarakat kita yang berpendidikan rendah gagal terakomodasi oleh negara dalam bursa lapangan kerja. Alasan ekonomi jelas menjadi faktor utama. Para TKW rela bersusah-payah meninggalkan suami dan anak-anak semata-mata untuk mengubah nasib. Sementara, sang suami di rumah juga terpaksa harus menganggur akibat rendahnya akses mereka untuk bisa bersaing mendapatkan lapangan kerja. Satu-satunya cara untuk menolong dan menyelamatkan keluarga mereka dari lilitan persoalan ekonomi adalah melalui TKW. Maka, jadilah TKW sebagai pilihan hidup yang harus mereka lalui untuk mewujudkan mimpi mereka; bisa terhindar dari sindrom kemiskinan yang membelitnya. Namun, apa yang terjadi? Alih-alih bisa mewujudkan mimpi dan harapan; bisa hidup enak dan kepenak, mereka justru harus berhadapan dengan kebengisan zaman; dipermainkan oleh para mafia TKW, dan mesti berhadapan dengan majikan berhati busuk dan biadab.

Bercermin pada realitas anomali yang dihadapi oleh para TKW, kita jadi teringat “pemberontakan” pemikiran R.A. Kartini di tengah situasi feodalistik yang menelikungnya ratusan tahun yang silam. Melalui berbagai surat kepada sahabatnya, Abendanon, di negeri Belanda, Kartini mengkritisi kondisi sosial-budaya Jawa pada saat itu yang dinilai membuat ruang gerak kaum perempuan pribumi kian tak berdaya. Sebagian besar suratnya mengekspresikan keluhan dan gugatan, khususnya menyangkut budaya Jawa yang dianggap sebagai penghambat dan belenggu kemajuan perempuan. Kartini memimpikan kehidupan kaum perempuan Jawa yang memiliki kebebasan dalam belajar dan menuntut ilmu.

Surat-surat Kartini juga menyatakan harapan agar dirinya bisa seperti kaum muda Eropa, terbebas dari kungkungan penderitaan akibat belenggu adat dan tradisi yang membuat kaum perempuan Jawa tidak bisa bebas duduk di bangku sekolah, harus dipingit, dinikahkan dengan laki-laki yang tak dikenal, atau harus bersedia dimadu. Dengan caranya sendiri, Kartini terus berjuang untuk membuka mata hati dan pikiran kaumnya melalui berbagai program pemberdayaan diri agar kaum perempuan bisa berdiri sejajar dan setara dengan kaum pria.

Pemikiran Kartini, disadari atau tidak, telah memberikan inspirasi kepada kaumnya sehingga secara bertahap kaum perempuan kita bisa ikut berkiprah membangun peradaban yang lebih mencerahkan, terhormat, dan bermartabat. Kini, sudah tak terhitung lagi jumlah kaum perempuan yang sukses memegang posisi kunci, baik di sektor pemerintah maupun swasta. Namun, kita juga dibuat miris dengan banyaknya kaum perempuan kita yang harus bersikutat untuk menyelamatkan harga diri dan kehormatannya di negeri orang. Sungguh, ini sebuah “set-back” emansipasi yang telah digagas Kartini, sehingga kaumnya harus mengalami derita berkepanjangan di tanah seberang.

Dalam situasi demikian, diperlukan upaya revitalisasi serius terhadap pemikiran Kartini, sehingga roh, semangat, dan perjuangannya tetap hidup, tumbuh, dan berkembang di dada Kartini-Kartini muda. Penguasa yang memiliki otoritas dan tanggung jawab untuk melindungi warganya perlu mengkaji ulang terhadap kebijakan “ekspor” TKW ke luar negeri. Apa pun dalihnya, lebih-lebih kalau hanya sekadar untuk mendongkrak devisa, pengiriman TKW tanpa regulasi dan advokasi yang jelas hanya akan melahirkan repertoar tragis yang berkepanjangan. Yang tidak kalah penting, Kementerian Tenaga Kerja juga harus sigap untuk menindak mafia TKW yang selama ini telah menyengsarakan kaum perempuan kita di tengah cengkeraman majikan-majikan asing yang kehilangan nurani.

Sehari sebelum Hari Kartini ini di sebuah daerah di timur Indonesia tepatnya kota Gorontalo, terjadi konsentrasi massa yang tumpah ruah menyambut kepulangan sang Briptu fenomenal Norman "Khan" , arak-arakan dan pawai akbar yang dilakukan layaknya acara penjemputan pahlawan nasional atau artis paling tersohor dan bahkan mungkin melebihi ekspektasi publik terhadap kedatangan orang nomor 1 di negeri ini. Kian membuktikan betapa predikat "negeri terlatah" ternyata masih milik bangsa ini sodara-sodara sekalian. Sampai kapankah demam Norman ini akan berlangsung? sepertinya tak akan lama lagi akan halnya seperti prosesnya yang instan, apalagi mengingat betapa perhatian publik bangsa ini juga begitu mudah teralihkan. Kita tunggus saja nanti... !!! Namun di balik fenomena dan bakat entertainernya yang sebenarnya biasa-biasa saja namun menjadi spesial oleh karena seragam Brimob nya mungkin antena kritis kita harus tetap difungsikan. Bahwa media dan Norman idealnya menyeimbangkan publikasi dan pencitraan terhadap kehidupan pribadinya dan juga institusinya. Sebab bila ditelaah lebih lanjut sebenarnya fenomena Norman ini adalah moment terbaik nan langka guna memperbaiki citra dan institusi kepolisian sebagai pengayom dan mitra masyarakat dalam arti yang sebenarnya. Mungkin cukup dengan satu dua patah kata lah dari Norman memaparkan atau mensosialisasikan tentang program atau visi institusinya agar lebih memasyarakat ataupun dengan sebuah testimoni singkat menghimbau kepada teman-temannya sesama anggota POLRI untuk lebih hangat dan dekat dengan masyarakat, nah ITU...momen kecil seperti itu yang tak dilakukannya selama beberapa pekan di ibu kota bukan hanya sekedar nyengir, goyang India dan lipsing brader. Seperti halnya Kartini yang menjadi simbol kebangkitan dan emansipasi kaum wanita Indonesia maka Norman pun menjadi setitik oase di tengah kemaraunya kepercayaan dan ekspektasi masyarakat terhadap aparat hukum negeri ini, seperti Kartini yang berhasil membobol benteng tirani dan stigma miring terhadap kaum wanita, Briptu Norman pun seharusnya lebih pro aktif dalam upaya menghapus stigma negatif dan mengubah paradigma berpikir masyarakat terhadap kesatuannya.

Semoga momentum Hari Kartini 2011 bisa menjadi pemantik kesadaran kolektif bangsa kita untuk memosisikan kaum perempuan akar rumput menjadi lebih berdaya dan tak lagi ditelikung nasib akibat kebijakan penguasa yang kurang berpihak kepada rakyat kecil. Sungguh ironis kalau negeri yang besar dan kaya raya ini harus mendapatkan stigma sebagai lumbung TKW akibat kebijakan penguasa yang salah urus mengelola negara.

Dirgahayu kaum perempuan Indonesia... !!!
Habis gelap terbitlah terang... !!!

Selasa, 19 April 2011

Sepucuk Surat Untuk Tuhan

Malam ini cahaya bulan purnama begitu deras mengguyur langit, mengiringi berderitnya gerbang malam yang sepertinya akan mengunci pintunya lebih awal dengan hembusan angin dalam pusaran waktu yang sedemikian gigil hingga semakin menambah keringkihan malam ini. Mendesirkan jantungku dari balik tiang-tiang tak bertuan, nyaris membenamkan nafasku dalam lelah membuatku sejenak menyerahkan hari esok pada-Mu, entah akan datang ataukah tidak...



Tuhan...malam ini juga aku punya segenggam cerita, punya segudang tanya yang menggelisahkan nurani...sudikah Engkau mendengarkan meski ini mungkin adalah dosa???
Tuhan... bolehkah aku tahu apakah Engkau menyesal menciptakan sebentuk rasa bernama "cinta" yang selalu memiliki dualisme dalam hidup semisal positif dan negatif, tawa dan tangis, bahagia dan sedih, luka dan obat... Izinkan aku tahu Tuhan...wahai Allah SWT,  Tuhanku yang Maha Mengetahui...
Tuhan... marahkah Engkau jika cinta-Mu yang tulus tak jua kubalas sebagaimana mestinya???
Sungguh Engkau Maha Mengetahui yang terbaik bagiku ya Tuhan..karenanya bila Engkau mengharuskanku mengemban cerita ini, maka aku Ikhlas. Sebab aku tahu, tak banyak manusia terpilih yang Engkau uji dengan jalan ini, jalan yang mengajariku tentang satu hal, bersyukur...
Aku mengerti Tuhan...Engkau hanya sedang memberi cobaan semata untuk menambah amunisi kekuatanku entah itu lewat air mata yang mengalir, lewat rasa sakit ataupun lewat anugerah cinta yang terbit di ufuk hati ini.

Jika selembar kertas putih dapat dilipat, lalu mengapa qalbu hati yang katanya suci ini tak jua bisa terlipat Tuhan???
Apa mungkin jawabnya karena hati ini telah beku dan kaku...mungkin saja..sebelum kemudian cinta-Mu dan cintanya mencairkan dan melemaskan hati ini dan saat kulihatnya melintas dari kaca spion nalar ini maka kian sempurna hatiku tertekuk dalam tekstur mantra kasihnya..

Dan akhirnya, sekarang aku sedang mencinta, bolehkan aku beristirahat sebentar Tuhan??? Aku ingin singgah dalam hatinya, meneranginya dengan kasih yang suci, memuliakannya dengan kebahagiaan dan membelainya dengan kedamaian...Izinkan aku sejenak menyandarkan penat ini, sebentar saja sampai ia selesai mengusap seluruh peluh ini  dengan rahmat karunia kasih sayang-Mu..

Entahlah..sepertinya Aku ingin terus bersamanya walau tangkai tempat kami berdiri merapuh, meski harum kelopaknya tak lagi semerbak bahkan ketika takdir mematahkan jalan tak akan kuhiraukan, tak akan kulepas genggamannya karena sungguh aku tak ingin kehilangan se centi pun lembaran kisah bersama dirinya maka biarkan aku tetap mendekap senyumnya untuk selamanya dan kumohon jangan pernah tanyakan alasan untuk semua ini sebab pasti aku tak akan tahu jawabnya ya Tuhan, maka cukup berikan aku petunjuk tentang caranya...

Dengarkan aku Tuhan..
Dengarkan do'aku..

Ridhoi jalan ini ya Tuhan..
Tak ada maksud lain selain membahagiakannya dan memuliakannya karena sungguh ia adalah sepantas Hawa yang melengkapi keimanan Adam. Sampaikan salamku dari tulisan ini untuknya yang sedang tertidur lelap..Bisikkan dalam senandung mimpinya "Aku mencintainya" , Tuhan...dalam tasbih rindu-Mu..dalam mihrab cinta-Mu dekaplah kami dalam kasih-Mu karena kami berdua mencintai-Mu, sungguh mencintai-Mu wahai Engkau Sang Maha Menetapkan ...Amin Allahumma Amin..

Makassar, 20 April 2011
03 : 04 WITA